Bukan Tentang Derby Manchester

Bukan Tentang Derby Manchester

- Sepakbola
Minggu, 12 Apr 2015 13:03 WIB
Bukan Tentang Derby Manchester
Getty Images
Jakarta -

Kebanyakan pendukung kesebelasan sepakbola akan melakukan hal sama saat mereka mengakses jadwal pertandingan di musim yang baru: mencari tahu kapan kesebelasan kesayangan bertanding melawan rival di kandang, dan kapan mereka harus mengunjungi tempat terlarang (baca: kandang lawan) untuk memberi dukungan. Sewajarnya mereka berlaku demikian karena rival bukanlah kesebelasan biasa.

Rival bukanlah lawan yang hanya memiliki arti sepanjang berjalannya pertandingan dan tidak penting sama sekali setelah itu. Kita setiap harinya menjalani kehidupan mereka, suka tidak suka, sembari menaruh peduli terhadap apa yang dilakukan rival. Rival, meminjam istilah Sir Alex Ferguson, adalah tetangga berisik. β€œSometimes you have a noisy neighbor and have to live with it. You can't do anything about them.”

Dengan sendirinya, sebuah kesebelasan (dan para pendukung setia mereka) mengetahui dan memperhatikan nyaris segala hal yang berhubungan dengan sang rival. Terlebih lagi jika hal-hal tersebut juga memiliki hubungan dengan mereka. Tujuannya tentu agar mereka tidak kalah dari sang rival dan, jika ada hal kurang menyenangkan terjadi kepada rival, menemukan alasan untuk tertawa di atas derita.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Derita Manchester United adalah bahagia Manchester City. Begitu pula sebaliknya.

Milan, 2 Mei 2007. Manchester United datang ke San Siro membawa bekal kemenangan 3-2 dari pertandingan pertama semifinal Champions League musim 2006/07. AC Milan yang, untuk mencapai partai final, hanya membutuhkan kemenangan satu gol tanpa balas menyarangkan tiga gol di gawang Edwin van der Sar.

Tiga hari setelah gagal meraih tiket ke Athena (United bisa bertemu dengan musuh bebuyutan mereka yang lain, Liverpool, jika saja mereka berhasil mencapai final), United berkunjung ke City of Manchester Stadium. Merasa menemukan bahagia di atas derita United, beberapa pendukung City menghadiri pertandingan derby mengenakan seragam Milan. Mereka nampak tak peduli terhadap fakta bahwa United bisa mencapai semifinal Champions League sementara City tidak berlaga di Eropa karena hanya mampu mengakhiri musim 2005/06 di peringkat ke-15; empat puluh poin di belakang United yang duduk di peringkat kedua.

Sejarah perselisihan panjang kedua kesebelasan menyimpan lebih banyak cerita bahagia di atas derita; yang tidak harus selalu berasal dari momen-momen yang secara langsung mempertemukan United dan City.

Cerita dari 1937, 1938, 1968, dan 2012

Bersama manager Wilf Wild, Manchester City berhasil menjadi juara liga untuk kali pertama. Lima puluh tujuh angka yang mereka kumpulkan dari empat puluh dua pertandingan membawa City menduduki peringkat teratas, tiga angka di atas Charlton Athletic di ajang First Division musim 1936/37.

Manchester United, sementara itu, mengalami nasib yang sama sekali berbeda. First Division berisi dua puluh dua kesebelasan, dan penghuni dua peringkat terbawah di akhir musim harus rela turun divisi. United menjadi satu dari dua kesebelasan tersebut karena hanya mampu mengumpulkan tiga puluh dua angka; dua angka di atas Sheffield Wednesday.

Karenanya, United menjalani musim berikutnya di Second Division sementara City berada di tempat yang lebih terhormat. Tak hanya itu, City juga menyandang status juara bertahan. Namun di akhir musim, City mencatatkan sejarah yang kurang menyenangkan.

