Kedatangan Pep Guardiola pada skuat yang sudah bertabur bintang dengan mentalitas juara ini memang sangat dinanti-nanti orang. Dan, hingga Februari 2014, mereka mampu memenuhi ekspektasi tersebut. Bayern bahkan memecahkan rekor tidak terkalahkan Hamburg yang telah ada semenjak tahun 1983 (36 kali tak terkalahkan). Selain dominasi di Bundesliga, Philipp Lahm dkk. juga masih menyisakan satu laga final DFB Pokal pada akhir pekan nanti.
Tetapi, ketidakberhasilan memang sudah terlanjur dilekatkan ke tim ini setelah tak mampu melaju ke final Liga Champion karena kalah telak secara agregat dari Real Madrid.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terlalu dini memang menganggap tim ini gagal hanya karena gagal ke final Liga Champions atau mengulangi raihan jadi kampiun Eropa. Patut diingat, bahwa lebih dari 20 tahun tak ada satupun tim yang mampu dua kali berturut-turut juara Eropa. Barcelona-nya Pep tidak mampu melakukannya, juga Manchester United-nya Alex Ferguson, dan tidak pula AC Milan-nya Carlo Ancelotti.
Ekspektasi mengulangi raihan yang sama dengan Jupp Heynckes dengan cara yang lebih stylish memang kelewat melambung tinggi. Apalagi Pep sering kali melakukan variasi taktik yang dianggap menghambat laju timnya sendiri.
Banyaknya utak-atik yang dilakukan oleh Pep musim ini membuat Bayern seperti tak punya formasi baku. Ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Jupp Heynckes sebelumnya saat memborong gelar dalam satu musim.
Mengandalkan duet inverted winger Robben dan Ribery, Bayern meraih kesuksesan yang luar biasa. Transformasi yang dilakukan Heynckes pada masa akhir karier kepelatihannya membuat tim ibukota ini sulit dibendung, meski sejatinya tim ini memang sudah mempunyai tradisi juara yang panjang.
Berbahaya dalam menyerang, namun tangguh dalam bertahan adalah Bayern musim lalu. Kekuatan yang akhirnya dibongkar secara perlahan oleh Pep.
Membangun La Masia Baru
"Diciptakan" dan kemudian besar di Barcelona membuat Pep Guardiola tak akan bisa jauh-jauh dari klub Catalan tersebut. Termasuk soal filosofi bermain. Tak heran jika lulusan akademi La Masia ini membawa aroma yang hampir serupa di Munich.
Formasi 4-2-3-1 yang dipakai Heynckes musim lalu diubah menjadi 4-1-4-1 saat awal Pep datang ke kota Munich. Dua poros ganda digantikan dengan hanya satu saja. Dan, jika dilihat sepintas, formasi ini memang mirip 4-3-3 yang dipakai Barcelona. Hanya saja terdapat penyesuaian di sektor sayap, untuk mengakomodir keberadaan dua winger, yakni Robben dan Ribery.
Bermain menggunakan gaya tiki-taka dengan mengutamakan penguasaan bola secara dominan, skema ini tentu mirip dengan yang dibangun Pep dulu di Catalan. Lalu, para pemain dipaksa untuk bekerja keras dalam latihan untuk mengembangkannya.
Pada awal musim lalu, beberapa punggawa Munich sendiri sempat mengeluhkan skema yang digunakan Pep. Salah satunya adalah Ribery. Menurut pemain Prancis itu, formasi yang dipakai sang manajer sangat aneh.
Penerapan skema tiki-taka juga membuat para pemain Bayern harus melakukan banyak penyesuaian, terutama pada lini depan. Jika sebelumnya dua inverted winger, Robben dan Ribery, diberi keleluasaan dalam bergerak, kini keduanya mulai dibatasi.
Sebagai tumpuan utama dalam menyerang, duet ini memang seringkali menjadi senjata pamungkas Bayern. Dengan kemampuan menggiring bola yang jempolan, keduanya acap mampu menembus tembok pertahanan lawan yang kelewat kokoh.
Dengan skema Pep, keduanya memang sedikit diredam. Ini karena Bayern mengutamakan penguasaan bola, sehingga jika memang tak ada peluang terbuka, Robben dan Ribery akan lebih memilih mengumpan bola daripada memaksa masuk ke kotak penalti.
Selain itu efek lain dari penerapan tiki-taka adalah digunakannya garis pertahanan tinggi. Bahkan kiper Manuel Neuer kini punya tugas baru sebagai sweeper sekaligus pembagi bola pertama di belakang. Efek tersebut kemudian merembet ke soal pertahanan. The Bavarians masih kerepotan menghadapi serangan balik cepat.
Contohnya adalah pada di ajang Liga Champions lalu. Sebelum dihajar oleh kecepatan Cristiano Ronaldo dan Gareth Bale pada semifinal, Philipp Lahm dkk. bahkan masih harus bersusah payah menghadapi akselerasi Danny Welbeck saat Bayern bertemu dengan Manchester United.
Belum lagi soal hal-hal sederhana namun krusial seperti menghadapi eksekusi bola mati. Masalah yang hampir sama dialami Barcelona sekarang, tim yang sedikit banyak masih mewarisi taktik Pep dahulu.
Proses Adaptasi Cepat
Menilik pada prestasi dan permainan Bayern musim lalu, rasanya memang tak diperlukan ada perombakan besar-besaran seperti sekarang ini. Tapi sosok yang berada di belakang kursi kendali memang bukan orang yang senang berdiam diri dan menerima limpahan kesuksesan begitu saja. Pep, bagaimanapun juga, adalah seorang pemikir yang senang bereksplorasi.
Jika tetap memakai sistem yang dibangun oleh Heynckes musim lalu, Pep bisa saja tetap bermain cemerlang. Namun akan sulit untuk mengembangkannya pada musim selanjutnya. Maka apa yang dilakukannya sekarang adalah membangun sistem mulai dari fondasi awal. Melalui berbagai eksperimen gila yang ia terapkan pada Bayern.
Sebenarnya tak mudah untuk menerapkan apa yang Pep inginkan hanya dalam satu musim. Mesti diingat bahwa ketika Pep meraih berbagai gelar dengan Barcelona, tim tersebut sudah mempraktikkan gaya tiki-taka sejak berada di akademi.
Untungnya Pep didukung oleh berbagai faktor yang kuat. Ia mendapatkan kapasitas skuat yang lebih dari memadai, serta didukung kantong finansial dan ambisi besar seluruh tim Bayern. Akibatnya, meski banyak skema diterapkan oleh Pep, permainan timnya masih terhitung stabil.
Memindahkan Lahm ke tengah untuk menjadi gelandang, kemudian bertumpu pada dua fullback untuk memaksimalkan penguasaan bola, merupakan sebagian dari utak-utik yang diterapkan Pep di Bayern. Tingginya jumlah rotasi yang dilakukan Pep sepanjang musim ini juga membuktikan bagaimana ia mempunyai variasi taktik yang beragam. Satu faktor yang membedakan timnya di Barca dan Bayern.
Ya, jika kita mengingat bagaimana Barca bermain ketika ditangani oleh Pep, nyaris tak ada perubahan yang aneh-aneh yang ia sempat lakukan. Selain karena sistem di Barcelona yang memang sudah terbentuk lama, dahulu Pep mempunyai Tito Vilanova asisten yang banyak membantunya. Ketika otak Pep Guardiola mulai memuntahkan berbagai ide gila, Tito adalah orang yang meredamnya.
Apalagi Munich bukanlah Barcelona, kota di mana Pep mengenal tiap jengkal sudut kota dan segala macam isi di dalamnya. Butuh proses untuk mengembalikan kembali dominasinya seperti dahulu mengangani Barcelona, tim yang disebut oleh Sir Alex sebagai lawan terberat sepanjang kariernya.
Kini, berbagai pilihan taktik yang diterapkan adalah bukti bahwa permainan Bayern sedang berkembang. Namun, pertanyaan besarnya adalah kapan Pep akan menemukan taktik yang bakal menjadi andalannya?
Istana yang dibangun oleh Pep mulai terlihat dari kejauhan, meski belum bisa memancarkan aura kemegahan. Pada akhirnya, masa yang akan menjawab apakah istana barunya akan berdiri megah atau hancur sebelum jadi.
Tetapi jika melihat fondasi yang ia bangun sekarang --juara Bundesliga, semi final Liga Champions, dan final DFB Pokal-- dengan segala material yang mendukung termasuk pengalaman sebelumnya, nampaknya kerajaan baru Pep Guardiola akan segera berdiri lebih cepat musim depan.
====
*ditulis oleh @mildandaru dari @panditfootball
(roz/rin)











































