Manchester United berhasil mengalahkan tuan rumah Liverpool dengan skor 2-1, dan kemenangan tersebut setidaknya membuat “Setan Merah” menjauh dari kejaran “Si Merah” di zona Liga Champions.
Juan Manuel Mata membuka skor dalam 14 menit, dan posisi MU tampaknya semakin nyaman pada awal babak kedua ketika Steven Gerrard diusir hanya 41 detik setelah ia masuk dari bangku cadangan. Gol kedua yang menakjubkan dari Mata menempatkan tim tamu dalam kendali penuh.Namun, Daniel Sturridge memberikan tuan rumah secercah harapan dengan satu golnya di menit 69.
Liverpool akhirnya tidak bisa mengejar. Performa gemilang mereka pun harus berakhir di tangan kesebelasan yang terakhir kali mengalahkan mereka juga di Liga Primer pada akhir tahun lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Liverpool bermain dengan skema 3-4-3 andalan Brendan Rodgers yang mulai mereka populerkan (ironisnya) sejak mereka kalah 3-0 melawan MU di pertandingan pertama di Old Trafford. Namun sejak kekalahan tersebut, skema 3-4-3 Rodgers tidak pernah membuat Liverpool menderita satupun kekalahan di Liga Primer.

[Susunan pemain Liverpool dan Manchester United]
Sementara MU malah sudah lama move-on dari skema 3 bek dengan lebih sering bermain dengan 4 bek akhir-akhir ini. Semalam pun Louis van Gaal kembali bermain dengan empat bek dengan formasi 4-1-4-1, dengan Michael Carrick bermain sebagai gelandang bertahan statis.
Di babak pertama Liverpool hanya 38% menguasai bola, meskipun mampu menambah 10 persen lagi di akhir pertandingan, walaupun bermain dengan 10 orang sejak awal babak kedua. Rodgers ingin menyerang cepat dengan serangan balik pada babak pertama. Karena itu, penguasaan bola tidak terlalu penting. Trio penyerang mereka dibantu kedua full-back dan dua gelandang akan langsung menuju area pertahanan MU ketika berhasil merebut bola.
Untuk mengantisipasi hal ini Van Gaal justru memilih untuk tidak mundur dan berusaha mengejar kecepatan para penyerang lawan. Tahu timnya akan diserang balik, Van Gaal justru maju menekan pemain yang menguasai bola.
Liverpool memang bukan tim yang senang memainkan bola-bola panjang. Maka serangan balik cepat mereka pun tidak dilakukan dengan cara itu, melainkan dengan mengandalkan kecepatan para pemainnya, dengan kemampuan menggiring bola maupun operan-operan bawah yang cepat.
Hal inilah yang diputus oleh pemain MU di babak pertama. Sebelum bola masuk ke area pertahanan mereka, dan masih berada di gelandang atau pemain bertahan Liverpool, mereka langsung menekan dan membuat aliran bola berhenti.
Hal ini menyebabkan dua hal yang menguntungkan Red Devils. Yang pertama tentu saja aliran bola Liverpool terhenti dan serangan balik mereka gagal. Yang kedua, akibat sudah berencana melakukan serangan balik, maka otomatis para penyerang Liverpool langsung naik jauh ke depan.
Di sisi lain, aliran bola sudah berhenti sejak masih di belakang. Hal ini menyebabkan gap yang terlalu jauh antara pemain belakang dan depan Liverpool. Akibatnya, sulit untuk pemain belakang menemukan opsi mengoper bola karena pemain-pemain Liverpool sudah berada terlalu jauh di depan.
Hal inilah yang kemudian menyebabkan permainan Liverpool tidak berkembang sama sekali. Mereka selalu gagal membangun serangan baik dengan serangan balik cepat, maupun dengan membangun serangan secara perlahan dari belakang.
Pada gambar di bawah ini ditunjukan bagaimana bek Liverpool tidak memiliki pilihan untuk melepaskan operan ke depan akibat tekanan dari pemain MU.

[Pressing tinggi pemain Manchester United yang membuat Liverpool kesulitan mengalirkan bola ke depan]
Jika melihat pada defensive action yang dilakukan oleh pemain MU, terlihat bagaimana seringnya pemain mereka merebut bola di daerah pertahanan Liverpool. Ini semakin menunjukkan bahwa MU memainkan tekanan yang sangat tinggi hingga ke area pertahanan Liverpool.

[Grafik bertahan Manchester United pada babak pertama – sumber: FourFourTwo Stats Zone]
Ruang yang tercipta antara bek Liverpool
Pada pertandingan pertama akhir tahun lalu, MU berhasil mencuri gol akibat buruknya koordinasi pertahanan Liverpool dengan masalah yang tercipta ketika ruang antara bek tengah dengan full-back kanan atau kiri Liverpool yang berkali-kali terbuka.
Seperti kami prediksi [lihat: Infografis pratinjau Liverpool vs Man Utd], formasi tiga bek Rodgers menyisakan satu pemain di masing-masing sisi lapangan. Kedua full-back yang terletak di sisi lapangan memiliki tugas untuk mengisi sisi sayap Liverpool saat menyerang dan bertahan.
Liverpool seolah-olah terjatuh pada lubang yang sama pada pertandingan kali ini. Mereka seperti belum mampu menemukan solusi dari permasalahan yang ada pada area pertahanan mereka. Dua gol yang tercipta ke gawang mereka pun terjadi akibat lubang di antara full-back dari bek tengah.
Kedua full-back Liverpool menjadi satu-satunya pemain yang berada di sisi sayap. Selain membantu pertahanan, kedua pemain ini juga memiliki tugas untuk ikut menyerang. Karena itu, ketiga bek Liverpool harus mampu menutup ruang yang ditinggalkan full-back saat maju menyerang.
Pada kondisi ini bek tengah Liverpool yang berada di sebelah kanan atau kiri akan sedikit bergeser ke pinggir lapangan untuk menutup ruang yang tercipta. Pergeseran salah satu pemain ini tentu saja harus membuat dua bek tengah lainnya ikut menyesuaikan posisi mereka.
Sayangnya, hal ini tidak dibarengi dengan pergeseran full-back, yang cenderung tetap berada di sisi sayap ketika ketiga bek tengah mereka sudah bergeser ke salah satu sisi.
Hal ini disebabkan oleh MU yang memiliki setidaknya dua pemain di sisi sayap mereka. Di kanan mereka memiliki Juan Mata dan Antonio Valencia, sedangkan di kiri ada Ashley young dan Daley Blind. Pemain MU yang berada di sisi sayap ini membuat full-back Liverpool sering terlambat untuk merapat dengan ketiga bek tengah.
Hal inilah yang kemudian menciptakan celah di antara full-back dan bek tengah Liverpool. Ketika bek tengah Liverpool sudah bergeser ke salah satu sisi, full-back mereka di sisi laln masih berada jauh di pinggir. Sehingga jarak mereka pun menciptakan celah di area pertahanan Liverpool. Ruang kosong itu berkali-kali dapat dimanfaatkan oleh Mata dan Valencia di kanan, maupun Blind danYoung di kiri.
Ditambah lagi, kekuatan MU di sayap semakin dilapis oleh pemain tengah mereka, yaitu Ander Herrera yang sering melebar ke kanan, dan Marouane Fellaini yang sering melebar ke kiri yang bisa dilihat pada gambar area aksi di atas.

[Area aksi Ander Herrera dan Marouane Fellaini – sumber: Squawka]
Gol pertama MU juga tercipta akibat dari konsekuensi ini melalui pergerakan Fellaini yang mengirim umpan kepada Herrera, yang kemudian melihat celah di antara Alberto Moreno (full-back) dan Mamadou Sakho (bek tengah sebelah kiri) seperti pada gambar di bawah ini.

