Tuntutlah Ilmu (Pembinaan Sepakbola) Hingga ke Tiongkok

Tuntutlah Ilmu (Pembinaan Sepakbola) Hingga ke Tiongkok

- Sepakbola
Jumat, 05 Des 2014 15:30 WIB
Tuntutlah Ilmu (Pembinaan Sepakbola) Hingga ke Tiongkok
AFP
Jakarta -

Hasil Olimpiade London 2012 menunjukkan bahwa Tiongkok adalah negara adikuasa, bersama Amerika Serikat, soal urusan olahraga. Dari tiga Olimpiade terakhir, Tiongkok bersama AS bergantian menempati peringkat pertama dan kedua.

Tapi ada satu hal dalam olahraga yang masih tak bisa ditaklukkan Tiongkok: sepakbola.

Di level dunia, timnas sepakbola Tiongkok tidak ada apa-apanya. Bisa dibilang, dari tahun ke tahun timnas Tiongkok mengalami penurunan prestasi. Catatan terbaik mereka adalah melaju ke Piala Dunia 2002 yang digelar di Korea Selatan dan Jepang. Penampilan mereka tak bisa dibilang baik, karena tak mampu mencetak satu gol pun dari tiga pertandingan yang dilakoni.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di tingkat Asia, Tiongkok tak pernah juara. Catatan terbaiknya saat mereka menduduki peringkat dua pada 2004. Itu pun diraih karena status mereka sebagai tuan rumah. Sejak itu Tiongkok tak pernah lagi lolos dari babak grup Piala Asia.

Banyak yang beranggapan sepakbola di Tiongok seperti dianaktirikan. Ada kecenderungan pemerintah Tiongkok lebih fokus membina olahraga yang berpeluang meraih medali di Olimpiade. Sejak Olimpiade 2000, Tiongkok selalu berada di peringkat dua dan mencapai puncak pada 2008 dengan meraih posisi teratas. Capaian ini tak akan sebanding jika negara ini fokus pada sepakbola. Satu medali saja tak akan mengubah apa-apa.

Tapi perubahan sepertinya akan segera bergulir. Pada 26 November lalu Dewan Negara (state council) Tiongkok menggelar pertemuan yang tak biasa. Mereka bicara soal sesuatu yang asing: sepakbola.

Dewan Negara menerjemahkan harapan Presiden Xi Jinping yang ingin melihat menghidupkan kembali kebesaran Tiongkok atau Chinese Dream dengan lebih meningkatkan ekonomi dan posisi geopolitik Tiongkok di dunia.

Dewan Negara pun memutuskan untuk menyelipkan sepakbola dalam kurikulum pendidikan di Tiongkok. Sasarannya adalah pelajar di sekolah tingkat dasar dan menegah.

Sejumlah pertanyaan pun muncul. Dengan kurikulum seperti itu apa mungkin dapat mengubah prestasi sepakbola Tiongkok secara drastis? Pasalnya, akan butuh waktu yang tidak sebentar untuk membangun Tiongkok sebagai kekuatan baru sepakbola di dunia. Sub-bab di bawah ini akan menjelaskan kemungkinan dan hambatan Tiongkok menjadi penguasa sepakbola di dunia.

5.000 Tim Sepakbola Junior

Bagi Pemerintah Tiongkok, infrastruktur penunjang sepakbola bisa dikejar dalam waktu singkat. Namun untuk mendidik 11 orang pesepakbola handal, tak bisa dikerjakan dalam semalam.

Pembangunan stadion, sarana latihan, hingga sekolah sepakbola bisa disiapkan dalam waktu tiga hingga lima tahun. Di waktu yang sama, tidak mungkin pesepakbola dapat mencapai kualitas setara dengan pemain kelas dunia. Pembangunan sumber daya manusia mesti melalui proses yang matang.



Siapa yang tak ingin menjadi tuan rumah Piala Dunia? Memberikan kesempatan bagi semua warga negara menyaksikan para pemain pujaan yang biasanya disaksikan di layar kaca. Ratusan ribu turis akan datang dan memperkuat ekonomi lewat pariwisata yang ada. Piala Dunia akan menjadi sarana promosi pariwisata negeri, maupun peningkatan citra di mata dunia.

Tiongkok tak ingin seperti Afrika Selatan yang hanya menjadi β€œtim hore” saat menjadi tuan rumah Piala Dunia. Tiongkok punya cita-cita besar: menjadi juara di negeri sendiri.

Secara spesifik, pemerintah kota Guangzhou tak setengah-setengah menafsirkan kurikulum baru tersebut. Setidaknya, dalam waktu tiga tahun ke depan program sepakbola di kota tersebut dapat menghasilkan lima ribu tim sepakbola junior yang terdiri dari 50 ribu pelajar.

Guangzhou merupakan kota dengan penduduk terbanyak di Provinsi Guagdong. Kota berpenduduk 14 juta jiwa tersebut merupakan satu dari lima kota β€œNational Central Cities”. Keberadaannya strategis mengingat Guangzhou sebagai pusat pelabuhan kapal-kapal dagang di selatan Tiongkok.

Sebelumnya, klub Guangzhou Evergrande sempat mendapat sorotan. Taipan properti Tiongkok yang menjadi pemilik Guangzhou Evergrande, Xi Jiayin, mendirikan akademi sepakbola terbesar di dunia. Diperkirakan, ia harus mengeluarkan biaya 115 juta poundsterling untuk membangun pusat latihan seluas 167 hektar tersebut. Akademi tersebut mampu menampung dua ribu siswa yang berlatih di 50 lapangan.

Seiring berjalannya waktu, dengan biaya operasional yang begitu besar, maka tidak mungkin bagi setiap anak di Guangzhou untuk berlatih di sana. Lagi pula daya tampungnya hanya untuk dua ribu anak.

Program pemerintah kota Guangzhou yang terkesan ambisus tersebut akan berjalan secara bertahap. Akhir tahun ini sebanyak 300 sekolah diharapkan sudah mampu menerapkan kurikulum pendidikan tersebut. Jumlah ini meningkat menjadi 500 sekolah pada 2016 mendatang. Mulai 2015, Guangzhou akan mendirikan 25 sekolah sepakbola dan akan bertambah menjadi 75 sekolah sepakbola pada 2016.

Pada akhir 2016 diproyeksikan terdapat lima ribu tim sepakbola junior yang terdiri dari 50 ribu pelajar, berdiri di Guangzhou. Di sekolah, setidaknya terdapat empat hingga enam pelajaran dasar sepakbola setiap semesternya. Setiap sekolah akan menghadirkan satu guru profesional dan dua guru olahraga.

Pengembangan sepakbola mulai dari sekolah menjadi batu penjuru bagi Tiongkok untuk bergabung di kompetisi sepakbola elite dunia. Wakil Perdana Menteri Tongkok, Liu Yandong, telah menyerahkan tanggung jawab kepada Kementerian Pendidikan. Nantinya, mereka yang akan mengembangkan sistem liga antarsekolah untuk menjaring talenta baru.

Pemerintah Guangzhou sendiri telah menyiapkan kompetisi antar sekolah dasar dan menengah sebagai puncak pertama penerapan kurikulum sepakbola. Diharapkan ada talenta baru yang nantinya diseleksi lagi di tingkat universitas. Sebanyak 200 tim universitas menjadi β€œkolam penampungan” bagi talenta muda tersebut untuk bersaing di jajaran pesepakbola elit nasional.

Menteri Pendidikan, Yuan Guiren, menargetkan ada 20 ribu sekolah yang fokus pada pengembangan sepakbola pada 2017. Untuk menunjang hal tersebut, tahun 2015 sebanyak enam ribu pelatih sepakbola akan mendapatkan pendidikan sepakbola dengan bekerjasama dengan Asosiasi Sepakbola Tiongkok.

Belajar dari Tenis

Mungkin banyak yang bertanya mengapa Tiongkok tiba-tiba menerapkan kurikulum semacam itu? Jawabannya adalah mereka ingin memanfaatkan momen kebangkitan liga sepakbola Tiongkok untuk menjaring talenta baru.

Jika diingat kembali bagaimana kini tenis menjadi olahraga populer nomor tiga di bawah sepakbola dan basket.Tiongkok memanfaatkan populeritas serta prestasi Li Na di berbagai kejuaraan tenis dunia. Kini, Tiongkok telah memiliki 30 ribu lapangan tenis dan diperkirakan 14 juta orang secara reguler bermain tenis.

Pada 2008, tidak ada satupun petenis pria Tiongkok yang berada dalam peringkat 500 besar versi Asosiasi Tennis Profesional, ATP. Lima tahun berselang atau pada Oktober 2013, Zhang Ze berada di peringkat ke-271 dan Wu Di di peringkat ke 244.

Peningkatan signifikan itu tak lepas dari masuknya tenis dalam kurikulum pendidikan Tiongkok beberapa tahun silam. Zhang Ze masih berusia 24 tahun sementara Wu Di berusia 22 tahun.

Prestasi tersendiri diraih petenis putri Tiongkok, Shuai Peng. Perempuan kelahiran 1986 ini menempati peringkat 21 dalam ranking Asosiasi Petenis Perempuan, WTA. Prestasi tersebut diikuti Shuai Zhang yang menempati peringkat 61, di usianya yang ke-25 tahun tersebut. Di peringkat 100 besar WTA, ada empat petenis Tiongkok yang berdiri di sana.

Direktur Turnamen Tenis Shanghai, Michael Luevano dalam wawancara dengan Independent setahun silam, percaya 10 tahun mendatang akan lahir petenis Tiongkok yang berada dalam jajaran peringkat 20 dunia.

Keberhasilan yang diraih tenis tentu ingin kembali diulang di sepakbola. Namun, ada banyak hal yang berbeda antara tenis dan sepakbola. Tenis adalah permainan individu. Akan lebih mudah mengatur seorang atlet ketimbang 11 orang dalam satu kelompok. Selain itu, sepakbola kadung menjadi olahraga paling populer di Tiongkok. Di situ pula sejumlah stereotype tentang keburukan sepakbola Tiongkok bersarang, yang pada akhirnya turut melumpuhkan timnas sepakbola Tiongkok hingga saat ini.

Rintangan di Hadapan

Pada 2010, Forbes sempat menulis tentang sepakbola Tiongkok dengan judul β€œWhy China Isn’t At The World Cup”. Mereka mempertanyakan mengapa Tiongkok dengan jumlah penduduk 1,3 miliar dan kekuatan ekonomi yang mampu membuat Olimpiade 2008 begitu megah, tapi kalah bersaing dengan negara seperti Korea Utara dan Honduras?

Pemerintah Komunis Tiongkok di akhir 1970-an, memang menyampingkan urusan olahraga. Mereka baru menata hal-hal krusial seperti pendidikan, pertanian, industri, penurunan tingkat penyakit, dan sanitasi lingkungan. Di masa yang sama, Tiongkok lalu berjaya pada nomor tenis meja dan gimnastik. Uniknya, keduanya merupakan olahraga individual, bukan tim.

Jepang adalah salah satu negara dengan kompetisi sepakbola usia dini terbesar di dunia. Mereka memiliki kurikulum olahraga lewat program ekstrakulikuler. Bedanya, Jepang memiliki sejumlah pilihan olahraga seperti berenang, baseball, hingga rugby. Ini yang menjadi kelemahan di Tiongkok.

Dengan memasukkan hanya sepakbola pada kurikulum pendidikan, membuat pelajar mau tak mau dipaksa mempelajari dan berlatih sepakbola. Padahal, motivasi terbesar dari seorang atlet adalah kesenangannya dan kecintaan terhadap olahraga pilihannya.



Masalah berikutnya adalah bagaimana cara Tiongkok melatih para pelajar dengan ketiadaan pelatih yang bagus? Federasi Sepakbola Islandia punya moto kira-kira seperti ini: Jika ingin mendapatkan pemain yang bagus, maka harus ada pelatih yang bagus. Jika ingin pelatih yang bagus, maka harus ada pendidikan kepelatihan yang bagus pula.

Kepala Penasehat Teknik untuk Chinese Shcool Football Program Office, Tom Byer, tak sependapat. Ia menuturkan seharusnya anak mulai dari usia dua tahun sudah diperkenalkan pada sepakbola. Ia menganggap seorang pelatih tak akan berpengaruh banyak karena Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi berlatih kemampuan teknis sedari kecil tanpa dukungan pelatih.

β€œSatu-satunya cara untuk membuat perubahan adalah dengan memberdayakan anak-anak dengan mendidik orang tuanya,” kata Byer pada CNN, β€œBukan rahasia lagi kalau orangtua menganggap olahraga sebagai gangguan terhadap pendidikan.”

Dengan kebijakan β€œsatu keluarga satu anak” maka akan semakin sulit bagi orangtua di Tiongkok merelakan anaknya berlatih sepakbola dan melepaskan pendidikan. Selain itu seolah sudah menjadi pengetahuan umum di masyarakat bahwa Asosiasi Sepakbola Tiongkok lekat dengan korupsi dan nepotisme.

β€œMobil-mobil” Sepakbola Tiongkok

Wajar rasanya Presiden Xi Jinping ingin melihat Tiongkok memiliki tim sepakbola yang mampu mengangkat harkat dan martabat negara. Xi Jinping adalah penggemar sepakbola. Dalam beberapa kesempatan ia tidak malu menunjukkan rasa cintanya terhadap sepakbola.

Pada 2012, Xi Jinping sempat memperlihatkan kemampuannya mengolah si kulit bundar saat berkunjung ke Dublin, Irlandia. Lalu, pada KTT APEC di Bali, XI Jinping membuat sebuah analogi dalam pidatonya. Kesuksesan tim sepakbola, menurutnya, tidak berdasar pada kemampuan individu pemain, tapi pada kemampuan kolektif.

Dengan orientasi jangka panjang,wajar rasanya jika menyebut Tiongkok telah berada di jalur yang tepat. Kini, tinggal menunggu bagaimana β€œmobil-mobil” produksi mereka dapat berlari kencang, atau malah mogok di tengah jalan dan tak sampai-sampai.


====

* Akun twitter penulis: @Aditz92 dari @panditfootball

(krs/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads