sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Kamis, 19 Des 2013 13:38 WIB

Bakat vs Pembinaan (Bagian 3-Habis)

Jalan Panjang Itu Bernama Pembinaan

- detikSport
Getty Images/Ulet Ifansati
Jakarta - Sebelum kompetisi, dia calon bintang. Selama kompetisi, dia komandan di lapangan. Di akhir kompetisi, dia jadi pemain terbaik sekaligus top skor Piala Dunia U-17 2001. Sesudah kompetisi, dia dilupakan.

Cobalah korek-korek ingatan Anda. Masihkah nama Florent Sinama Pongolle membangkitkan cerita di benak? Di usia 16 tahun, pemain asal Prancis itu memang sudah membuat mata dunia terbelalak dengan aksi-aksinya di Piala Dunia U-17 2001. Tak heran jika Liverpool FC sempat melirik dan mengontraknya.

Patut diingat bahwa gelar pemain terbaik di Piala Dunia U-17 itu diraih bukannya tanpa persaingan. Nama-nama seperti Andres Iniesta, Fernando Torres, Carlos Teves, Javier Mascherano, Pablo Zabaleta, Franco Jara, dan Diego Ribas kala itu juga turut bermain di kompetisi yang sama. Mereka semua harus tersingkir dari turnamen setelah kalah dari Prancis berkat kecemerlangan Pongolle.

Namun ternyata karier Pongolle tidak secemerlang penampilannya di turnamen tersebut. Sempat dipinjamkan dua tahun ke Le Havre, Pongolle gagal bersinar di Liverpool hingga tahun 2005. Karier Pongolle sedikit membaik di klub Recreativo Huelva hingga Atletico Madrid merekrutnya dua tahun kemudian.

Hanya menyumbangkan 5 gol dari 45 penampilannya, Atletico pun terpaksa menjual Pongolle. Setelah berpindah-pindah klub, saat ini Pongolle bermain di klub Liga Rusia, FC Rostov.

Karier Pongolle memang tidak dapat dikatakan sangat buruk, karena ia bisa eksis di liga-liga papan atas Eropa. Hanya saja, jika dibandingkan dengan koleganya di Piala Dunia U-17 2001 yang disebutkan di atas, tentu kariernya terlihat tidak ada apa-apanya.

Pongolle sendiri bukan satu-satunya pemain yang memiliki jalan hidup seperti itu. Dari seluruh pemain Prancis yang mengikuti kompetisi itu, mungkin kita hanya mengenal Anthony Le Tallec (mantan pemain Liverpool) dan Hassan Yebda (mantan pemain Napoli, menjadi warga negara Aljazair) saja.

Berhasil terpilih menjadi pemain tim nasional U-17 tentu bukan prestasi sembarangan. Semua anak-anak yang bercita-cita menjadi pemain sepakbola juga akan berharap dapat membela negaranya sedini mungkin. Bahkan, ketika seorang anak terpilih masuk tim nasional U-17 tidak berlebihan jika kita mengatakan anak tersebut memiliki bakat untuk menjadi pemain besar di kemudian hari.

Namun bakat saja tidak cukup, masih terdapat proses panjang yang harus dilalui setelah itu. Seorang anak berbakat harus dibina untuk dapat menjadi pemain sepakbola profesional. Pembinaan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga potensi yang dimiliki anak-anak berbakat tersebut dapat dikeluarkan secara maksimal.
 


Tak Hanya Lapangan

K. Anders Ericcson, seorang psikolog asal Swedia, menyebutkan bahwa bakat (talent) hanya memegang sedikit peranan dalam perkembangan seseorang menjadi ahli di bidang tertentu. Pembinaan yang baiklah yang kemudian mengantarkan bakat tersebut menjadi expert di bidang tertentu.

Dalam kasus pemain sepakbola, pembinaan bukanlah sekadar pelatihan-pelatihan yang dilakukan di lapangan. Terdapat banyak faktor yang juga mempengaruhi perkembangan sebuah bakat. Keluarga, lingkungan, guru, teman-teman di sekolah, dan tetangga secara tidak langsung juga akan mempengaruhi. Faktor gizi, gaya hidup, kebiasaan yang kemudian mempengaruhi pertumbuhan fisik seorang anak.

Hal inilah yang sering dilupakan oleh banyak pelatih sepakbola. Banyak pelatih yang dengan keras melatih pemain-pemainnya di lapangan, namun lupa untuk mendidik anak tersebut di luar lapangan. Pembinaan yang terjadi di luar lapangan seringkali dianggap hanya memberikan dampak sampingan yang tidak terlalu signifikan.

Padahal banyak pemain sepakbola yang gagal akibat faktor-faktor di luar lapangan ini. Masih jelas di ingatan tentang karier Adriano, seorang pemain Brasil yang sempat menjadi bomber mematikan di Inter Milan. Faktor gaya hidup yang tidak baik kemudian menghabiskan karier pemain ini di usia yang masih muda. Adriano harus terbuang dari Inter pada umur yang seharusnya menjadi masa-masa keemasaannya.

Adriano bukanlah satu-satunya pemain yang memiliki karier seperti ini. Banyak pemain-pemain lain yang juga harus gagal menjadi pemain sepakbola karena gaya hidup, tidak disiplin dalam makanan, dan faktor luar lain di luar lapangan. Sebagian mungkin sempat sukses sebelum akhirnya terpuruk. Namun banyak yang sama sekali tidak merasakan buah dari bakat yang dimilikinya ketika kecil.

