Mengenal Sport Science dan Bagian-Bagiannya

- Sepakbola
Jumat, 30 Agu 2013 16:58 WIB
Jakarta - Dalam beberapa tahun terakhirnya sport science semakin terbiasa menjadi sebuah istilah keren dalam dunia olahraga. Sayangnya, pengetahuan komprehensif soal itu, dan juga realisasinya, masih jauh dari semestinya.

"Kita akan menerapkan sport science di tim."

"Kita akan maju dan berprestasi dengan sport science."

"Yuk, kita terapkan pola makan sehat pada para pemain. Mulai sekarang, tidak ada lagi gorengan, sambal, kerupuk, makanan bersantan, makanan berminyak, dan sebagainya. Semua diganti dengan nasi merah, pasta, dan makanan yang dibakar atau dikukus. Sediakan salad dan buah-buahan yang cukup."

*

Betapa seringnya kita mendengar ungkapan-ungkapan di atas. Namun, kemudian ini yang terjadi:

"Susah, Bang, diterapkan di sini. Beda kebiasaan. Jadi ya diterima saja."

Dalam satu kesempatan lainnya, pernah saya diajak oleh seorang kawan yang dengan bangga ingin menunjukkan fasilitas sport science-nya. Setelah menempuh perjalanan dua jam, kami tiba di sebuah tanah lapang yang dilengkapi dua buah gawang besar, dan satu gawang kecil di samping lapangan.

Dengan bangga bapak itu mengatakan: "Inilah fasilitas sport science kami!"

**

Di satu sisi, memang benar ada keinginan untuk menerapkan sport science. Tapi, begitu akan dilaksanakan, keinginan itu batal hanya karena alasan yang terlampau sering diungkapkan: karena tak biasa. Apakah sport science hanya jadi istilah keren untuk dijual, atau benar-benar digunakan karena adanya kepahaman penuh akan istilah ini?

Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sport science secara harafiah berarti "pengetahuan olahraga". Tapi, jujur, istilah ini kurang sreg untuk digunakan. Lebih enak saya pakai sport science saja.

Let's stick to that, shall we?

Secara umum sport science bisa dibagi ke dalam beberapa keilmuan, yaitu bagian kepelatihan, fisik, kedokteran, fisioterapi dan rehabilitasi, relaksasi, gizi, psikologis, dan bagian peneliti (researcher). Tujuannya adalah secara bersama mewujudkan sebuah program latihan, atau sebuah materi, untuk membentuk skuat yang fit, bugar, dan bebas cedera dalam menghadapi pertandingan.

Lalu apa saja tugas masing-masing bagian?

Bagian Fisik

Tanpa fisik yang baik, jangan harapkan seorang atlet mampu melakoni sebuah pertandingan secara penuh. Dalam konteks sepakbola, mesti disadari bahwa olahraga ini bukan hanya masalah berlari di lapangan atau mencetak gol. Memang, dua isu itu jadi faktor utama untuk mendapatkan kemenangan. Tapi, tanpa kondisi fisik dan stamina yang prima, bagaimana mencapainya?

Dalam sebuah klub, sport science bisa diwujudkan melalui latihan fisik untuk semua pemain. Namun, porsinya diberikan di luar porsi latihan dari pelatih kepala. Setiap pemain akan diberikan pola latihan tersendiri, sesuai dengan posisinya di lapangan. Latihan-latihan ini diberikan oleh pelatih fisik di gym sebelum latihan resmi dilakukan.

Sementara itu, pelatih kepala hanya bertanggung-jawab untuk mengatur pola latihan murni mengenai sepakbola. Misalnya saja: pola bertahan, pola menyerang, atau latihan bola mati. Di atas lapangan, pelatih kepala sendiri hanya menerima pemain-pemain yang fit saja untuk berlatih di lapangan.

Hal ini juga sempat diamini oleh salah satu pelatih kelas dunia, Arsene Wenger. Pelatih asal Prancis ini pernah mengatakan, bila ada pemainnya yang merasa sedikit sakit, atau nyeri di bagian otot, tulang, ligamen, persendian, atau kurang fit, maka dia tak akan mengambil risiko memainkan mereka saat berlatih. Ia lebih senang memilih pemain yang fit di lapangan.

Nah, cedera dan kurang fit inilah yang dilatih secara terpisah di luar lapangan oleh seorang fisioterapis atau pelatih fisik.

Bagian Kedokteran

Tim dokter memiliki peran penting dalam sebuah tim. Pada umumnya, dokter dalam sport science juga harus memiliki spesialisasi di bidang olahraga. Dalam kesehariannya, dokter tim bertugas mengawasi kesehatan semua anggota tim. Dia juga yang akan memberikan obat yang sesuai dengan kebutuhan pemain.

