Sentimen Kelas Sosial dan Klub-Klub Brasil

- Sepakbola
Jumat, 06 Jun 2014 16:12 WIB
Foto-foto: AFP
Jakarta -

"Silencio na favela…. Silencio na favela!! (diam saja di favela… diam saja di perkampungan miskin)," teriak fans Fluminense, saat timnya berhasil mengalahkan Flamengo.

Dua kalimat di atas bisa menggambarkan dengan gamblang wajah sepakbola Brasil. Secara historis, klub-klub di negeri capoeira ini lahir dari sentimen atas para imigran kulit putih yang hendak memonopoli sepakbola.

Memang, sudah bukan rahasia, jika pada masa awal sepakbola menyebar di Brasil, permainan ini dimonopoli oleh mereka yang ningrat saja (baca: Catatan Atas Lahirnya Futbolarte Brasil).

Mereka yang miskin, terlebih lagi yang berkulit hitam, tak boleh sedikitpun mendapat akses untuk mengenal sepakbola. Apa yang dibawa imigran ataupun para terpelajar dari Eropa sana memang hanya boleh dinikmati oleh yang punya derajat sama.

Hal itulah yang menyebabkan sepakbola di Brasil selalu tersekat-sekat dan terbagi berdasarkan kelas-kelas sosial yang ada. Secara perlahan, hal ini akan membentuk sebuah stratifikasi sosial yang bahkan masih mengakar hingga hari ini.



Rio Kota Pelabuhan

Menelusuri sejarah sepakbola Brasil haruslah bertandang ke Rio. Pasalnya, kota inilah yang jadi cerminan bagaimana klub di Brasil merepresentasikan pembedaan sosial.

Salah satunya adalah Fluminense, salah satu klub tertua bangsa samba. Klub yang didirikan pada 1902 ini awalnya memang hanya untuk bangsawan kota Rio De Janeiro. Tim ini adalah tim para aristokrat. Bahkan tak sekadar itu. Laga-laga Fluminense kerap dianggap sebagai ajang pamer bagi para sosialita dan bangsawan Rio.

Namun, beberapa waktu kemudian semua berubah. Pada 1911, lahirlah sang saudara tiri, Flamengo. Didirikan oleh beberapa pemain Fluminense yang memutuskan untuk keluar, klub ini justru dimiliki oleh mereka yang miskin. Klub untuk mereka yang tinggal di favela.

Meski hanya sempalan dan hanya didukung masyarakat miskin, pada kemudian hari, Flamengo justru tampil lebih hebat dibanding saudara tuanya.

Demikian pula soal pendukung. Flamengo lebih banyak mempunyai pendukung dibanding Fluminense. Atas dasar senasib dan sepenanggungan, sebagian besar masyarakat Brasil --yang didominasi kulit hitam dan para buruh—memang lebih mengelu-elukan Flamengo. Akhirnya, yang termarjinalkan memiliki wakil di lapangan hijau.

Lantaran kebanyakan Flamenguiste (fans Flamengo) adalah orang-orang berkulit hitam, mereka selalu diejek dengan sebutan "penghuni lumpur" oleh para fans Fluminense. Cemoohan yang dianggap angin lalu, karena mereka terus bertambah besar dan besar lagi. Bahkan mereka yang tinggal nun jauh di pedalaman Amazon sekali pun mengibarkan panji Flamengo.

Tak heran banyak orang menilai jersey Flamengo lebih mewakilii Brasil ketimbang jersey timnas sendiri.



Tapi tidak hanya kaum miskin dan kaya saja yang memiliki klub. Kaum terpelajar Rio pun tak mau kalah. Para mahasiswa yang ingin bermain bola, namun enggan terjerembab dalam konflik kaya-miskin, juga mendirikan tim sendiri.

Mereka adalah para pelajar dari Alfredo Gomes College. Dan klub yang didirikan adalah Botafogo de Futebol e Regatas. Awalnya, Botafogo hanya sebuah unit kegiatan mahasiswa, namun lama kelamaan klub itu menjadi besar, lantaran disokong oleh kelas menengah kota Rio De Janeiro.

Sebagai kota pelabuhan, Rio sendiri sering disinggahi oleh para pelaut, terutama asal Portugis –-bangsa yang pernah menjajah Brasil. Dengan alasan bahwa strata sosial mereka lebih tinggi daripada warga pribumi maupun imigran, para pelaut ini pun latah dan membuat sebuah klub.

Terinspirasi oleh salah satu pelaut terhebat Portugis, mereka menamai klub dengan nama Vasco da Gama. Karena dibuat oleh orang Portugis, maka klub ini hanya diperuntukkan bagi peranakan Portugis yang ada di Rio.

Ya, menjadi kota pelabuhan dan pusat bisnis memang telah membuat klub yang lahir di Rio De Janerio begitu beragam. Tak pelak, di kota Rio, dukungan pada satu klub juga merepresentasikan status sosial seseorang.

Sao Paulo

Seperti halnya di Rio, klub-klub yang lahir di Sao Paulo juga lahir sebagai representasi strata sosial.

Jika di Rio sepakbola dikuasai oleh para elit, tidak demikian Sao Paulo. Di kota ini sepakbola justru berkembang lebih awal dikalangan pekerja perusahaan kereta api, karena memang itu yang dikerjakan Charles Miller, orang yang membawa bola pertama kalinya ke tanah Brasil. Ia memainkan sepakbola bersama para pekerja di sela-sela waktu luang.

Tapi, meski menjadi kota pertama yang mengenal sepakbola, Sao Paulo tak serta merta langsung memiliki klub. Sao Paulo harus menunggu sampai tahun 1910 untuk punya klub lokal.

Selepas menonton pertandingan klub asal London, Corinthias, yang bertandang ke Basil, lima pekerja kota Sao Paulo, yaitu Joaquim Ambrose, Anthony Pereira (tukang cat), Rafael Perrone (tukang sol sepatu), Anselmo Correia (sopir), dan Carlos Silva (buruh), sepakat untuk membuat sebuah klub. Tepatnya sehari berselang dari kedatangan Corinthias, pada 1 September 1910.

Lantaran terkesima dengan penampilan klub Britania itu, mereka menamai klub sama persis dengan klub disaksikan sehari sebelumnya. Itulah mengapa, saat Corinthias berulang tahun, para fans selalu menyempatkan diri pergi ke Inggris. Mereka melakukan pertandingan persahabatan dengan saudara tuanya, Corinthias FC, yang berbasis di London.

Kelahiran Corinthias sendiri disambut hangat oleh para penduduk Sao Saulo yang mayoritas para buruh. Hanya butuh waktu dua tahun bagi Corinthias untuk bisa bergabung di Liga Paulista, liga paling elit di Brasil saat itu.



Melihat tetangga kotanya sudah memiliki klub. Warga kota Santos pun ingin berbuat sama. Diinisiasi oleh para pelajar, pada tahun 1912, kota itu akhirnya punya klub sendiri. Santos namanya.

Santos adalah penggabungan dari dua klub amatir, yaitu Clube Atletico Internacional dan Sport Club Americano. Di kemudian hari, Santos tak tak henti-hentinya menelurkan pemain berbakat Brasil. Nama-nama seperti Pele, Zavlet, Mauro Ramos, dan yang terbaru Neymar, adalah pesepakbola yang tumbuh dan berkembang di klub ini.

Mirip dengan yang terjadi di Rio, para imigran yang mayoritas berasal dari Itali pun ikut latah membuat klub. Mereka menamainya Palestra Italia. Namun, lantaran adanya larangan penggunaan entitas negara saat perang dunia berlangsung, pada tahun1942, Palestra Italia berubah nama menjadi Palmeiras.

Ada satu hal yang membedakan Palmeiras dengan klub imigran lainnya, Vasco da Gama. Palmeiras tak bersifat elitis. Maklum keturunan Italia datang ke Amerika Selatan memang untuk mencari pekerjaan, bukan menguasai. Dan mereka justru membantu menyelamatkan kelangsungan hidup klub Sao Paulo yang timbul tenggelam akibat terlilit masalah keuangan.

Atas bantuan Palmeiras, Sao paulo lahir pada tahun 1935, hasil merger dengan klub Paulistano. Itulah sebabnya di seragam Sao Paulo bagian dada melintang warna hitam-putih-merah. Hitam-putih adalah warna jersey Palmeiras sewaktu bernama Palestra Italia, sementara merah warna adalah kebanggaan Paulistano.

Rio Grande do Sul

Sebagai sebuah kota pelabuhan di negara bagian Rio Grande do Sul, Porto Alegre memainkan peran penting. Dari pelabuhan itulah hasil pertanian dan industri diekspor.

Pada abad ke-19, kota Porto Alegere didominasi oleh para imigran Jerman. Kala itu, di daerah itu hanya ada dua klub sepakbola, Fussball dan Gremio Porto Alegrense. Keduanya milik orang Jerman dan diperuntukkan bagi keturunan Jerman. Hingga akhirnya Henrique bersaudara, Jose Luis dan Poppe, pindah dari Sao Paulo ke Porto Alegre.

Mereka mulai mulai jengah dengan kondisi persepakbolaan Brasil yang terkotak-kotak. Bersama 40 rekannya, Henrique bersaudara mengadakan pertemuan. Tujuannya satu, membuat sebuah klub yang bisa menjadi wadah bagi semua orang. Tak peduli warna kulit, strata sosial, ataupun asal-usul mereka.

Atas semangat itulah, pada 4 April 1909, Henrique dan teman-temannya mendirikan sebuah klub yang dinamai SC Internacional.

Minas Gerais

Jika kota-kota lain mengenal sepakbola karena pelabuhan dan kereta, lain cerita dengan Belo Horizonte. Kota yang terletak di negara bagian Minas Gerais ini justru bisa bermain bola dan mempunyai klub karena serangga!

Dahulu, Belo Horizonte masih dipenuhi hutan lebat yang kaya akan jenis-jenis serangga. Dan serangga asal Belo Horizonte ini terkenal cantik serta punya daya tarik tersendiri di mata para kolektor.

Di Eropa, para kolektor Prancis menugaskan anak-anak Belo Horizonte untuk mencari serangga, lalu mengirimkannya ke Prancis. Sebagai bayaran, para kolektor serangga itu mengirimkan bola. Anak-anak ini pun senang bukan kepalang. Mereka lalu bermain bola setiap waktu.

Mendengar kota lain sudah memiliki klub, mereka kemudian melakukan hal yang sama. Diinisiasi oleh 22 pemuda lokal, pada 25 Maret 1908, akhirnya Belo Horizonte mempunyai klub bola. Mereka menamainya Atletico Mineiro.

Tak jauh beda dengan berbagai negara bagian yang ada di Brasil, Belo Horizonte pun juga menjadi tempat tinggal para imigran, khususnya asal Italia. Lantaran enggan bergabung dengan para penduduk lokal, imigran Italia bersama oriundi juga mendirikan klub.

Awalnya bernama Societa Sportiva Palestra Italia. Namun, sama halnya dengan Palmeiras, saat Perang Dunia II berlangsung mereka terpaksa berganti nama. Akhirnya yang dipilih adalah nama Cruzeiro, nama yang hingga kini jadi musuh bebuyutan Atletico Mineiro.

***

Terlepas dari nama-nama yang disebutkan di atas, sebagai sebuah negara sepakbola, Brasil sendiri punya banyak klub. Bahkan, sangat tidak mungkin menentukan jumlah persis klub profesional yang ada di Brasil hari ini.

Salah satu media Brasil, Placar, menyatakan ada 302 klub profesional yang berlaga di semua kompetisi. Sementara itu, Marco Aurellio Klein dalam tulisannya yang berjudul Futebol Brasilero menyatakan ada 531 klub yang terbagi dalam 27 liga profesional negara bagian.

Memang belum ada yang menyatakan berapa jumlah pasti. Tapi, sudah dapat dipastikan bahwa lahirnya klub-klub di Brasil pasti diawali oleh sentimen. Entah sentimen antara si kaya dan si miskin, atau sentimen antara yang lokal dengan para imigran. Karena semenjak semula sepakbola dikenalkan ke Brasil, demikianlah wajah negeri itu.

====

* Akun twitter penulis: @prasetypo dari @panditfootball



(a2s/mfi)