[Proses gol pertama Juan Mata]
Kesalahan serupa terjadi kembali pada akhir pertandingan sesaat sebelum insiden yang menghasilkan penalti. Pada gambar di bawah ini, ada ruang yang terbuka antara Emre Can dan Jordan Henderson yang membuat Angel di Maria bisa mengirimkan umpan terbosan kepada Blind.

[Proses sebelum insiden penalti]
Di luar dua kejadian di atas MU memang mendominasi penguasaan bola di Anfield, terutama pada babak pertama. Tidak ada keraguan bahwa mereka layak memimpin sampai babak ke dua berakhir.
Liverpool lebih menekan di babak kedua
Seolah berbeda 180 derajat dari babak pertama, Liverpool coba merespons babak ke dua dengan memasukkan kapten utama mereka, Steven Gerrard, yang langsung mengambil alih ban kapten yang sebelumnya melingkar di lengan Henderson.
Sayang, Gerrard harus diusir setelah 40,8 detik saja berada di atas lapangan.Tapi, di luar Liverpool yang harus bermain dengan 10 pemain, mereka bisa bermain lebih baik dan mengambil keuntungan dari MU yang menurunkan kecepatan dan intensitas mereka.
Salah satu yang membuat MU bisa menguasai permainan adalah berasal “olok-olok” banyak orang, yaitu Setan Merah yang gemar berlama-lama menguasai bola dari belakang dan tak ragu memberikan back-pass kepada penjaga gawang.
Sepanjang 90 menit, mereka melakukan 16 kali back-pass dengan 11 di antaranya terjadi di babak pertama.

[Grafik operan Manchester United di sepertiga pertahanan lapangan mereka sendiri – sumber: FourFourTwo ]
Rodgers menyadari hal ini, meskipun mereka bermain dengan 10 pemain, ia tidak peduli dan mencoba menumpuk sebanyak mungkin pemain di area pertahanan MU, di antaranya dengan memasukkan Mario Balotelli.
Hasilnya? Seperti yang terlihat pada gambar di atas, pada babak pertama MU leluasa melakukan 38 operan di daerah pertahanan mereka (gambar kiri), dengan salah satunya adalah operan gagal tepat sasaran. Sementara di babak kedua, berkat menekannya Liverpool, mereka memang berhasil melakukan lebih banyak operan, yaitu sebanyak 49 kali.
Namun, banyaknya jumlah ini justru mencerminkan betapa mereka panik ketika harus ditekan oleh Sturridge, Philippe Coutinho, maupun Balotelli. Ini juga yang membuat 6 operan mereka gagal tepat sasaran. Satu-satunya gol Liverpool pada pertandingan kali ini pun terjadi akibat tekanan yang mereka lakukan ke pertahanan MU. Coutinho berhasil merebut bola yang sedang dikuasai oleh Carrick di area pertahanan MU.

[Area aksi para penyerang Liverpool di babak ke dua – sumber: Squawka]
Sejak Gerrard diusir, MU memang menurunkan tempo. Mereka pikir bisa lebih bersantai, tapi nyatanya mereka hampir saja dihukum oleh kelengahannya sendiri.
Bek kiri yang sama-sama terpancing
Babak pertama sudah hampir menjadi lalu lintas satu arah untuk MU. Tapi babak kedua bisa dibilang merupakan pertandingan yang lebih menarik dari sisi penonton netral.
Berkat menekannya Liverpool, MU menjadi kerepotan. Tapi mereka tetap berusaha untuk mempertahankan keunggulan mereka dengan menjaga bola dari penguasaan Liverpool. Mereka akhirnya mampu mengunci angka penguasaan bola pada 52%.
Meskipun terus ditekan, MU bisa mendapatkan satu gol tambahan dari Mata. Gol cantik dengan tendangan menggunting itu ia cetak setelah mendapatkan umpan yang tidak kalah cantiknya dari Angel di Maria.
Seperti gambar di bawah ini, jika dilihat secara seksama, gol ini berawal dari terlalu terpancingnya Moreno.

[Proses gol ke dua Juan Mata]
Bola yang awalnya berada di Mata, seharusnya bisa diantisipasi oleh Henderson, sementara Moreno bisa terus menjaga area tujuan Mata yang akhirnya kosong (gambar bawah).
Seolah tak belajar dari kesalahan lawannya, pada gol Sturridge juga MU melakukan kesalahan yang sama. Seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini, Blind terlalu terpancing untuk menjaga Sturridge daripada menjaga area di depan Sturridge. Sehingga, ketika umpan Coutinho sudah sampai ke depan, Blind terlalu tertinggal jauh untuk mengejar Sturridge.

[Proses gol Daniel Sturridge]
Gol Sturridge tersebut hampir menjadi bumerang, namun MU dapat bertahan dengan baik. Penalti Wayne Rooney yang gagal memang tidak menjadi konsekuensi yang mahal pada akhirnya, dan pasukan Van Gaal bisa mengambil kemenangan penting yang menempatkan mereka di atas angin untuk posisi empat besar.
Kinerja wasit
Tidak heran, dalam pertandingan segenting ini keputusan wasit akan sangat berpengaruh. Tidak sedikit pendukung Liverpool yang mengecam kepemimpinan Martin Atkinson pada pertandingan semalam.
Kartu merah Gerrard menjadi sorotan utama. Itu adalah keputusan besar yang sangat cepat setelah sang kapten masuk dari bangku cadangan, terutama ketika pertandingan ini menjadi yang terakhir baginya bersama Liverpool untuk melawan musuh besarnya itu.
Namun, keputusan kartu merah langsung adalah keputusan yang tepat dengan sedikit bantuan dari hakim garis. Bahkan pada wawancara akhir pertandingan, Gerrard juga mengakui bahwa aksinya layak diberikan kartu merah.
Selain itu, Phil Jones mungkin beruntung tidak mendapatkan kartu merah juga pada tekelnya yang terlambat dan terlalu tinggi kepada Henderson. Ada juga sorotan yang melibatkan Rooney dan Skrtel di mana kedua pemain tampaknya menjegal dan menginjak penjaga gawang lawan.
Sedangkan penalti untuk pelanggaran Emre Can juga sudah dinilai tepat, sayang Rooney gagal mengeksekusi penalti tersebut. Secara keseluruhan Atkinson berurusan dengan tugas yang rumit,namun ia sudah bekerja dengan relatif baik.
Kesimpulan
Apakah hasil ini adalah hasil yang adil? Sulit untuk menjawabnya. Manchester United adalah kesebelasan yang jauh lebih baik di babak pertama. Mereka mengendalikan permainan dengan tempo tinggi.
Liverpool memang meningkatkan tekanan mereka di babak kedua. Mereka mampu bermain lebih baik meskipun harus bermain dengan sepuluh pemain.
The Reds bisa saja menyamakan kedudukan jika mereka beruntung. Daripada terus terpuruk, kartu merah Gerrard justru menjadi katalis kebangkitan Liverpool di babak kedua. Jika saja Gerrard tidak diusir, mungkin mereka tidak akan bermain sebaik ini. Tapi, memang tidak ada yang bisa memastikan hal tersebut.
Beberapa komentar yang menganggap wasit tidak berlaku adil sebaiknya tidak ditempatkan pada konteks pertandingan seperti ini. Nyatanya Atkinson sudah memimpin dengan baik.
Pada akhirnya Liverpool memang harus membayar mahal ruang kosong yang tercipta akibat konsekuensi dari skema tiga bek. Van Gaal jelas sudah hapal dengan skema ini, jadi konsekuensi ini seharusnya adalah risiko yang sudah diperhitungkan oleh Rodgers.
Tanggapan Liverpool di babak kedua memang mengagumkan, tapi selama 90 menit penuh MU menunjukkan bahwa mereka-lah yang layak mendapatkan tiga poin.
====
* Dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.
(a2s/krs)











































