sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Kamis, 11 Sep 2014 16:05 WIB

Cerita Sepakbola Indonesia di Ajang Asian Games

- detikSport
Indonesia di Asian Games 2006 (Getty Images)
Jakarta -

Minggu depan Timnas U-23 akan memulai laga perdana di ajang Asian Games yang digelar di Incheon, Korea Selatan. Keberangkatan mereka pada awalnya banyak menuai pro dan kontra, mengingat pesimisme berlebih kepada tim ini yang diprediksi memang tak akan berbicara banyak jika menilik prestasi sepakbola kita di kancah Asia Tenggara.

Dalam sejarah sepakbola kita, Asian Games memang selalu demikian. Asian Games sebenarnya bisa diajukan sebagai salah satu bukti silang sengkarutnya sepakbola kita.

Jika saya bertanya setinggi apa prestasi yang pernah didapat timnas Indonesia, apa jawabannya? Jangan sebut Piala Dunia 1938, toh timnas yang berangkat bangga mengaku sebagai seorang Hindia Belanda bukan Indonesia. Di ajang Piala Dunia, nama Indonesia hanya pernah sekadar "hampir". Tapi "hampir" bukanlah prestasi. "Hampir" takkan dicatat dalam sejarah. "Hampir" tak perlu diingat dan "hampir" bukan kebanggaan.

Sekarang kita pindah ke ruang lingkup yang lebih kecil saja yaitu benua Asia. Lantas, apa prestasi tertinggi kita di kancah asia? Pada Piala Asia, misalnya, ada prestasi? Ah, sepertinya tidak.

Dari 13 kali penyelenggaraan sejak tahun 1968 hingga sekarang, kita mampu lolos dari babak kualifikasi hanya tiga kali. Satu lagi karena beruntung ditunjuk sebagai tuan rumah pada tahun 2007. Dari empat kali kesempatan itu kita selalu rontok di babak penyisihan grup. Di Piala Asia kita masih kalah prestasi dari Myanmar (dulu masih bernama Burma) yang pernah jadi juara pada tahun 1968 (bersama Iran).

Salah satu prestasi yang bisa dibanggakan di kancah Asia paling banter hanya Asian Games. Ya betul, pada ajang empat tahunan berbagai macam olahraga bagi seluruh negara di kontinen Asiaini kita masih bisa "sedikit" berbangga diri. Ya, hanya sedikit.

Asian Games untuk sementara boleh dikata sebagai lumbung prestasi sepakbola Indonesia. Dibandingkan prestasi-prestasi lainnya, boleh dikata lewat Asian Games Indonesia sempat ditakuti dan dapat julukan sebagai "Macan Asia" --entah siapa yang pertama kali memunculkan julukan itu--, toh Myanmar yang lebih berprestasi pun tak menjuluki diri mereka sekeren itu, padahal Myanmar meraih 2 kali medali emas berturut-turut tahun 1966 dan 1970.

Asian Games Saksi Sejarah Sepakbola Kita yang Tertatih

Yang jelas, sampai dekade 70an Asian Games lebih bergengsi ketimbang Piala Asia. Lebih kompetitif dan lebih menarik minat publik. Asian Games lekat dengan politik, karena itu tujuan awalnya sebagai alat kampanye bagi negara-negara yang baru berdaulat, untuk mendapatkan pengakuan.

Asian Games lekat dengan sejarah sepakbola kita. Asian Games menjadi turnamen besar pertama yang diikuti bangsa ini, tepatnya pada tahun 1951 di India (selanjutnya barulah sepakbola Indonesia tampil di turnamen besar lainnya yaitu Olimpiade Melbourne 1956). Asian Games juga saksi mata sepakbola kita yang masih tertatih-tatih karena vakum 10 tahun lamanya akibat penjajahan Jepang dan masa revolusi fisik Indonesia berusaha kembali bangkit dan berbenah diri.

Sialnya, Asian Games hadir saat PSSI masih sedang amburadul, PSSI belum masuk keanggotaan FIFA, serta keberadaan klub-klub sepakbola dan kompetisi pun masih nihil adanya.

Waktu pembentukan timnas yang singkat dengan hanya bergumul selama 3 minggu tentu saja membuat keberadaan PSSI di New Delhi pun teramat singkat. Baru sekali main, mereka langsung rontok 3-0 oleh tuan rumah India. Alhasil mereka pulang kampung dengan tangan yang sangat hampa. Namanya juga debutan.

Di Manilla dan Tokyo, 'Macan Asia' itu Mulai Disebut-sebut

Asian Games 1954 di Manila, Flipina tak ada lagi kata main-main, tak ada lagi waktu-waktu mepet, semuanya harus serba serius. Pemusatan latihan bahkan sudah digelar setahun sebelumnya. Kendali nahkoda kepelatihan sengaja dialihkan dari Cho Seng Quee ke Toni Pogacnik.

Pemilihan Pogacnik yang merupakan seorang Yugoslavia jelas untuk menyatuarahkan kiblat sepakbola Indonesia ke Eropa Timur yang sedang naik daun ---hampir sama dengan haluan politik Indonesia saat itu yang dikomandoi oleh Soekarno. adalah bukti keseriusan PSSI dan Surkarno untuk menghadapi Asian Games.

Meski kas duit bangsa ini masih seret, para donatur tak segan patungan menyumbang agar PSSI bisa keliling negara-negara asia untuk sekedar beruji coba dengan tim-tim luar. Pengalaman itu jadi elemen penting dalam Asian Games 1954.

Hasilnya? cukup membanggakan. Di babak grup, Jepang dan juara bertahan India digebuk 5-3 dan 3-0. Indonesia melenggang hingga babak semifinal, sebelum dipermalukan China 4-2. Semenjak itulah julukan "Macan Asia" muncul. Indonesia jadi salah satu kandidat unggulan di Asia.

Empat tahun kemudian saat Asian Games 1958 di Tokyo prestasi itu kembali diulang. Indonesia malah mampu memboyong medali perunggu. Itulah bukti, jika sepakbola kita diurus dengan betul-betul hasilnya pun akan cukup membanggakan. Apakah prestasi ini didapat dengan praktis? Tentu saja tidak!

Dalam periode menyambut Asian Games Tokyo, sang pelatih Toni Pogacnik blusukan ke pelosok pedalaman untuk mencari pemain-pemain berbakat. Setelah didapat mereka dipoles dan lalu diterbangkan ke Eropa berbulan-bulan untuk berujicoba dengan tim-tim hebat di sana.

Asian Games dan Skandal Memalukan Sepakbola Kita

Prestasi olahraga Indonesia pada tiga ajang Asian Games sebelumnya membuat Jakarta mendapat jatah sebagai tuan rumah pada tahun 1962. Sejatinya tahun itu dijadikan sebagai titik puncak sepakbola kita merajai asia. Hancur lebur di Asian Games 1951, lalu merangkak hingga bisa menembus final di Asian Games 1954 dan 1958. Wajar jika saat Jakarta menjadi tuan rumah asa pun membuncah.

Untuk mensukseskan asa itu semuanya sudah dipersiapkan jauh-jauh hari oleh PSSI. Instruksi dari Soekarno untuk cabang olahraga sepakbola pun jelas: medali emas harga mati!

Sayang, terkadang bangsa ini bebal saat berada di puncak, mudah goyang saat disanjung. Skandal pengaturan skor yang dilakukan 10 pemain timnas membuat mimpi itu buyar dalam sekejap. Mereka ketahuan mengatur skor saat timnas berujicoba dengan tim-tim luar negeri di Lapangan Ikada, beberapa bulan sebelum Asian Games digelar.

Jerih payah Pogacnik selama bertahun-tahun dirusak oleh individu-individu "laknat" yang menjual harga dirinya demi memuaskan hasrat para penjudi. Air mata yang ditumpahkan Pogacnik saat membesuk para tersangka yang mendekam di penjara kantor Polisi Militer, Jalan Budi Kemuliaan, Jakarta Pusat, jadi salah satu derai air mata paling tragis dalam sejarah Indonesia yang harus mengucur karena aib memalukan skandal suap. Asian Games jadi saksi skandal itu.

Tampil compang-camping dengan pemain seadanya membuat kiprah tim tuan rumah hanya numpang lewat. Jangankan ke final, lolos babak grup pun tidak. Cerita keemasan timnas dan Asian Games tak pernah kembali terulang. Di Asian Games 1966 dan 1970 kita selalu gagal.

Sejak tahun 1974, KONI malah memutuskan untuk tak mengirim sepakbola ke ajang Asian Games karena syarat prestasi tak pernah kunjung terpenuhi. Sepakbola di Asian Games pun vakum hampir 16 tahun lamanya.

Prestasi Angkatan 1986 yang Tak Pernah Terulang

Sebenarnya PSSI ditegur oleh AFC akibat kevakuman ini, ada aturan setiap negara yang tak ikut Asian Games selama 4 kali berturut-turut berhak dikenai sangsi. Karena itu pada tahun Asian Games 1986 di Seoul, Indonesia memaksa untuk tampil kembali.

Adalah "Sang Pendeta" Bertje Martupelwa yang membuat Indonesia kembali dipandang. Dia bisa menyatukan perseteruan antara Galatama dan Perserikatan. Saat itu pemain kedua kompetisi ini memang tak begitu akur. Duet Robby Darwis-Hery Kiswanto (Persib dan Krama Yudha) di lini belakang dan Adolf Kabo-Ricky Yacob (Perseman Manokwari dan Arseto Solo) di lini depan menjadi bagian rekonsiliasi itu.

Sebulan sebelum Asian Games digelar, timnas sempat melakukan uji coba lebih dari sebulan di Brasil. Ini menandakan bukti keseriusan bahwa ada asa untuk mengulang kesuksesan para pendahulunya. Betul saja, siapa sangka, tak diduga kita mampu kembali melenggang ke babak semifinal. Sudah jadi takdir laten, bahwa jika di kancah Asia Tenggara kita selalu gagal di final, maka di kancah Asia kita selalu gagal di semifinal.

Di semifinal kita digebuk "Macan Asia yang Asli" Korea Selatan 4-0. Pada perebutan medali perunggu gantian Kuwait yang menghancurkan kita dengan skor 4-0. Meski pulang tanpa medali mereka tetap dipuja dan disambut bak pahlawan.

Tapi bagi para pengurus PSSI dan KONI, itu tetap saja aib yang memalukan. Karenanya, meski kita lolos ke semifinal pada Asian Games 1986, empat tahun berselang pada Asian Games 1990 di Beijing, rencana keberangkatan tim sepakbola dipikir matang-matang. Indonesia sebenarnya sudah mendaftar akan ikut dan sempat mengikuti drawing grup.

Tapi satu bulan sebelum Asian Games, digelarlah Piala Kemerdekaan di Jakarta. Turnamen itu dijadikan ajang dari KONI dan PSSI sebagai syarat bagi timnas jika ingin berlaga di Asian Games, maka harus juara dulu Piala Kemerdekaan. Hasilnya Australia yang juara. Akibatnya, secara mendadak KONI membatalkan keberangkatan timnas ke Beijing.

Setelah tahun 1986, kita tak pernah kembali mengirim tim sepakbola ke ajang itu. Alasannya pun cukup logis: jika pretasi dan medali tak kunjung didapat, lantas untuk apa terus menerus dikirim jika hanya untuk mempermalukan nama bangsa. Hal itulah yang diucapkan Ketua PSSI Kardono di tahun 1990.

20 tahun kemudian, di tahun 2006 kita sempat kembali mengirim timnas U-23 ke Asian Games XV di Qatar. Hasilnya? Kita berada di juru kunci grup. Kebobolan 11 gol dan hanya menggolkan satu biji.

Dengan hasil ini wajar saja jika pada saat Asian Games 2010, komandan pelatnas Hendardji Soepandji tidak berkenan sepakbola ikut serta karena menilai prestasi sepakbola Indonesia masih level kabupaten hingga tak bisa bersaing di level Asia semegah Asian Games.

Apa Betul Murni untuk Prestasi?

Tahun ini setelah vakum 8 tahun, Indonesia kembali tampil di Asian Games 2014. Pada awalnya kadar keseriusan tim ini pun dipertanyakan. PSSI dan KOI (Komite Olimpiade Indonesia) tiba-tiba serempak kompak.

Padahal sebelumnya KOI keukeuh timnas tak perlu berangkat akibat tak memenuhi kriteria yang ditetapkan, yakni track record mereka yang sulit untuk meraih medali. Masuknya sepakbola sebagai kontingen "Merah Putih" cenderung dipaksakan --sekali lagi jika konsisten dengan kriteria kemungkinan meraih prestasi.

Berbeda dengan cabang olahraga lain yang mendapat bantuan dari KOI, cabang sepakbola pergi dengan merogoh kocek sendiri. KOI sendiri hanya memberi tiket untuk berlaga di Korea, sedangkan segala hal persiapan, keberangkatan dan keperluan di Korea, KOI tak mau tahu. Untuk menanggung semua itu Joko Driyono mengatakan PSSI menghabiskan dana sekitar Rp 13 miliar.

Asian Games memang membuka Indonesia tampil di kancah Asia tanpa harus berpeluh mati-matian di babak kualifikasi seperti Piala Asia. Itu adalah sebuah keuntungan. Untunglah Dewi Fortuna berpihak pada kita. Dalam drawing grup Indonesia berada satu grup dengan Thailand, Maladewa dan Timor Leste. Kans Indonesia untuk lolos ke babak selanjutnya memperebutkan dua slot lumayan terbuka.

Namun setelah lolos nanti lantas kita mau apa? Setidaknya mungkin jam terbang para pemain. Sekali lagi, setidak-tidaknya.


===

* Akun twitter penulis: @aqfiazfan dari @panditfootball. Tulisan ini bersifat opini pribadi, tidak mencerminkan sikap/kebijakan redaksi.

(a2s/krs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com