Pun begitu dengan skuat Juventus.
Kala itu, Antonio Conte kembali mengumpulkan anak buahnya pada Senin, 14 Juli, di Vinovo --tak digelar di Chatillon seperti tahun lalu dengan alasan pemain Juve yang membela tim nasional belum bisa bergabung dengan tim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun keesokan harinya, tanpa disangka-sangka Antonio Conte menyatakan mundur dari kursi kepelatihan. Ia mengatakannya lewat video yang diunggah di situs klub. Tak lama kemudian, akun Twitter resmi Juve [@juventusfc] pun mengonfirmasi mundurnya pelatih berusia 44 tahun tersebut. Kabar itu bak petir di siang bolong bagi Juventini. Sungguh mengagetkan, karena sehari sebelumnya Conte masih menunjukkan batang hidungnya pada sesi latihan perdana.
Maka kemudian muncul pertanyaan, apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang membuat Conte begitu cepat mengambil keputusan untuk mundur?
Berbagai macam spekulasi muncul untuk menjawab semua pertanyaan di atas. Ada yang mengatakan Conte takut kehilangan pemain-pemain andalannya, ada pula yang perpendapat bahwa Conte mundur karena ingin melatih tim nasional Italia.
Namun, berdasarkan pandangan kami, masalah pembelian pemain-lah yang menjadi alasan Conte meninggalkan Juventus. Setelah situs resmi Juventus mengumumkan pengunduran diri Conte, tak lama kemudian presiden klub, Andrea Agnelli, angkat bicara lewat surat terbuka.

Tersirat dari surat tersebut, keputusan pengunduran Conte itu sesunggunya jadi sebuah dilema bagi Andrea Agnelli. Berat baginya harus memilih antara Conte dengan ego-nya [yang menginginkan beberapa pemain kelas dunia] atau tetap berjuang dengan pemain seadanya untuk meraih prestasi yang lebih baik.
Pada paragraf ke-5 Agnelli mengatakan: "Juventus akan memulai kembali dengan skuat yang penuh talenta, pesepakbola profesional yang akan mengerahkan segala kemampuan untuk pelatih barunya, lalu menuliskan [prestasi] saat ini maupun masa depan."
Kalimat itu seolah menggambarkan pendapat Agnelli bahwa skuat yang ada saat ini pun sebenarnya bisa berprestasi lebih baik. Apalagi di paragraf sebelumnya Agnelli menyinggung tentang keberhasilan pembinaan pemain muda. Hal yang tentunya bersebrangan dengan cita-cita Conte yang ingin membawa Juventus juara Liga Champions musim depan.
Kegagalan Mendapatkan Sanchez dan Iturbe
Spekulasi terkuat yang menjadi penyebab mundurnya Conte adalah terkait kegagalan Juve memboyong pemain yang diinginkannya. Sepertinya mantan pelatih Atalanta itu telah berada di batas kesabaran melihat pemain-pemain incarannya tak kunjung tiba.
Pada bursa transfer musim ini, Conte sempat menyiapkan beberapa nama untuk memperkuat skuat Juventus. Setelah berhasil membangkitkan Juve dari keterpurukan dan menjadi penguasa di Serie A dalam 3 musim terakhir, Conte menargetkan Juve bisa berbuat banyak di kompetisi Eropa musim depan. Maklum, ketika Juve berlaga di kompetisi Eropa, mereka tak mampu bermain sebaik kala berlaga di liga domestik. Alasannya sederhana, Juve tak memiliki skuat yang cukup tangguh untuk berlaga di Eropa.
Hal itu jelas masuk akal mengingat Juventus pernah ditundukkan oleh Bayern Munich dengan Arjen Robben-nya dua musim lalu. Pun begitu dengan musim lalu ketika mereka tak mampu mengalahkan tim bertabur bintang, Real Madrid, dan juga Galatasaray yang memiliki top class player seperti Wesley Sneijder dan Didier Drogba.
Maka nama-nama seperti Alexis Sanchez, Juan Cuadrado, Patrice Evra, Juan Iturbe, hingga Andrea Ranocchia dikabarkan menjadi pemain incaran Conte. Kelimanya dianggap mampu menyempurnakan formasi 4-3-3 yang akan Conte gunakan kala berlaga di kompetisi Eropa musim depan.
Conte menganggap bahwa formasi 3-5-2 nya saat ini tak sanggup bersaing di Eropa.
Namun, pada nyatanya petinggi Juve tak mampu memberikan yang diinginkan Conte. Target utamanya, Alexis Sanchez, memilih bergabung dengan Arsenal. Tawaran Si Nyonya Besar pada Barcelona dinilai terlalu murah, meski sang pemain menyatakan kesiapannya berseragam Bianconeri.
Sebagai ganti, Conte menyodorkan nama Iturbe yang tipikal permainannya tak jauh berbeda dengan Sanchez. Pemain yang musim lalu bermain untuk Hellas Verona ini sangat ideal bermain sebagai penyerang sayap pada formasi 4-3-3, tipikal pemain yang memang sangat dibutuhkan Conte.
Juve pun kemudian bergerak cepat untuk mendapatkan Iturbe. Namun, setelah melalui negosiasi yang alot dengan pihak Verona, pengurus Juve menilai harga 22 juta euro yang dibandrol Verona untuk Iturbe terlalu mahal. Juve pun mundur dari perburuan Iturbe.
Kegagalan mendapatkan Iturbe ini baru disampaikan pada Conte setelah Juve menyelesaikan latihan perdananya. Entah ada hubungannya atau tidak, keesokan harinya Juventus resmi berpisah dengan Conte.
Bukan yang Pertama
Kegagalan Juve mendapatkan pemain incarannya ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Sejak Conte diangkat menjadi arsitek Juve, ia sering dikabarkan tak puas dengan aktivitas transfer yang dilakukan oleh klub. Nama-nama yang disodorkan Conte kerap "dimentalkan" klub dengan berbagai alasan.
Setelah berhasil mengantarkan Juve juara Serie A di musim pertamanya, Conte mengatakan pada pihak klub bahwa ia membutuhkan penyerang top untuk mengarungi musim berikutnya, terutama karena mereka berhasil kembali bermain di Liga Champions.
Β
Tim asal kota Turin itu pun kemudian dikaitkan dengan nama-nama besar seperti Robin van Persie, Edin Dzeko, Karim Benzema, hingga Luis Suarez.
Sial bagi Conte, ketika Robin van Persie dikabarkan tinggal selangkah lagi menuju Juve, sang pelatih harus menerima hukuman larangan memimpin tim di lapangan terkait kasus pengaturan skor. Conte yang diskors 4 bulan itu membuat van Persie mengurungkan niatnya hijrah ke Turin dan lebih memilih ke Manchester United.
Perburuan Juventus untuk mendapatkan striker kelas dunia pun berakhir dengan kegagalan mendapatkan Conte. Banderol Dzeko, Suarez dan Benzema terlalu tinggi bagi Juve yang baru membangun kembali kekuatan. Pada akhirnya Si Hitam Putih melakukan panic buying dengan mendatangkan Nicolas Anelka (gratis) dan Nicklas Bendtner (pinjam) di penghujung bursa transfer.
Kualitas keduanya tentu jauh dari striker top idaman Conte.
Pihak klub sendiri bukan tanpa alasan untuk tidak terlalu jor-joran melakukan pembelian pemain. Setelah kembali berlaga di Serie A, para petinggi tim memang lebih mengutamakan keuntungan finansial ketimbang menghambur-hamburkan dana untuk satu pemain.
Hal ini terlihat dengan banderol harga murah dari pemain yang didatangkan ke Turin. Misalnya Fernando Llorente dan Carlos Tevez. Meski keduanya berstatus penyerang top --seperti idaman Conte-- tapi keduanya berhasil didatangkan dengan tanpa merogoh kocek terlalu dalam.
Kehadiran kedua pemain ini pun masih belum bisa membuat Juventus berprestasi di Eropa, sehingga Conte bersikeras mendatangkan pemain top lainnya hingga di hari terakhirnya bersama Juve.
Allegri Adalah Pilihan 'Tepat'
Setelah Conte meninggalkan Juventus, pihak manajemen sendiri tak membutuhkan waktu lama untuk menemukan pengganti. Kurang dari 24 jam Juve langsung memperkenalkan Massimilliano Allegri sebagai pelatih barunya.
Keputusan ini mendapat kecaman dari para suporter. Sosok Allegri identik dengan kata umpatan "merda" karena ia pernah menukangi tim rival, AC Milan. Apalagi jika berkaca kiprahnya musim lalu βia tak mampu mengangkat Milan ke papas atas.
Kapabilitas Allegri untuk memimpin kerajaan yang susah payah dibangun Conte perlu dipertanyakan.
Hal lain yang tak disukai Juventini tentang Allegri adalah kegemarannya merekrut pemain semenjana. Lihat saja dengan apa yang terjadi dengan AC Milan. Semenjak ditukangi Allegri, Milan identik dengan pemain-pemain kelas dua.
Mulai dari perekrutan Mario Yepes di musim perdananya, hingga Valter Birsa pada awal musim lalu. Dan tentunya masih banyak lagi pemain-pemain yang sejatinya belum/tak layak membela tim besar sekelas AC Milan.
Satu kelebihan pelatih berusia 46 tahun ini adalah keberaniannya memainkan pemain muda. Meski masih sering mengandalkan pemain-pemain veteran, Allegri tak ragu untuk mempromosikan pemain primavera Milan ataupun pemain muda rekrutan dari tim lain. Mattia De Sciglio dan Stephan El Shaarawy adalah bukti nyata keberhasilan Allegri memberdayakan pemain muda.
Tapi dengan dua alasan itu pula lah Allegri dipilih manajemen Juve sebagai pelatih suksesor Conte. Allegri yang tak gemar menghambur-hamburkan dana dalam membeli pemain, serta keberaniannya memainkan pemain muda sangat sepaham dengan manajemen klub Juve saat ini.
Pengalamannya menjadi pelatih terbaik Serie A dan juga berhasil membawa AC Milan Scudetto pada 2010-2011 pun menjadi penilaian lebih manajemen Juve terhadap Allegri. Tapi, bagaimana pun juga, penunjukannya tetap menyisakan tanda tanya.
Mampukah ia menggantikan seorang Antonio Conte yang telah membuat Juventus sedemikian jaya?
(bersambung)
====
*ditulis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini
Baca Juga:
Serial Juventus (Bagian 1): Ketika Conte Membangun Kerajaan Juventus
(roz/roz)










