City menjadi juara bertahan pertama yang terdegradasi. Gelar juara berpindah ke tangan Arsenal. Sementara City, yang jumlah raihan angkanya hanya tiga puluh enam, terdegradasi bersama West Bromwich Albion yang memiliki jumlah angka yang sama. Seolah itu tak cukup buruk bagi City, satu dari dua kesebelasan yang menggantikan posisi City dan WBA di First Division musim 1937/1938 adalah Manchester United.

Tiga puluh tahun setelah Manchester City dan Manchester United bertukar tempat, keduanya kemudian menguasai Inggris. Manchester menguasai dua peringkat teratas First Division 1967/68, dengan City sebagai juara dan United menjadi runner-up. Keberhasilan ini terasa manis bagi City karena mereka menjadi juara liga dengan mengungguli sang rival dengan jarak yang begitu dekat: dua angka.

Tapi kebahagiaan City tidak berlangsung lama. 18 hari setelah City dipastikan menjadi juara Inggris, tepatnya 29 Mei 1968, United bertanding melawan Sport Lisboa e Benfica di final European Cup. Melawan Eusebio dan sepuluh kawannya, United menjadi juara Eropa lewat kemenangan 4-1. Saat City meraih gelar juara liga mereka yang kedua, United menjadi kesebelasan Inggris pertama yang mencapai final European Cup dan menjadi tim Inggris pertama juga yang pertama menjadi juara Eropa.

Berpuluh-puluh tahun berlalu tanpa persaingan yang benar-benar seru antara kedua kesebelasan. Semuanya berubah di musim 2011/12, di divisi tertinggi liga sepakbola Inggris yang sudah berganti nama menjadi Premier League. Persaingan langsung City dan United di musim ini menjadi alasan kuat di balik terpilihnya Premier League 2011/12 sebagai musim terbaik sepanjang sejarah kejuaraan tersebut.



Hingga pertandingan terakhir musim itu, juara belum dapat ditentukan karena City dan United – dua penghuni peringkat teratas – masih memiliki raihan angka yang sama. United menjalani pertandingan terakhir di kandang Sunderland, sementara City bermain kandang melawan Queens Park Rangers.

Semua pertandingan di pekan terakhir dimulai pada waktu yang bersamaan, namun City mengakhiri pertandingan lebih lambat dari kesebelasan-kesebelasan lain karena kericuhan terjadi dalam pertandingan. United sudah mengantungi kemenangan sementara City masih tertinggal 1-2 melawan QPR yang bermain dengan sepuluh orang pemain. Di titik tersebut, United hampir pasti menjadi juara. Namun seolah ditakdirkan untuk berakhir dengan sangat dramatis, City mencetak dua gol di masa injury time untuk mengunci kemenangan 3-2 dan menjadi juara Premier League untuk kali pertama.

United dan City mengakhiri musim dengan raihan angka yang sama, namun City berada di posisi yang lebih tinggi karena selisih gol mereka, +64, lebih baik ketimbang United (+56). Keunggulan selisih tujuh gol ini mungkin tidak akan terjadi andai United tidak mengalami kekalahan 1-6 saat menjamu City di Old Trafford musim itu.

Mereka yang Menyeberang dan Meninggalkan Luka

Beberapa pemain menolak untuk bermain bagi kesebelasan rival sekota. Beberapa lainnya merasa baik-baik saja mengabdi untuk Manchester City setelah membela Manchester United atau sebaliknya. Di antara para penyeberang, terdapat nama empat pemain City yang membawa United meraih gelar juara bergengsi untuk kali pertama.

Bersama Billy Meredith, Sandy Turnbull, Herbert Burgess, dan Jimmy Bannister di tahun 1904, City meraih trofi bergengsi mereka yang pertama; FA Cup. Pada 1905, City menghukum tujuh belas pemain termasuk Meredith, Turnbull, Burgess, dan Bannister atas kasus pengaturan skor. Keempatnya tak boleh lagi bermain membela City untuk selamanya.

Meredith, Turnbull, Burgess, dan Bannister menjalani masa larangan bertanding yang durasinya berbeda. Keempatnya, setelah menyelesaikan masa hukuman mereka masing-masing, kembali bermain di satu kesebelasan yang sama: Manchester United. Keempatnya menularkan keberhasilan di City ke tubuh United dengan membawa United menjuarai First Division musim 1907/08; gelar juara bergengsi pertama bagi United.

Seperti Meredith, Turnbull, Burgess, dan Bannister, Sir Alexander Matthew Busby menyeberang dari City dan membawa United berjaya. Namun Busby melakukannya dengan cara yang berbeda.

Busby memulai karir di City dan bertahan di sana selama delapan musim. Lima tahun berikutnya ia habiskan di rival United yang lain, Liverpool. Bersama Liverpool pula Busby mengakhiri karirnya sebagai pemain profesional. Karenanya, setelah ia menjalani pekerjaan baru di dunia kepelatihan, Busby dihubung-hubungkan dengan Liverpool dan City. Namun di United justru ia mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai manajer.



United menjadi satu-satunya kesebelasan (di luar tim nasional) yang pernah ditangani Busby. Dalam dua periode kepelatihan di United, Busby mempersembahkan lima gelar juara liga, dua FA Cup, lima Charity Shield, dan tentunya satu piala European Cup; trofi European Cup pertama bagi United sekaligus trofi yang membungkam keberhasilan City mengalahkan United dalam perburuan gelar juara liga Inggris tahun 1968.

Semua kesuksesan Meredith, Turnbull, Burgess, Bannister, dan Busby, bagaimanapun, tak lebih menyakitkan ketimbang apa yang dilakukan Carlos Tevez dan Denis Law.

Tevez, yang menolak perpanjangan kontrak dari United, menyeberang ke City setelah kontraknya habis pada 2009. City mengolok-olok United dengan memasang billboard bertuliskan β€œWelcome to Manchester” dengan foto Tevez sebagai latar belakangnya di jalan masuk ke kota Manchester dari Salford dan Trafford, tempat stadion kebanggaan Manchester United berlokasi. Mereka memanfaatkan momen kedatangan Tevez untuk kembali mengingatkan United bahwa mereka berasal dan berlokasi di luar kota Manchester.

Tiga tahun setelah meninggalkan United, Tevez mengalahkan United dalam perburuan gelar juara liga yang sengit. Separah apapun luka yang digoreskan Tevez, apa yang dilakukan Denis Law lebih menyakitkan lagi.

United berada di posisi yang sulit ketika mereka menjamu City di Old Trafford, satu pekan sebelum putaran terakhir First Division musim 1973/74. Menghuni zona degradasi, United membutuhkan kemenangan untuk bertahan di divisi tertinggi.

United terus berusaha mencetak gol, namun nasib baik tidak mengiringi usaha mereka. Dua kali pemain City menggagalkan peluang United tepat di garis gawang. Hal yang ditakutkan United terjadi di menit ke-81.



Denis Law, bekas pemain United, menerima umpan dari Francis Lee di dalam kotak penalti. Membelakangi gawang ketika bola menghampirinya, Law menyontek bola dengan tumit untuk menciptakan gol. Law tidak melakukan perayaan sementara gol yang ia ciptakan memicu invasi lapangan besar-besaran.

Pertandingan berakhir dengan kemenangan gol tunggal untuk Manchester City, dan United pun terdegradasi.

Tertawa dan menangis bukan karena City mencetak gol ke gawang United atau sebaliknya, tapi tertawa dan menangis karena derby yang dilangsungkan dengan cara yang agak memutar: meminjam tangan kesebelasan lain untuk menghadirkan tawa atau kesedihan.

Begitulah rivalitas. Bahkan walau bukan kita sendiri yang mempermalukan sang rival, rasanya tetap saja membahagiakan. Juga dalam banyak hal, seperti yang sudah disebutkan di atas, di antara Manchester merah dan Manchester biru.

====

*penulis biasa menulis untuk situs @panditfootball, beredar di dunia maya dengan akun @nurshiddiq

(roz/roz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads