sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Rabu, 13 Mar 2013 14:27 WIB

Premier League Sebagai Frankenstein (Bagian 1)

- detikSport
bloomberg.com bloomberg.com
Jakarta - Alex Fynn boleh jadi kini merasa dirinya sebagai Victor Frankenstein. Dalam novel karya Mary Shelley bertajuk "Frankenstein" itu, Victor, seorang ilmuwan yang tergila-gila untuk menciptakan keajaiban, dikisahkan ingin memberi kehidupan pada mahluk yang ia ciptakan dengan tangannya sendiri. Potongan-potongan tubuh manusia ia jahit, kemudian dihidupkan dengan listrik dari petir.

Namun, alih-alih mendapatkan manusia indah yang sesuai dengan bayangan di benaknya, Victor malah menciptakan satu monster buruk rupa. Mata si monster kuning serta bibirnya hitam. Sementara kulitnya yang putih transparan tak bisa menyembunyikan otot dan pembuluh darah yang mengalir dalam tubuh. Jijik akan karyanya tersebut, Victor pun depresi dan lari.

Sebagaimana Victor yang tak bisa menatap mahluk buatannya sendiri, Alex Fynn pun kini seakan menampik keberadaan ciptaannya, yaitu (English) Premier League atau EPL. Alih-alih bercerita dengan bangga tentang bagaimana EPL telah jadi liga terpopuler di dunia, ia malah menyebutnya sebagai monster berkepala 22.

Dua puluh tahun semenjak EPL berdiri, Alex, seorang konsultan bisnis sepakbola yang masih sering diundang untuk memberikan seminar, pun tak pernah luput untuk menunjukkan keburukan liga ini tiap kali ia berbicara di mata publik. "Liga ini sudah salah (konsep) semenjak dibentuk. Dulu seharusnya FA menghentikan langkah mereka yang ingin memisahkan diri dari piramida (sepakbola Inggris). FA punya kuasa untuk mengambil sebagian dari pendapatan mereka dan mengalokasikannya pada pembinaan pemain muda. Tapi FA malah melepas tangan mereka dari kendali dan menciptakan suatu monster, di mana Premier League jadi satu-satunya kompetisi yang paling penting," ujar Alex dalam wawancaranya dengan koran Telegraph.

Lalu apa sebenarnya "monster" bernama Premier League ini dan bagaimana ia tercipta?

Dalam dokumenternya, "The Men Who Changed Football", BBC bercerita tentang sebuah jamuan makan malam rahasia yang terjadi pada 1990 antara lima klub terbesar Inggris saat itu. Para petinggi dari klub Liverpool, Manchester United, Arsenal, Tottenham Hotspur, serta Everton menemui seorang petinggi dari ITV (Independent TV), Greg Dyke, yang, bersama dengan BBC, merupakan televisi pemegang hak siar liga Inggris.

Jamuan ini semula ditujukan sebagai ucapan terimakasih pada ITV karena telah meningkatkan jumlah pembayaran hak siar televisi dari semula 6,2 juta poundsterling (untuk 1986-1988) jadi £ 44 juta untuk 4 musim kompetisi (1988-1992). Perjanjian hak siar pertandingan, yang baru ada pada 1983 itu, sedikit banyak membantu klub-klub Inggris dalam menstabilkan keuangannya. Apalagi adanya siaran langsung juga secara tidak langsung menambah pemasukan klub dari sisi sponsorship.

Pada awal periode 1980 klub-klub Inggris memang sedang mengalami krisis finansial, termasuk di antaranya Aston Villa, Chelsea, Nottingham Forest, dan Leeds United. Bahkan Leeds yang notabene tergolong klub besar pun terpaksa menjual aset berupa tanah untuk menutupi utang-utangnya.

