Di satu sisi, berkat melatih Everton lah Moyes dilirik manajemen MU dan lantas dipekerjakan sebagai manajer. Menangani 'Si Biru' selama 11 tahun dengan dukungan finansial yang seadanya, Moyes tumbuh jadi pelatih yang pintar mengatasi keterbatasan. Atas kinerjanya itu diapun dianggap mampu menggantikan nama besar Sir Alex Ferguson. Maka, kembali bertemu klub yang membesarkan dan dibesarkannya tentu jadi peristiwa yang menyenangkan.
Namun, mengaitkan Everton dengan Manchester United membawa kepedihan tersendiri bagi Moyes. Ia tentu masih ingat berbagai kisah kelamnya ketika harus membawa Everton bertanding ke Old Trafford. Faktanya, ketika ditangani Moyes, Everton belum pernah menang dalam 20 pertandingan liga di kandang 'Setan Merah'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama melatih Everton, bertanding di Old Trafford bagi Moyes bisa jadi sebuah mimpi buruk yang terus menghantui. Mimpi yang tidak pernah tuntas, meski memiliki semangat dan motivasi berlebih untuk mengakhirinya.
Kisah kelam Moyes dengan Everton pun tak berhenti sampai di situ. Sepanjang karirnya, ia selalu berada di bawah bayangan tim-tim besar Inggris lainya. Selama satu dekade kepelatihannya, rak piala di markas Everton juga berdebu, karena tidak ada satu pun trofi yang dapat dia berikan ke publik Goodison Park.
Melalui laga ini, David Moyes seakan sedang bercermin dengan masa lalunya. Keputusannya untuk pindah dari Everton ke United tentu atas dasar dorongan kuat untuk meninggalkan zona nyamanya. Bagaimanapun juga, sepakbola memang ajangnya manusia-manusia yang menembus batas-batas kemampuannya sendiri. Bukan untuk yang terlena di lingkaran aman.
Apalagi tongkat komando baru yang diberikan kepada Moyes juga bukan dari klub sembarangan. Manchester United adalah klub tersukses di Liga Inggris, yang selalu menjadi momok menakutkan baginya dahulu. Tentu ini jadi ujian tertinggi dalam sejarah kepelatihannya.
Manchester United adalah salah satu upaya Moyes untuk meraih kesuksesan di Liga Inggris. Satu hal yang sulit ia wujudkan di kota Liverpool, bersama Everton. Manchester United juga jadi jawaban Moyes, atas kritik yang menyebut dirinya terlampau lama bersembunyi di belakang hasil "sukses finis di papan tengah Liga Inggris, meski tanpa gelar".
Prihal meninggalkan Everton untuk mencari kesuksesan, pria asal Skotlandia ini sebenarnya tidak sendiri. Beberapa pasukan lamanya juga ikut ke kerajaan barunya sekarang. Phil Neville ditunjuk sebagai first team coach bersama dengan ketiga asisten lainya,yaitu Steve Round (asisten manajer), Chris Woods (pelatih kiper) dan Jimmy Lumsden (pelatih). Semuanya adalah bekas tangan kanan Moyes di Everton.
Tidak lupa, sang pangeran dari Goodison Park, Marouane Fellaini, juga ikut diboyong dengan harga 27,5 juta poundsterling. Bahkan, jika harus dirunut ke belakang masih ada nama lain yang lebih dulu berpindah dan mendapati kesuksesan. Siapa lagi jika bukan Wayne Rooney. Semuanya pernah merasakan tekanan yang sama ketika bertanding di Old Trafford.
Meski demikian, keputusan untuk hijrah bareng-bareng ke United ini sendiri membuat Moyes dianggap sedang membangun Everton 'mini'. Selain memborong staff pelatih dan pemain kunci, gaya permainan United memang tidak terlalu jauh beda dengan Everton dulu. Taktik Moyes masih pragmatis dan minim kreatifitas.
United yang dahulu selalu menjadi momok yang mengerikan, justru diubah menjadi tim yang seolah belum pernah mencicipi juara Premier League. Enam bulan setelah meninggalkan Everton, justru jiwa Everton yang nampaknya masih enggan meninggalkan David Moyes.
Everton Yang On Fire
Harus bertarung untuk melawan masa lalunya, Moyes kini menjalani situasi yang benar-benar berbeda. Posisinya tidak lagi ada bench tandang Old Trafford, namun jadi tuan rumah di Theater of Dreams. Segala sesuatunya telah berubah 180 derajat.
Kecemasan yang datang merayap sebelum laga United-Everton pun seharusnya sirna. Alih-alih menangani klub lamanya, Moyes kini membawahi sang juara bertahan. Ia seharusnya jadi pelatih yang menambah rekor pundi-pundi gol United ke gawang Everton. Moyes juga yang semestinya memperpanjang rekor tak pernah menang di Old Trafford menjadi 21 kali.
