Antonio Conte dan Masa Depan Sepakbola Italia

Antonio Conte dan Masa Depan Sepakbola Italia

- Sepakbola
Kamis, 04 Sep 2014 13:25 WIB
Antonio Conte dan Masa Depan Sepakbola Italia
Claudio Villa/Getty Images
Jakarta -

Pencapaian buruk tim nasional Italia pada Piala Dunia Brasil lalu memperlihatkan ada problem yang serius dalam sepakbola Italia. Cesare Prandelli yang diberi mandat untuk memimpin tim nasional akhirnya memilih mengundurkan diri dari jabatan pelatih kepala karena merasa gagal. Prandelli tak bisa menyelamatkan wajah Italia yang hancur lebur di Piala Dunia 2014.

Lalu datanglah Antonio Conte. Usia yang masih relatif muda, dan terutama rekam jejak Conte yang berhasil membangkitkan kembali Juventus dari keterpurukan secara cepat, memberikan secercah optimisme pada publik Italia akan masa depan persepakbolaannya.

Pelatih top Italia seperti Carlo Ancelotti dan Fabio Capello sulit menjadi pelatih tim nasional Italia karena sedang terikat kontrak dengan tim lain yang berani membayar mereka mahal. Lalu ada juga nama-nama seperti Alberto Zaccheroni, Francesco Guidolin, dan Roberto Mancini yang menjadi kandidat pelatih Italia berikutnya, jelas nama Antonio Conte menjadi yang paling ideal untuk menjadi pelatih Italia. Selain memiliki mental pemenang, taktik 3-5-2 yang sering digunakannya dinilai akan cocok dengan tim nasional Italia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fakta Conte memenangi tiga scudetto bersama Juve seakan menjadi stimulus betapa pelatih berusia 45 tahun ini bisa menawarkan sesuatu pada Italia. Belum lagi banyaknya pemain Juve yang (layak) membela timnas, juga akan memudahkan Conte beradaptasi dengan timnya yang β€œbaru” ini.

Lantas, apakah hal-hal di atas sudah cukup menjadi modal bagi Conte untuk mengembalikan kejayaan sepakbola Italia? Tunggu dulu, karena di samping catatan gemilang yang ditorehkannya, nyatanya ada beberapa persoalan penting yang bisa membuat penunjukkan Conte berisiko besar bagi masa depan sepakbola Italia dan masa depan Conte sendiri.

Catatan Buruk Conte

Melatih tim nasional Italia mengharuskan Conte menghadapi tim-tim negara lain. Masalahnya, rekor Conte menghadapi (kultur) sepakbola dari negara lain selama melatih Juventus perlu menjadi perhatian khusus. Pada 2012-2013, misalnya, Conte tak mampu mengalahkan superioritas Bayern Munich dengan kalah agregat 4-0 di perempat final Liga Champions.
Β 
Tak hanya di situ, musim lalu, Conte bersama Juve-nya tak mampu melewati hadangan Real Madrid dan Galatasaray sehingga harus tersingkir dari Liga Champions sejak fase grup. Terlempar ke Europa League, Juve yang digadang-gadang bisa berlaga di Juventus Stadium pada laga final, harus takluk di semifinal oleh Benfica.

Conte mungkin akan membela diri bahwa skuatnya tak cukup kuat untuk bisa bersaing dengan tim-tim Eropa, tapi itu justru menunjukkan bahwa Conte tak bisa memaksimalkan potensi yang ada. Di timnas, Conte jelas perlu memaksimalkan talenta-talenta lokal seadanya untuk bisa menggemparkan dunia dengan prestasi. Dan saat ini, talenta lokal Italia dianggap kurang kompetitif.

Jangan lupakan juga kebiasaan Conte yang mengandalkan pemain senior. Oke, mungkin Conte-lah yang mengorbitkan nama Paul Pogba, pemuda 21 tahun yang kini menjadi salah satu bintang Serie A yang paling bersinar. Tapi selain Pogba? Tak ada.

Belum lagi persepakbolaan Italia yang tak mengembangkan para pemain mudanya. Sebuah penelitan yang dilakukan CIES Football menunjukkan bahwa hanya 8,4% pemain inti klub Serie A yang memakai pemain binaan asli klub itu sendiri. Jumlah tersebut menjadi persentase yang terendah di Eropa.

Nasib pemain muda di Italia memang memprihatinkan. 20 klub Serie A β€œhanya” menghabiskan 55 juta euro (atau masing-masing tim sebesar 2,75 juta euro) untuk memberdayakan akademi. Bandingkan dengan 18 klub Bundesliga yang menghabiskan 79,3 juta euro (atau masing-masing sebesar 4,4 juta euro) untuk menyempurnakan akademinya. Maka tak heran jika masih banyak pemain berusia 30 tahun beredar di Italia. Tercatat 30% pemain di Serie A berusia di atas 30 tahun, dua kali lipat dari Bundesliga yang hanya 15%.

Dengan catatan pengembangan sepakbola Italia terhadap pemain muda yang demikian, juga kecenderungan tipikal Conte yang gemar menggunakan pemain senior, masa depan pemain muda Italia berada dalam pertanyaan. Apalagi dengan durasi kontrak Conte yang hanya dua tahun, Conte jelas akan lebih mengutamakan mencari prestasi sebaik-baiknya dibanding mengembangkan pemain muda.

Apakah itu salah? Akan salah jika Conte tak menghadirkan prestasi. Prandelli saja yang berhasil melakukan revolusi dengan berani memainkan sepakbola menyerang (melupakan catenaccio) dan (sempat) berhasil mengembalikan reputasi Italia yang terpuruk setelah Piala Dunia 2010 dengan menjadi finalis Euro 2012, tak mendapatkan apresiasi.

Hasil adalah vonis yang lazim digunakan untuk mengukur seseorang dalam tradisi sepakbola Italia. Seperti yang sudah kami uraikan dalam tulisan β€œKultur Pecundang: Rahasia Kehebatan Pelatih-pelatih Italia”, jika hasil akhir dianggap buruk, maka cap pecundang dengan segala konsekuensinya akan segera menyergap. Tak ada waktu untuk bermain-main di balik kedok "masa pembelajaran".

Conte Hanya Dimanfaatkan Federasi?

Beberapa kalangan menyebut pilihan terhadap Conte diambil oleh federasi sepakbola Italia (FIGC) untuk mendongkrak citra positif pada FIGC yang sempat tercoreng.

FIGC menjadi sasaran kritik publik dan media karena penunjukkannya atas presiden baru FIGC, Carlo Tavecchio. Publik mempertanyakan disahkannya hasil voting padahal sebelumnya Tavecchio β€œterpeleset” berkomentar rasis saat menjelaskan visi dan misinya tentang izin kerja pemain asing dan peraturan pemain non-Uni Eropa. Pada kesempatan itu, ia mengatakan pemain berkulit hitam sebagai β€œpemakan pisang”.

Hanya Lazio dan AC Milan yang tetap mendukung Tavecchio setelah komentar rasis itu. Beberapa tim Serie B sempat menarik diri, tapi kemudian dapat dibujuk untuk kembali mendukungnya. Fiorentina, Cagliari, Sampdoria, Cesena, Empoli, Sassuolo, Torino, dan Verona dengan tegas menarik diri dari dukungannya terhadap Tavecchio.

Banyak pihak menilai seharusnya Tavecchio tak menjabat sebagai presiden FIGC. Presiden Juventus, Andrea Agnelli, pun menyarankan agar voting diserahkan pada publik. Agnelli menilai bahwa akan lebih baik jika publik yang menilai visi misi siapa yang lebih baik antara Tavecchio dan kandidat lainnya, khususnya Demetrio Albertini.

Juve memang tak berada di pihak Tavecchio, karena visi dan misi Tavecchio tak jauh berbeda dengan sistem yang lama. Walau Albertini pun bukan kandidat yang ideal, tapi visi dan misinya bisa membawa perubahan, khususnya bagi masa depan sepakbola Italia. Salah satu visi mantan gelandang AC Milan itu adalah penggunaan minimal 10 pemain lulusan akademi lokal dari 25 pemain yang didaftarkan setiap tim (saat ini hanya delapan).

Dipilihnya Conte akhirnya menjadi sesuatu yang strategis dalam mempengaruhi arus opini publik. Dan sejauh ini hal itu sudah mulai berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Dipilihnya Conte oleh Tavecchio mulai membuat publik Italia mau membuka diri dalam menerima pada presiden baru FIGC itu. Tak sedikit yang memuji Tavecchio yang lebih memilih Conte ketimbang Roberto Mancini. Padahal sebelumnya, Mancini yang digadang-gadang sebagai suksesor Prandelli.