Bermula dari ucapan terimakasih, pembicaraan kemudian beralih tentang pengelolaan liga dan tentang beban FA yang terlampau berat dalam menangani sepakbola Inggris. Dari jamuan itulah kemudian proposal "One Game, One Team, One Voice" dirancang untuk kemudian diajukan pada FA. "One team, one voice" di sini merujuk pada keinginan klub-klub untuk mereduksi kekuasaan FA dan agar mereka memiliki suara untuk menentukan nasibnya sendiri.

Alex Fynn yang kala itu masih menjadi direktur Saatchi & Saatchi, sebuah agensi periklanan raksasa asal London, kemudian ditunjuk oleh David Dein (Arsenal) dan Noel White (Liverpool) untuk merancang proposal. Ia juga diminta untuk jadi perwakilan kelima klub untuk berbicara dan membujuk FA.

"Saya menjelaskan pada para petinggi FA tentang bagaimana sepakbola profesional membutuhkan restrukturisasi dari atas sampai bawah. Bahwa perlu ada satu divisi di level nasional yang menjadi bahan pertunjukan (showcase) sementara divisi regional berada di bawah piramida. Jumlah peserta divisi ini pun tidak perlu terlampau banyak –maksimum 20- untuk meminimalisir pertandingan-pertandingan tidak penting. Arsenal vs Manchester United akan menjadi event skala nasional, sementara Exeter vs Torquay jadi event regional," ujarnya pada satu majalah bisnis sepakbola.

Alex juga berargumen bahwa exposure pada klub-klub besar akan berpengaruh positif baik pada timnas maupun klub. Ia juga menunjukkan bahwa ada uang yang bisa didapat dari hak siar televisi.

FA pun lalu termakan penjelasan Fynn, walau dengan niatan berbeda. Menurut mereka, dengan jumlah pertandingan yang lebih sedikit, maka FA bisa lebih leluasa menyelipkan pertandingan Piala FA dan pertandingan persahabatan timnas Inggris. Tak akan ada lagi pertandingan liga paruh minggu yang akan bersaing dengan pertandingan Piala FA untuk mendapatkan perhatian fans. Kesempatan untuk menyejajarkan Piala FA, timnas, dan liga di puncak tertinggi sepakbola Inggris jadi godaan yang tak bisa ditolak.

Namun, menyadari perlu adanya perubahan ini tak serta merta membuat FA menyerahkan kekuasaannya pada klub besar dan penyelenggara liga, yang saat itu dipegang Football League. Pada 1991 mereka membuat proposal tandingan, yaitu "The Blueprint for the Future of Football". Dalam proposal ini mereka malah ingin membentuk suatu "liga super" yang berisikan 18 klub saja.

Idenya adalah ada sebuah liga yang berdiri sendiri dan berhak untuk mencari dan memanfaatkan pemasukannya sendiri, tanpa harus membagi-bagikannya pada klub di kasta bawah. Memang, sebelumnya hak siar televisi masih dibagikan pada divisi 1, 2, 3, dan 4 dengan alokasi proporsi: 50%, 25%, 12,5% dan 12,5%.

Godaan untuk menguasai hak siar televisi, yang jumlahnya diprediksi akan terus meningkat, ini mendorong para klub untuk memisahkan diri dari klub di bawahnya. Di masa ini, memang banyak klub besar yang sudah gerah mensubsidi klub-klub kecil. Mereka menganggap bahwa mereka telah memberikan lebih banyak pada sepakbola Inggris sehingga perlu mengambil lebih banyak juga. Padahal aturan mengenai pembagian penjualan tiket (gate-revenue sharing) juga telah dihapuskan pada 1985.

Pada Juni 1991, 16 klub divisi pertama lalu menyetujui perjanjian adanya liga baru ini. Setelah melalui beberapa waktu, akhirnya tercatat 22 klub yang memisahkan diri dari sistem kompetisi yang sudah ada semenjak 1888. FA English Premier League pun resmi berdiri pada September 1991.

(Bersambung ke sini)






(a2s/roz)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com