Rumitnya Sepakbola

Banyaknya kasus bakat yang tersia-siakan membuat para ahli olahraga mencari cara yang paling tepat untuk merubah bakat yang dimiliki menjadi atlet berkualitas.

Namun sepakbola adalah olahraga kompleks yang sulit untuk diperhitungkan. Sepakbola berbeda dengan olahraga seperti maraton, sprinter, atau lompat jauh. Olahraga-olahraga ini sudah memiliki karakteristik yang jelas untuk membedakan atlet berkualitas dan tidak, dengan menggunakan sifat fisiologi manusia. Pembinaan lalu akan diarahkan untuk membentuk manusia yang memiliki karakteristik tersebut.

Dalam sepakbola, banyak faktor yang berperan dalam menjadikan seorang anak berbakat jadi pemain profesional. Akibatnya belum ada metode baku yang dimiliki sepakbola dalam hal pembinaan. Setiap klub dan negara akan memiliki metodenya masing-masing untuk mencetak pemain bola.

Misalnya saja di Eropa. Prancis memiliki Clairefontaine, sementara klub-klub Inggris mengadopsi konsep "The Center of Excellence"-nya FA yang diterapkan di pusat pelatihan di Lilleshall. Atau, coba lihat bagaimana Jerman yang merevolusi pembinaan pemain mudanya pasca-Piala Dunia 2002, lalu kini meraup banyak sekali pemain muda berbakat.

Negara-negara ini memiliki metode tersendiri yang kadang bisa jauh berbeda. Bahkan, kala pertama kali menginjakkan kakinya di sepakbola Inggris, seorang Gerard Houllier (mantan kepala pengembangan teknikal di federasi Prancis) sempat terheran-heran melihat porsi pelatihan akademi di Inggris.

Cara termudah untuk menyelesaikan masalah tak ada patokan baku ini adalah dengan menjadikan pemain sepakbola seperti apa yang ingin kita dapat di masa depan. Ini karena setiap posisi dalam sepakbola akan memiliki karakterisktiknya masing-masing. Seorang kiper tentu akan berbeda dengan striker, begitu juga dengan posisi lainnya seperti bek tengah, bek sayap, gelandang, dan pemain sayap.

Anggap saja kiper terbaik pada saat ini adalah Gianluigi Buffon, maka pembinaan terhadap kiper-kiper muda akan diarahkan untuk menjadi seperti Gianluigi Buffon. Sifat fisiologis dan psikologis diarahkan untuk menjadi seperti seorang Buffon. Dengan menghilangkan sifat yang dinilai kurang dari Buffon, maka diharapkan akan muncul kiper yang lebih baik dari Buffon di masa depan.

Satu hal lain yang menjadi momok pengembangan anak-anak berbakat adalah cedera. Cedera adalah sebuah mimpi buruk bagi semua atlet. Tidak ada cara untuk menghindari cedera dan parahnya adalah kita tidak pernah bisa tahu kapan cedera akan datang.

Yang bisa dilakukan hanyalah membuat kemungkinan cedera sekecil mungkin. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan di bidang olahraga, pembinaan yang baik akan juga memperhitungkan beban maksimal yang masih aman bagi tubuh.

Porsi latihan yang tidak berlebihan, metode yang sesuai dengan perkembangan yang diinginkan, dan menggunakan peralatan-peralatan yang tidak membahayakan atlet, akan membuat ancaman cedera menjadi seminimal mungkin.

Semua faktor-faktor tersebut menjadi hal yang harus menjadi hal yang diperhatikan dalam pembinaan bakat menjadi seorang pemain sepakbola profesional. Pelatih dan seluruh staf-nya bertanggung jawab untuk memperhatikan hal-hal tersebut, baik yang di dalam maupun luar lapangan.
Pemain yang sukses di ajang kejuaraan usia muda belum tentu akan juga sukses di ajang profesional. Sebaliknya, anak-anak yang tidak menonjol di usia muda belum tentu gagal di dunia profesional.

Jika kita lihat para peraih penghargaan pemain terbaik ajang Piala Dunia U-17, sebagian memang ada yang kemudian menjadi pemain besar dunia. Kita mengenal Cesc Fabregas dan London Donovan --pemain terbaik di usia muda-- yang memiliki karier cemerlang.

Namun, karier cemerlang bukan diraih dari prestasinya ketika muda. Dengan modal bakat yang telah dimiliki di saat muda, pembinaanlah yang kemudian mencetak pemain-pemain kelas dunia. Pembinaan akan melalui tahapan panjang dengan berbagai macam faktor yang harus menjadi perhatian. Dari sini, baru kita bisa berharap melihat atlet-atlet berkualitas yang siap bertarung di pentas dunia.
 


====

*akun Twitter penulis: @aabimanyuu
*Foto-foto: Getty Images

Baca Juga
Bakat vs Pembinaan (Bagian 1): Menciptakan Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo?
Bakat vs Pembinaan (Bagian 2): Menjawab Pertanyaan: 'Dari Mana Datangnya Anak-anak Berbakat?'


(roz/cas)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com