Untuk dua keajaiban yang selisih waktu kejadiannya persis 50 tahun itu, kita masih patut mengingat kata-kata Sepp Herberger, manajer timnas Jerman Barat kala itu, dalam sesi konferensi pers setelah pertandingan: "Der Ball ist rund und das spiel dauert 90 minuten. Bola itu bundar dan pertandingan berlangsung 90 menit."
Dua kejadian itu memang menakjubkan. Kemenangan Jerman Barat atas Hongaria itu, misalnya, bahkan sampai sekarang dikenang oleh pers dan publik Jerman sebagai "Das Wunder von Bern" atau "The Miracle of Bern". Bern adalah kota di Swiss yang menjadi venue laga final Piala Dunia 1954 itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemenangan di Wembley itu bukan hanya menjadi kekalahan pertama Inggris di Wembley, tapi juga mengubah tekstur permainan sepakbola Inggris yang sebelumnya begitu jumawa sebagai yang paling digdaya. Dari situlah kemudian Inggris untuk pertama kalinya mencoba beradaptasi dengan perkembangan terbaru sepakbola, dan akhirnya berpuncak di Piala Dunia 1966 saat mereka jadi juara Piala Dunia untuk kali pertama dan -- sampai sejauh ini -- terakhir kalinya.
Piala Dunia 1954 sendiri adalah tonggak baru dalam industrialisasi sepakbola. Itulah kali pertama Piala Dunia ditayangkan langsung oleh televisi. Di Piala Dunia dengan rataan gol terbanyak sepanjang sejarah [5,38 gol per game] ini, Hongaria sendiri mencatatkan banyak rekor Piala Dunia yang sampai sekarang belum terpecahkan: tim dengan jumlah gol terbanyak [27 gol], rataan gol terbanyak [5,4 gol per game], agregat gol terbanyak [surplus 17 gol].Semua catatan itulah yang membuat Hongaria, yang saat itu dijuluki Mighty Magyars, diakui nyaris aklamasi sebagai salah satu tim terhebat yang pernah lahir dalam sejarah sepakbola dunia. Semua orang waras di masa itu tidak ada yang tidak menjagokan Hongaria akan jadi juara Piala Dunia.
Apalagi Jerman Barat sendiri adalah tim yang di babak grup sudah dikalahkan oleh Ferenc Puskas, dkk., dengan skor sangat mencolok: 3-8. Ditambah dengan fakta mayoritas pemain Jerman belum mencicipi iklim sepakbola profesional, maka pertemuan dua tim berbeda kasta di laga final itu mulanya terasa seperti sebuah laga yang sudah diketahui akhirnya.
Di hari pertandingan, hujan mengguyur kota Bern sejak pagi. Lapangan yang akan jadi pentas salah satu kejutan terbesar dalam sejarah sepakbola itu pun berubah menjadi kubangan air dan lumpur di beberapa bagian. Situasi menjadi sulit karena hujan malah makin deras saat pertandingan berlangsung. Tapi Puskas yang cedera angkel di laga melawan Jerman Barat di babak grup, bisa kembali turun dan itu menjadi keuntungan besar bagi Hongaria.
Tapi Jerman Barat punya keuntungan yang kelak akan mengubah salah satu aspek penting dalam permainan ini: Adi Dasler untuk pertama kalinya menyediakan sepatu bola dengan pull yang dibuat khusus untuk lapangan basah. Nama Adidas pun mencuat ke permukaan, terutama sejak laga final ini. [Baca artikel inovasi Adidas di sini]
Di hadapan sekitar 60 ribu penonton, pertandingan ini sudah menjanjikan sesuatu yang menarik di awal laga: 3 gol tercipta dalam 10 menit pertama. Pukas mencetak gol menit ke-6, disusul 2 menit kemudian oleh Zoltan Czibor. Jerman Barat hanya butuh waktu 2 menit kemudian untuk memperkecil ketinggalan melalui gol Max Morlock. Pada menit 18, di luar dugaan, Jerman Barat kembali mencetak gol untuk menyamakan kedudukan jadi 2-2 lewat gol Helmut Rahn.
Hongaria yang tersengat oleh 2 gol balasan Jerman Barat terus membombardir gawang lawannya yang dijaga oleh kiper Toni Turek yang bermain gemilang. Alih-alih mencetak gol, Hongaria malah kebobolan hanya 6 menit jelang berakhirnya pertandingan, lagi-lagi melalui gol Helmut Rahn.
Di sisa waktu, Hongaria mencoba sekuatnya untuk menyamakan kedudukan. Sampai akhirnya muncullah insiden yang membuat Puskas tak akan pernah melupakannya selamanya: di menit 89, Puskas mencetak gol yang bersih, tapi wasit menganulirnya karena dianggap offside.

Dalam buku Inverting the Pyramid karya Jonathan Wilson, Puskas mengungkapkan kemarahannya: "Saya tidak percaya hal itu [golnya dianulir]. Dia [hakim garis] mengangkat bendera hampir 1 menit setelah gol saya. Saya bisa membunuhnya saat itu. Kehilangan Piala Dunia karena keputusan macam itu sangatlah tidak benar."
Apapun itu, pertandingan pun berakhir. Sepp Herberger, manajer Jerman Barat, menghambur ke lapangan mengejar Fritz Walter, kapten tim yang memang dikenal selalu bermain lebih baik justru di lapangan yang berat. Sementara Puskas, Sandor Koscis, Nandor Hidegkuti, dkk., tertunduk lesu.
Pertandingan ini mengubah wajah sepakbola Jerman dan Hongaria untuk selamanya. Bagi Hongaria, itu adalah kekalahan yang menjadi awal kehancuran sepakbola mereka secara perlahan tapi pasti. Pemain-pemain terbaik mereka memilih hengkang dan menjadi warga negara di negara Eropa Barat, termasuk Puskas yang akhirnya bermain di Real Madrid dan jadi warga negara Spanyol.
Sementara bagi Jerman Barat, laga itu menjadi awal dari kebangkitan mereka menjadi kekuatan sepakbola penting di dunia. Sebagai tim yang tidak dianggap penting saat itu, keberhasilan mereka memboyong trofi Jules Rimet [ditambah dengan kegemilangan menghentikan tim yang tak terkalahkan, Hongaria] menjadi inspirasi bagi negara mereka untuk memulai membangun sepakbola.
Kemenangan yang diraih setelah tertinggal lebih dulu 2-0 dalam tempo hanya 8 menit itu kelak menjadi trade-mark tim Jerman sebagai kesebelasan yang lambat panas, tapi begitu mesin sudah dipanaskan, mereka tidak akan terhentikan -- sSeperti (tank) Panser (der Panzer) yang bermesin diesel dan lambat panas. Trade-mark itu melekat lama dalam ingatan kolektif pecinta sepakbola.
Dalam skala yang lebih luas, kemenangan itu juga jadi awal kebangkitan Jerman Barat setelah kehancuran dan aib memalukan yang dilakukan Hitler dan NAZI satu dekade sebelumnya. Dihancurkan, diasingkan, dihina, dan diremehkan adalah derita yang dialami Jerman Barat pasca Perang Dunia II. Di internal Jerman Barat sendiri, sisa-sisa kehancuran masih terasa dengan masih terbelahnya rakyat ke dalam dua kelompok antara yang pro-Hitler dan anti-Hitler.
Kemenangan di Bern itu mengubah semuanya. Sejarawan Joachim Fest menyebut kegemilangan pada 4 Juli 1954 itu adalah titik balik paling penting dalam sejarah Jerman pasca Perang Dunia. Dengan ditayangkannya laga final itu oleh televisi, kata Joachim Fest, justru melahirkan respek yang besar dari dunia terhadap usaha hebat Fritz Walter, Helmut Rahn, dkk., untuk membalikkan keadaan.

Secara simbolis atau bukan, kemenangan itu memang menjadi titik balik bagi kebangkitan bangsa Jerman. Itulah saat pertama kalinya lagu kebangsaan Jerman dikumandangkan di pentas internasional sejak Perang Dunia II berakhir. Kumandang lagu kebangsaan itu seakan jadi pernyataan bahwa Jerman sudah siap kembali tampil dengan segala kebanggaannya.
Horst Eckel, salah satu anggota skuad Jerman Barat di final 1954 itu, menjelaskan dengan baik arti kemenangan itu bagi Jerman. "Rakyat kami tidak bilang bahwa pemain-pemain tim nasional telah jadi juara dunia. Mereka justru bilang: Kami Sang Juara Dunia. Perasaan kebersamaan bangsa Jerman secara mendadak hadir kembali," katanya kepada Der Spiegel.
===
* Akun twitter penulis: @zenrs dari @panditfootball
* Tentang @panditfootball lihat di sini
(din/a2s)











