Keluhan-keluhan seperti sakit di dada, pusing, mual, ditangani secara langsung oleh dokter tim. Keluhan seperti ini harus didengarkan secara serius dan dicari penanganannya.

Dokter kepala akan bertanggung jawab pada tim medis atau atau tim sport science di dalam struktur klub. Dia yang melakukan tes-tes kesehatan seperti tes jantung, paru-paru, dan organ tubuh yang lain. Dokter kepala juga yang memberikan rujukan jika ada tindakan kesehatan yang harus dilakukan di luar tim. Pun saat ada pemain yang harus dibawa ke rumah sakit. Semua atas rujukan dokter kepala.

Satu hal yang penting untuk diingat, seandainya tindakan operasi diperlukan, maka sang pemain bola pun harus ditemani oleh dokter tim.

Bagian Fisioterapi

Fisioterapi memiliki tugas penting dalam membantu mengembalikan fungsi tubuh yang cedera ke fungsi normal. Salah satu yang perlu ditekankan adalah fisioterapi bukanlah tukang pijat. [Bagian ini akan saya bahas secara detail di artikel-artikel ke depan.]

Bagian Rileksasi

Ini bagian yang sering diasosiasikan dengan tugas dan fungsi fisioterapi. Masseur di dalam klub sepakbola, atau di bagian sport science, memerlukan diploma atau pendidikan khusus. Tidak bisa pijat dilakukan oleh sembarangan secara tiba-tiba. Bahwa banyak yang pintar memijat tentu benar. Namun apakah ia mengerti anatomi tubuh?

Pengetahuan ini sangat dibutuhkan karena pada saat pegal-pegal tubuh harus di-massage ke arah tertentu dan dengan teknik tertentu pula. Pengetahuan lainnya ialah bila ada cedera, maka masseur juga bisa merujuk seorang pemain ke dokter atau fisioterapi.

Bagian Gizi

Makanan apa yang harus dikonsumsi? Minuman apa yang baik untuk pemulihan kondisi? Diet apa yang harus diikuti? Pertanyaan-pertanyaan ini jadi penting bagi seorang atlet. Karena itu, kadar protein, mineral, vitamin, air akan senantiasa diukur oleh bagian gizi.

Tujuan dari bagian nutrisi ini, selain membantu mempercepat pemulihan, juga sebagai asupan bahan bakar tubuh pada saat berlatih dan melakukan pertandingan. Maka jenis makanan yang disajikan untuk sehari-hari saat latihan dan untuk pertandingan tentu akan dibedakan.

Ini pun akan dibahas lebih lanjut di artikel-artikel berikutnya.

Bagian Psikologis

Sering dilupakan dalam sebuah tim sepakbola atau olahraga, departemen ini sangatlah penting. Ini karena satu tim pastilah tak bisa lepas dari masalah psikologis. Contohnya: hubungan antarpemain, hubungan antara pemain dengan ofisial, pemain yang selalu dibangkucadangkan, striker yang tiba-tiba tak bisa mencetak gol lagi, kiper yang kebobolan terus, kejenuhan saat berlatih, masalah gaji, dan lain-lain.

Penyelesaian masalah ini memerlukan seorang psikolog yang bisa bekerja menangani individu maupun grup. Mental bertanding juga sangat amat bisa distimulasi dari sebuah sesi psikologis.

**

Sejauh yang saya ketahui, sport science belum terlalu dikembangkan di klub-klub bola Indonesia. Kalaupun iya, kondisinya berbeda-beda. Ada tim yang hanya memiliki dokter, namun tidak menggunakan jasa fisioterapi. Ada yang kebalikannya: punya fisioterapi tapi tidak punya dokter tim. Bahkan, ada yang malah memiliki mantri! Apalagi bagian ahli gizi atau psikologis. Banyak sekali tim yang melupakan kedua departemen tersebut.

Ini jadi bukti bahwa sport science di Indonesia belum diterapkan secara penuh, atau bahkan tidak sama sekali. Sport Science hanya menjadi sebuah istilah yang cool, gaul, atau trendi. Penerapannya sering hanya menjadi sebuah mimpi saja.

Di tahun 1960 ada seorang tokoh bernama Martin Luther King, yang terkenal dengan pidatonya berjudul "I have a dream". Di Indonesia, sport science ya masih dalam taraf "I have a dream" tadi. Mimpi akan sebuah sarana dengan departemen-departemen di atas yang dapat membawa sepakbola Indonesia ke level yang lebih tinggi lagi.




===

* Penulis adalah Sport Physiotherapist yang bekerja sama dengan Pandit Football Indonesia dalam pengembangan sport science di Indonesia. Sering dipercaya sebagai fisioterapis tim nasional Indonesia. Akun twitter: @MatiasIbo




(a2s/roz)