Mempertaruhkan Reputasi

Dengan apa yang dituliskan di atas, Conte kemungkinan akan kesulitan untuk mengangkat kembali reputasi sepakbola Italia. Dan jika ia gagal, reputasinya sebagai pelatih top Italia pun akan terancam. Belum lagi jika melihat karir pelatih-pelatih Italia pasca melatih tim nasional Italia yang bisa menjadi teror bagi Conte.

Arrigo Sacchi, pelatih jenius pada era 90-an, namanya semakin meredup setelah enam tahun melatih timnas. Dino Zoff langsung memutuskan untuk pensiun. Giovanni Trapattoni, tak pernah melatih klub elit selain Benfica. Marcello Lippi, sempat pensiun panjang sebelum hijrah ke belahan dunia lain (Cina). Roberto Donadoni, dipecat oleh Napoli dan Cagliari sebelum akhirnya menangani Parma. Dan Prandelli, harus menangani Galatasaray karena klub Italia tak bersedia menampungnya.

Conte mungkin boleh pede bahwa dirinya masih berusia muda (untuk ukuran pelatih) sehingga karirnya mungkin tak akan berakhir seperti mereka. Tapi ia pun perlu memperhitungkan kemungkinan gagal kala melatih tim nasional lebih besar dibanding melatih klub. Apalagi bagi pelatih Italia, prestasi menjadi syarat mutlak untuk bisa menunjukkan dirinya bahwa ia pelatih berkualitas. Dan kegagalan bisa merusak karirnya yang kini tengah menanjak.

Belum lagi gaji Conte yang saat ini merupakan gaji pelatih tertinggi ketiga di dunia setelah Fabio Capello dan Roy Hodgson. Tekanan untuk meraih prestasi akan terus menghantui. Sedikit saja Italia terpeleset, kritik dan kecaman tak ragu untuk menghujaninya.

Conte perlu meneruskan fondasi yang ditanamkan oleh Prandelli yang berhasil berjalan. Italia-nya Prandelli, setidaknya, tampil dengan gaya main yang lebih atraktif, lebih terbuka dan sampai batas tertentu akhirnya menyenangkan untuk ditonton. Laga pembuka Piala Eropa 2012 saat Italia menahan seri Spanyol, akan dikenang banyak orang sebagai salah satu laga paling menghibur, bukan hanya dalam performa para pemain, melainkan juga jual beli taktik yang meyakinkan: Spanyol-nya del Bosque tanpa satu pun striker, Italia menghadapinya dengan memasang tiga bek.

Pola tiga bek inilah yang menjadi benchmark seorang Conte. Benar bahwa Mazzari yang menghidupkannya, tapi Conte yang berhasil mempopulerkannya kembali berkat keberhasilannya menggunakan taktik itu guna merajai Serie-A bersama Juventus. Ini pula barangkali yang membuat banyak optimis: kini Italia akan ditangani oleh orang yang tahu benar bagaimana menggunakannya.

Tapi Italia-nya Conte tak sama dengan Juventus. Italia tak punya Arturo Vidal, dan musim lalu Pogba. Melihat dari sisi ini saja, dari aspek taktikal, ini sudah menjadi hal menarik.

Tapi, sekali lagi, Italia tetaplah Italia. Hasil menjadi pokok, apalagi jika sedang membahas timnasnya. Simaklah bagaimana dan apa syarat dari FIGC untuk bonus yang akan diterima oleh Conte selama kontrak dua tahunnya ini: (1) lolos kualifikasi Piala Eropa 2016, mendongkrak ranking FIFA menjadi peringkat lima (sekarang peringkat 14) dan (3) menembus babak final Piala Eropa 2016 yang akan dihelat di Prancis.

Bisakah Conte menjawab tiga tuntutan itu?

Mulai nanti malam, saat Italia berhadapan dengan Belanda di laga ujicoba, perjalanan baru Conte sebagai pelatih Italia akan dimulai.

====

*penulis adalah Ardy Nurhadi Shufi dari @panditfootball. Beredar di dunia maya dengan akun @ardynshufi.

(din/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads