Everton: Tim Tua yang Penuh Masalah

Everton: Tim Tua yang Penuh Masalah

- Sepakbola
Rabu, 07 Jan 2015 13:38 WIB
Everton: Tim Tua yang Penuh Masalah
Matthew Lewis/Getty Images
Jakarta -

Everton sedang stagnan. Untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun mereka kalah empat kali berturut-turut di pertandingan di Premier League.

Kekalahan terakhir mereka alami saat bertandang ke Hull City di Tahun Baru, dengan skor 2-0. Tadi malam (7/1/2015) mereka juga hanya bermain imbang 1-1 melawan West Ham di babak ketiga Piala FA. Itu pun mereka nyaris tumbang sebelum diselamatkan gol Romelu Lukaku di injury time.

Apa yang Salah pada Everton?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk ukuran sebuah tim yang menodong posisi Arsenal sepanjang musim lalu dalam mengejar posisi empat, posisi di klasemen yang mendekam tiba-tiba ke peringkat 12 menunjukkan sebuah tanda tanya besar. Sekarang ini, persis di tengah-tengah musim alias setelah matchday ke-19, mereka berada lima poin di atas zona degradasi.

Mereka hanya menang sekali dalam delapan pertandingan terakhir mereka di liga. Tim asal kota Liverpool ini juga memperoleh 16 poin lebih buruk dibandingkan pada tahap ini di musim lalu.

Pada awal musim seluruh tim menyiapkan skuat mereka secara jor-joran. Tapi kemudian kita bertanya-tanya bagaimana Everton akan bersaing untuk posisi empat besar lagi? Apakah bijaksana bagi mereka untuk fokus pada kompetisi piala?

Melihat keadaan mereka saat ini, kita semua juga bertanya-tanya apa yang telah terjadi. Namun, kredit besar kepada mereka, mereka telah menikmati kesempatan untuk kembali di Eropa dan memeluk erat Liga Europa daripada melihatnya sebagai beban.

Mereka menduduki puncak grup dengan mudah. Calon lawan mereka di babak 32 besar juga relatif mudah, yaitu Young Boys dari Swiss.

Tapi itu semua tak tercermin di Liga Primer. Mereka perlahan-lahan terus turun.

Tidak diragukan lagi, masalah utama mereka berasal dari belakang. Hanya Queens Park Rangers yang telah kebobolan gol lebih banyak dari The Toffees di musim ini, yaitu 35 gol. Sementara Leicester City senasib dengan Everton, yaitu sudah kebobolan 33 gol. Padahal di musim lalu saja Everton total hanya kebobolan sebanyak 39 kali.

Meskipun demikian, ada masalah utama yang membendung Everton dan perlahan muncul sebagai sebuah beban.

Mengintip Usia Skuat Everton

Everton memiliki 11 anggota tim utama mereka di skuat dengan usia di atas 30 tahun. Mari kita absen dari belakang: Tim Howard (35 tahun), Phil Jagielka (32), Sylvain Distin (37), Leighton Baines (30), Antolin Alcaraz (32), Tony Hibbert (33), Gareth Barry (33), Samuel Eto'o (33), Arouna Kone (31), Steven Pienaar (32), dan Leon Osman (33).

Usia rata-rata untuk tim Everton di Liga Primer berada pada posisi keenam, mereka juga memiliki usia rata-rata 32 tahun pada posisi pemain belakang.

Praktis, jagoan-jagoan muda mereka hanya tersisa beberapa batang hidung saja. Meskipun di antara mereka adalah pemain inti, tapi tetap saja mereka butuh peremajaan. Beberapa pemuda macam John Stones (20) yang telah menjadi starter reguler, Romelu Lukaku (21), Ross Barkley (21), dan juga Muhamed Besic (22) yang bisa kita sebutkan.

Sebenarnya Roberto Martinez sebagian besar sudah mengabaikan talenta muda yang menjanjikan lainnya. Sebut saja Luke Garbutt (21), Tyas Browning (20), Conor McAleny (22), ditambah dengan Ryan Ledson (17) yang pernah bermain di Liga Europa.



Untuk beberapa hal, Martinez memang telah dipaksa dengan beberapa pilihan cadangan setelah cederanya Stones, Barkley, Bryan Oviedo (24), James McCarthy (24), dan juga Kevin Mirallas (27).

Meski begitu, terutama di Liga Europa, Martinez biasanya memainkan para pemuda yang dikombinasikan dengan pemain gaek. Apakah itu menjadi pilihan terbaik? Di Liga Europa jawabannya iya, tetapi tidak di Liga Primer.

Tim Howard: Dari Pahlawan Piala Dunia Menjadi Bulan-Bulanan Lini Depan Lawan

Kita semua sebagai fans dan para penonton Piala Dunia 2014 sudah menyaksikan dengan kaget dan penuh kekaguman untuk tim nasional Amerika Serikat. Jika ada satu orang yang patut disebut pahlawan negara, ia bukanlah Landon Donovan (yang memang tidak bermain), tetapi sosok berjanggut yang juga bukan Santa Claus. Ia adalah Tim Howard.

Pada pertandingan melawan Belgia misalnya, tim tersebut berhasil meluncurkan 16 tembakan langsung ke gawang Howard, tetapi gawangnya tak bergeming sedikitpun.

Setelah Piala Dunia, Howard bagaikan virus di tanah airnya. Dia menjadi sensasi, mimpi setiap orang di mana-mana, bahkan juga menjadi pemain dengan nilai pasar yang mencuat. Presiden Barrack Obama sekalipun tidak mau kalah menyanjung Howard. Obama sempat bercanda dengan menawarkan Howard jabatan Menteri Pertahanan AS.

Jelas kegilaan ini tidak bisa bertahan. Piala Dunia telah memberikan Howard aura yang tak terbantahkan. Ini mungkin yang menjadi pertimbangan utama Anda semua di kala memilih Howard untuk menjaga keperawanan gawang Fantasy Premier League Anda... Saya, sih, tidak ikut-ikutan.

Sayangnya penampilan Howard di Liga Primer tidak seperti di Piala Dunia. Howard, bersama Joel Robles (kiper cadangan), dan pertahanannya telah kebobolan 33 gol sampai setelah Tahun Baru 2015. Ini didapatkan hanya dari 71 tembakan on target.

Ini artinya, sekitar 46% dari tembakan ke gawang Everton telah berakhir sebagai gol. Sebagai perbandingan juga, rata-rata mereka ditembak 13,1 kali oleh lawan setiap pertandingan.

Masalahnya, performa kiper yang paling ketara adalah dari jumlah kebobolannya. Selain karena Howard sedang cedera, itu juga mungkin yang membuat Martinez lebih memilih Robles, mantan penjaga gawang andalannya di Wigan Athletic tiga musim yang lalu, daripada Howard akhir-akhir ini.

Sebagai buntut dari performa mengecewakan, tetap saja Martinez merasa perlu untuk membela Howard. Ketika ditanya mengapa Howard tidak memiliki awal terbaik untuk musim ini, ia malah berujar bahwa β€œmabuk” Piala Dunia menjadi akar penyebab goyahnya sang kiper.

Martinez juga mengklaim Howard sedang dalam perjalanan spiritualnya untuk kembali ke performa terbaiknya. Bagi Howard, ini adalah hal yang menyebalkan. Untuk semua kekurangan, pengambilan keputusannya yang tidak menentu, distribusinya yang buruk, dan kecenderungannya untuk kehilangan fokus, Howard tetap bisa menjadi luar biasa. Sayangnya, musim ini ia lebih sering salah daripada benar.



Seperti deja vu ketika ia dilepas oleh Manchester United. Kala itu, Sir Alex Ferguson berkata bahwa Howard sulit sekali untuk fokus.

Tahun Baru, Saatnya Pembaharuan

Jika, untuk alasan apapun, Martinez menentang logika dalam bursa transfer yang akan dibuka dalam beberapa hari ini dengan mengabaikan masalah-masalah utama di atas, dia tidak akan bisa mengelak dari tanggung jawab pada akhir musim nanti.

Distin, Alcaraz, dan Luke Garbutt akan habis kontraknya dalam enam bulan. Martinez harus bisa memilih bek yang tepat. Ia juga harus mempertimbangkan untuk mendatangkan pemain yang bisa bermain dengan gaya yang disukainya.

Seperti Stones, saat ia dikontrak dari Barnsley pada Januari 2013. Meskipun ia masih muda, Stones sudah siap untuk bermain di tim utama dan bahkan sempat dipanggil timnas Inggris sebelum Piala Dunia.

Jika paruh musim ke dua 2014-2015 Everton tidak melakukan perubahan, pertanyaan besar mengenai skuat Everton yang sudah tua juga harus diatasi secara cepat.

Martinez memang seorang manajer cerdas, pemikir analitis yang mendalam, dan juga ahli strategi. Tanpa harus kita ingatkan, dia akan cukup sadar tentang betapa pentingnya bursa transfer Januari nanti.

Tahun Baru tentunya menjadi simbol pembaharuan. Ini adalah waktu yang tepat bagi Martinez untuk membuang yang lama dan membawa sebuah pembaharuan. Setuju ataupun tidak, usia pemain akan terus bertambah seiring berjalannya waktu dan bergantinya angka-angka di kalender Anda. Seperti juga janggut Tim Howard yang terus tumbuh setiap harinya.


===

* Akun twitter penulis: @dexglenniza dari @panditfootball

(din/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads