Catur dan Sepakbola

Catur dan Sepakbola

- Sepakbola
Kamis, 15 Jan 2015 13:00 WIB
Catur dan Sepakbola
Jakarta -

Sungguh menggelikan jika sepakbola dimengerti hanya sekadar menendang bola ke arah gawang.

Jika berbicara tentang sepakbola di tingkat profesional, betapa naifnya jika sepakbola disederhanakan melulu soal tendang-menendang ke arah gawang. Ada banyak hal yang bekerja di balik sebuah tendangan yang menjadi gol.

Untuk melakukan itu dibutuhkan tak hanya soal postur dan kekuatan, tapi juga fisik visi, inteijensia dan kemampuan menganalisa. Sebagai contoh, bila kita hendak mendaki gunung bukan hanya segi fisik yg diperhatikan tetapi hal-hal sederhana seperti apa yang harus dimasukkan ke dalam tas yang akan dibawa mendaki. Percaya atau tidak, hal-hal seperti itu yang bisa membantu memaksimalkan perjalanan ke puncak gunung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam bermain sepakbola, setiap individu harus dan wajib bisa membaca permainan lawan. Misalnya bagiamana caranya menghadapi penyerang yang lebih tinggi saat pemain bek pendek atau bagaimana menjaga pemain cepat kalau bek tengahnya lambat, dan lain-lain.

Tentu saja kita tidak bisa bermain kasar dengan menarik atau menendang lawan, atau kita juga tidak bisa menendang bola sebanyak-banyaknya ke daerah pertahanan lawan dan berharap begitu saja akan ada satu bola yang lolos dari hadangan dan kemudian bisa menghasikan gol.

Untuk memahami kompleksitas hal-hal itu, tak ada salahnya kita menggunakan catur sebagai amsal.

Sebelum banyaknya pilihan acara di televisi, gadget dan aplikasi permainannya yang beraneka, permainan yang saya gemari waktu kecil untuk menghabiskan waktu ialah catur. Tujuan dari permainan ini ialah untuk bagaimana bisa mengalahkan raja sang lawan. Tidak semudah itu untuk mendapatkan raja lawan. Karena itu permainan ini bisa berlangsung berjam-jam.

Yang saya sukai dari permainan ini ialah pola pikir kita secara konstan dilatih dan diaktifkan. Kreativitas pun terlatih dan teruji. Misalnya, kapan sebuah pion kecil maju ke depan dan melakukan blok atau memakan, bagaimana kita menggunakan empat langkah maut untuk mengalahkan lawan atau kapan kita harus mengorbankan perdana menteri untuk membuka pertahanan lawan agar kuda bisa melakukan gerakan mengunci raja lawan.

Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari permainan catur, tak terkecuali dalam sepakbola.

Misalnya, bagi seorang playmaker. Playmaker memiliki tugas dan peran yang sangat penting. Dia yang mengatur irama permainan, kapan menyerang, kapan bertahan, kapan menetralisir saat diserang, kapan mengambil kesempatan saat lawan kocar kacir, dll. Untuk bisa mengemban tugas seperti itu, dia memerlukan visi. Playmaker memiliki tugas untuk menerapkan strategi yang diberikan pelatih di dalam sebuah formasi dan strategi yang telah ditentukan.



Dalam catur terkadang dalam membangun sebuah penyerangan kita melakukan tekanan (pressing) ketat sehingga lawan tak punya banyak pilihan. Gunanya untuk memaksa lawan membawa mundur pion-pionnya atau terpaksa harus memakan salah satu pion kita dengan resiko barisan pertahanan akan keropos.

Hal ini bisa diterapkan juga di sepakbola. Dengan melakukan pressing ketat di garis pertahanan lawan, sebuah kesebelasan bisa membuat lawannya tertekan, sebab pertahanan terbaik adalah bertahan di area pertahanan lawan itu sendiri (the best defend is to defend at the enemy territory). Bila ini dilakukan, lawan pelan tapi pasti bisa melakukan beberapa kesalahan-kesalahan dasar sehingga dengan mudah bisa menciptakan peluang.

Lalu mengapa catur penting bagi pemain bola? Intelijensia yang dimiliki seorang pemain akan berpengaruh terhadap cara dia bermain. Dia tidak akan cepat panik atau bingung saat mendapatkan bola dalam posisi yang terkepung. Dengan mudahnya dia dapat berpikir ke mana bola harus diarahkan dan ke arah mana dia harus bergerak.

Saat bermain catur, saat memajukan satu pion ke depan seoranng pemain sudah harus tahu apa langkah-langkah berikutnya. Bahkan sudah tahu tiga, lima hingga tujuh langkah berikutnya.

Di Sepakbola yang kita pikirkan atau idolakan ialah seoarang striker yang mencetak gol atau si pemberi assist. Akan tetapi sebenarnya sebelum gol ini terjadi ada sebuah momentum yang dimulai dengan umpan. Dalam bahasa bola ini disebut dengan umpan kunci (keypass).

Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Thomas Muller, Wayne Rooney, Luis Suarez selalu memberi pujian kepada pemain tengah mereka. Ronaldo bahkan sangat kesal dan sedih ketika Mesut Oezil dan di Maria meninggalkan Real Madrid. Mengapa Toni Kroos yang jarang mencetak gol, misalnya, atau Andre Pirlo atau Philipp Lahm atau Michael Carrick sangat berpengaruh dalam timnya? Jawabannya adalah umpan kunci ini tadi.

Sebagai playmaker (kecuali Lahm, pemain terpintar di Bundesliga berdasarkan perhitungan IQ) mereka mencari celah dengan berbagai metode. Saat mereka melakukan umpan kunci dengan umpan terobosan mereka ke arah sayap mereka telah membuka pertahanan lawan. Dari sayap pemain sisi luar akan memberi assist kepada striker yang kemudian diselesaikan dengan baik. Di sini seorang playmaker dengan kecerdasannya mengetahui atau sudah mengantisipasi kerjasama ini. Dia pasti akan mencoba segala cara, bukan hanya dengan bola lambung langsung ke arah striker yang monoton dan mudah ditebak.

Tentu saja dengan banyak melakukan latihan seseorang akan menjadi semakin baik permainannya. Akan tetapi apakah cukup dengan hanya berlatih di lapangan? Kejelian otak dan ketajaman berpikir bisa dilatih dan tidak pernah ada batasannya. Sebab intelijensia mampu menyediakan berbagai pilihan yang juga bisa tak terbatas.

Mengapa catur yang saya tawarkan di sini? Banyak hal yang bisa didapatkan dari bermain catur secara rutin. Faktor-faktor seperti fokus, konsentrasi, berpikir jauh ke depan (baca: visi), bagaimana keluar dari tekanan, organisasi, kerja sama, dan kreativitas bisa dilatih melalui catur.

Bila seorang pemain bola mengasah otaknya, seperti dengan bermain catur atau membaca buku, maka dia secara langsung sedang mengasah dirinya untuk menjadi jauh lebih kritis dan tajam dalam melihat berbagai kemungkinan di atas lapangan hijau.

====

* Penulis adalahΒ Sport PhysiotherapistΒ yang bekerja sama denganΒ Pandit Football IndonesiaΒ dalam pengembanganΒ sport scienceΒ di Indonesia. Sering dipercaya sebagai fisioterapis tim nasional Indonesia. Akuntwitter: @MatiasIbo

(din/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads