"Mereka sebut kami 'kepompong'," ujar Diego Forlan sebelum ia resmi meninggalkan Atletico Madrid pada akhir musim 2011 lalu. "Atleti (memang) memiliki pemain untuk bisa menjadi tim bagus, tapi tidak untuk dianggap jadi tim yang terbaik," tambahnya lagi.
Kalimat striker asal Uruguay itu ada benarnya. Apapun yang Atletico perbuat dan raih, mereka seolah tetap terkungkung oleh hegemoni dan nama besar sang rival sekota, Real Madrid. Di mata Spanyol dan di mata dunia, sang tetangga memang yang terbaik.
Ini terutama terjadi dalam satu dekade terakhir. Pada saat Real Madrid mempertontonkan piala demi piala dalam parade kemenangan, Atleti hanya bisa menonton dari balik jendela sambil meringis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saking seringnya tertutup oleh bayang-bayang Los Galacticos, fans Atletico pun seolah sudah menerima "kodrat"-nya. Bahwa arti menjadi fans Atletico adalah mengalami dan memahami penderitaan yang dialami klub. Bahwa kalah dari Real adalah satu takdir yang tak perlu ditanyakan "mengapa" dan "bagaimana"-nya.
Sebagaimana disebutkan oleh seorang jurnalis sepakbola Spanyol, Sid Lowe, dalam kolomnya. Salah satu kelompok fans Atletico pun ada yang menamakan dirinya sebagai "The Suffering", atau mereka yang menderita.
Padahal, tim ini sebenarnya tak medioker-medioker amat. Deretan nama pemain hebat dunia muncul mengenakan jersey bergaris Merah-Putih ini. Mulai Christian Vieri, Fernando Torres, David de Gea, Diego Forlan, Sergio Aguero, hingga yang numpang lewat semusim macam Radamel Falcao.
Atletico pun bagus karena pemain-pemain ini juga. Tapi, mereka seolah tak bersinar. Kalah dengan pancaran sinar dari gugusan bintang di Santiago Bernabeu yang menyilaukan mata. Silau karena banderol mahal yang terpampang kala mereka diperkenalkan oleh Real di awal musim.
Padahal, jika takaran kebesaran sebuah klub adalah prestasi, setidaknya Atleti boleh lho disebut tim terbaik di Eropa. Dalam empat musim terakhir ini, trofi UEFA Super Cup dua kali diraih pada musim 2010 dan 2012. Trofi ini adalah gelar raja diraja Eropa, karena mempertemukan juara Europa League dengan Champions League. Kurang apa coba?
Label liga kasta kedua yang biasa kita sematkan untuk Europa League lah yang sedikit banyak membuat Atleti tetap saja dipandang sebelah mata. Meski mampu mengalahkan tim juara kasta tertinggi, Atleti tetaplah tim yang berasal dari liga kasta kedua Eropa.
Sama halnya dengan Eropa, di Spanyol pun nasib Atletico begitu-begitu juga. Di negeri juara Piala Dunia 2010 itu, siapapun tim yang mulai mentereng, mereka tetap akan berada di bawah Barcelona dan Real Madrid. Atletico, yang kebetulan kali ini berada di peringkat tiga La Liga, hanya dianggap klub ketiga terbaik di Spanyol. Malah kalau ditakar dari prestasi domestik, mereka menjadi yang keempat setelah Valencia.
Setali tiga uang, di Madrid pun juga begitu. Atletico tetap saja di bawah bayang-bayang Los Galacticos. Mereka menjadi tim kedua menyusul kemudian Getafe, Rayo Vallecano, dan Alcorcon.
Keluar dari Kepompong?
Sebutan tim kepompong memang selalu tersemat di Atletico karena mereka hanya tim kelas kedua. Mereka memang bisa melahirkan kupu-kupu, tapi tak pernah bisa menjadi kupu-kupu yang indah, kupu merah putih yang terbang menghiasi langit putih Madrid.
Atletico juga seperti terkurung dalam kepompong di bawah bayang-bayang nama besar sang rival. Mungkin, mereka baru bisa keluar dan bisa setara dengan Real, masuk tiga terbaik di Spanyol, dan disegani di Eropa, jika mereka menjadi juara La Liga dan Liga Champions.
Jalur menuju kesetaraan dengan Real dan Barca mulai tahun depan akan terbuka bagi Atleti dan klub-klub Spanyol lainnya. Saat ini santer beredar kabar kalau regulasi Spanyol akan membatasi pendapatan hak siar duopoli Barca dan Real. Mereka tak ingin ada kesenjangan yang cukup jauh antara dua klub tersebut dengan klub-klub kecil Spanyol lainnya. Sebab, pendapatan hak siar Barca atau Real enam setengah kali lipat ketimbang pendapatan klub-klub kecil.
Klub-klub selain Barca dan Real tahun depan akan diberi jalan untuk mendapatkan pendapatan hak siar yang mendekati atau mungkin sama dengan apa yang diraih duopoli itu. Agar mereka juga bisa belanja pemain besar dan membuat persaingan kian sengit.
Sebenarnya, tanpa kebijakan tersebut, dan tanpa menggunakan jalan pintas belanja besar-besaran ala Manchester City atau Paris Saint Germaint, Atletico masih punya peluang untuk bisa disebut setara. Mereka masih punya kans untuk merebut gelar La Liga dan Liga Champions musim ini.
Di Liga Champion, Atleti boleh dibilang sudah setara dengan Real dan Barca. Satu kaki sudah berada di pertempat final setelah sama-sama memetik kemenangan tandang. Atletico baru saja memecundangi tim dengan tradisi Liga Champions, AC Milan, di San Siro.
Sementara di La Liga, Atletico musim ini menjelma menjadi tim yang menakutkan. Mereka melakukan start meyakinkan dengan memetik kemenangan berturut-turut di delapan laga. Langkah mereka baru terhenti saat tandang ke Espanyol 20 Oktober lalu.
Entrenador Diego Simeone musim ini melecut semangat Diego Costa dkk dengan semangat double winner 1996. Tahun di mana juara La Liga terakhir kalinya direbut Atletico. Dua trofi yang direbut saat Simeone menjadi pemain El Atleti. Namun semangat double winner yang dimaksud Simeone adalah lebih kepada "persaingan dobel", baik di liga ataupun persaingan antar pemain untuk merebut tempat utama di tim. "Jika tidak ada persaingan antar pemain, maka tim ini akan mati," tegas Simeone mengenai filosofinya.
Perubahan Atletico untuk bisa menyodok hegemoni duopoli La Liga cukup terbukti sejauh ini. Barcelona mereka tahan 0-0 di Vicente Calderon, sementara El Real dipermalukan oleh gol tunggal Diego Costa di Bernabeu.
Jika musim lalu mereka finis di peringkat ketiga dengan tercecer 24 angka dari Barca sang juara, dan tertinggal 9 poin dari Real, musim ini Atletico lebih baik. Mereka tertinggal tiga angka saja dari Real yang bertengger di puncak klasemen.
Para pemain Atletico pun sudah yakin jauh-jauh hari kalau mereka bakal terus di puncak. "Aku dulu berpikir, kalaupun meninggalkan Barca aku akan memilih klub Premier League. Tapikemudian Atletico menawariku. Dan ternyata aku tidak membuat pilihan yang salah. Juara? Lihat saja akan ada di mana kami Maret nanti," tegas David Villa akhir tahun lalu.
Peluang juara liga domestik bagi Atletico memang belum tertutup dan akan dimulai Maret ini. Masih ada 13 laga tersisa dan diawali akhir pekan ini melawan seteru sekota. Nah, inilah yang membuat Derby Madrid akhir pekan ini akan memanas.
Derby ibu kota Spanyol kali ini akan sepanas El Clasico yang dianggap lebih tinggi kastanya ketimbang Derby Madrid. Kengerian mungkin akan tercipta, intensitasnya tak setinggi derby Fenerbahce-Galatasary atau Celtic-Rangers. Yang pasti, tanpa diungkit-ungkit lagi sejarah tentang dianaktirikannya Atletico oleh diktator Francisco Franco yang memilih Real Madrid untuk didanai besar-besaran, derby nanti akan berlangsung seru, sengit, panas dan memiliki tensi tinggi.
Atletico memang belum bisa merebut puncak di awal Maret ini. Memenangi derbi Madrid pun mungkin hanya membuat mereka masih berada di peringkat ketiga. Lagi-lagi duopoli klub Spanyol penyebabnya. Jika tiga angka didapatkan Atletico, mereka masih kalah beda gol dengan Real dan Barca yang pekan ini akan menjamu tim lemah Almeria.
Walau demikian, kemenangan adalah hal yang penting bagi Atletico jika mereka ingin tetap on the right track dan sedikit membuka kulit kepompongnya. Menang di derbi ini berarti mereka akan memecundangi Real dua kali di La Liga.
Bermain di kandang, di depan publik sendiri, kans tiga angka untuk kembali direbut cukup terbuka, bagi Atletico. Tapi, untuk merebut kemenangan agar bisa berubah dari kepompong menjadi kupu-kupu, mereka masih harus membuktikan konsistensinya dan membantah anggapan yang menyebut Atletico mulai 'kehabisan bensin'.
Dan, pembuktian itu ada pada Minggu malam ini.
====
* Akun twitter penulis: @fjrhman dari Pandit Football Indonesia
(krs/krs)











