Namun, apa benar demikian?
Patut diingat, Everton yang sekarang bukan lagi Everton yang harus kalah sebelum bertanding. Everton yang sekarang adalah kumpulan pemain yang keluar dari lorong ruang ganti Theatre of Dreams dengan kepala tegak. Kecemasan kini justru ada di pihak David Moyes.
Moyes boleh saja percaya diri dengan United yang tidak terkalahkan sepanjang 12 pertandingan terakhir di semua ajang, namun toh Everton masih berada di atas mereka pada klasemen Premier League. The Blues bercokol di peringkat 5 dengan 24 poin, sementara United masih harus berjuang naik dari peringkat 8, meski keduanya hanya dipisahkan jarak 2 poin saja.
Secara permainan, sang pelatih baru Roberto Martinez telah membawa perubahan yang positif. Everton sekarang bermain lebih atraktif namun tetap efisien. Berbeda dengan apa yang dilakukan David Moyes sebelumnya. Martinez dianggap lebih jeli dalam memanfaatkan sumber daya yang ada, untuk diubah menjadi taktik yang mumpuni.
Tukang gedor utama sekaligus tersubur Everton, Romelu Lukaku, bahkan hanya didapat melalui pinjaman dari Chelsea. Tapi sudah ada 8 gol yang berhasil ia koleksi bersama Everton di Liga Inggris.
Jangan lupa, Martinez juga masih mempunyai amunisi lain yang juga berasal dari pinjaman, Gerard Deulofeu. Pemain berusia 21 tahun ini menjadi aktor penting dalam pertandingan sebelumnya, kala Everton mengandaskan Stoke empat gol tanpa balas. Meski baru saja tampil perdana, sekaligus bermain penuh 90 menit, sayap kanan ini mampu beradaptasi baik dengan sepakbola Inggris.
Belum lagi gelandang serang The Toffees, Ross Barkley, yang mempunyai masa depan cerah di usianya yang masih 20 tahun. Menopang Lukaku dari tengah, Barkley siap untuk mengacak-acak doble pivot dari United yang ditinggalkan Jones akibat akumulasi kartu.
Melawan Keterbatasan dengan Kreativitas
Satu angin segar yang bertiup ke arah Moyes datang dari ruang perawatan. Van Persie yang absen di tiga pertandingan sebelumnya, semenjak jadi aktor penentu kontra Arsenal, kemungkinan sudah pulih. Membawa senjata berupa striker tertajam di Liga Inggris musim lalu tentu jadi salah satu faktor pendukung kemenangan.
Namun, andai saja Van Persie belum boleh tampil, hal ini justru bisa jadi keuntungan bagi Moyes. Seperti halnya saat di Everton, Moyes memang
pintar mengatasi hambatan dan keterbatasan.
Sejak kehilangan Van Persie, misalnya, Moyes mengubah taktik dan formasi yang justru membuat permainan United sedikit lebih variatif, yaitu dengan menempatkan Kagawa di belakang Rooney. Bermain kembali sesuai dengan fitrahnya, Kagawa memang mampu membuat serangan United lebih kreatif.
Hal ini tampak pada pertandingan grup Liga Champion saat menghancurkan Leverkusen. Selain menggunakan Kagawa, Moyes juga memasang dua pemain bertipikal sayap murni, Valencia dan Nani. Dengan demikian United memiliki banyak opsi dalam melakukan tekanan. Sesuatu yang tidak dilakukan oleh Moyes di dua pertandingan lain tanpa Van Persie, yaitu melawan Cardiff dan Tottenham yang hanya berakhir imbang.
Sementara itu, meski Jones tampil cukup baik dalam dua pertandingan, absennya pemain ini karena akumulasi kartu sepertinya tidak terlampau dikhawatirkan. Ini karena Moyes justru memiliki kesempatan untuk memainkan Fellaini.
Terlepas dari urusan taktik ini, laga ini akan jadi laga yang seharusnya memberikan tekanan tersendiri bagi David Moyes dan mantan punggawa Everton lainnya. Mereka seakan berkaca dan bertarung melawan diri mereka sendiri beberapa musim sebelumnya, yang tidak pernah sekalipun menang di Old Trafford.
Jika mereka berhasil mengatasi tekanan ini dan justru tampil lebih percaya diri, maka kesempatan besar untuk menyodok ke papan atas akan terbuka lebar. Namun, jika tidak, justru doa masa lalu Moyes akan terkabul. Ya, sebentuk doa, berupa keinginan Everton menang di Old Trafford, yang datang terlambat.
====
* Akun twitter penulis: @mildandaru @panditfootball
(din/rin)











































