ADVERTISEMENT

Torino yang Lebih Besar Daripada Juventus di Turin

- Sepakbola
Minggu, 26 Apr 2015 13:38 WIB
Getty Images/Valerio Pennicino
Jakarta -

"Juventus adalah timnya para pria berbudi pekerti, pionir industri, Yesuit, konservatif dan para borjuis kaya, sementara Torino adalah timnya para pekerja, buruh migran dari provinsi tetangga, warga kelas bawah dan kaum miskin," Mario Soldati, novelis kelahiran Turin.

Awal mula persaingan ditandai dari berdirinya kesebelasan Torino yang lahir di tahun 1906, menyusul pembentukan kembali Football Club Torinese dari beberapa penggurus Juventus yang membangkang, termasuk mantan presiden Juventus dan penyandang dana terbesar, Alfredo Dick.

Alfredo mengajak beberapa pemain dari Football Club Torinese, salah satu kesebelasan sepakbola paling tua di Italia, untuk bergabung. Maka terbentuklah Torino seperti yang kita kenal sekarang ini: sebuah kesebelasan yang lahir dari pemberontakan, khas kelas pekerja.

Derby antara kedua kesebelasan pun baru mulai dimainkan pada 1907, pertemuan pertama itu juga menjadi pertandingan resmi pertama milik Torino. Derby della Mole yang memiliki nama sederhana, Derby Turin,jelas kalah pamor jika kita membandingkannya dengan Derby della Madonnina (AC Milan - FC Internazionle), Derby della Capitale (AS Roma - SS Lazio), atau bahkan Derby D'Italia (Juventus - FC Internazionale).

Sejarah derby pertama menceritakan sebuah cerita permusuhan yang konyol. Ketika itu seseorang mengunci Alfredo di ruang ganti sampai pertandingan selesai. Hal tersebut membuat Alfredo selalu menanyakan tentang jalannya pertandingan selama beberapa hari.

Sebutan Derby della Mole sendiri diambil dari nama Mole Antonelliana. Sebuah bangunan setinggi 167 meter di pusat kota Turin, Italia. Gedung ini dibangun mulai tahun 1863 setelah unifikasi Italia, dan selesai pada tahun 1889. Dinamakan begitu untuk menghormati Antonelli sang arsitek, bangunan ini awalnya merupakan sebuah sinagog (tempat ibadah untuk penganut Yahudi) dan kini menjadi Museo Nazionale del Cinema, sekaligus diklaim sebagai museum tertinggi di dunia.

Torino Punya Basis Terbesar di Kota Turin

Torino merupakan salah satu kesebelasan yang tergolong tradisional di Italia. Mereka mempunyai basis pendukung kelas pekerja yang kuat di kota Turin. Menjamurnya pendukung berlatar belakang kelas pekerja disebabkan kota tersebut sebagai daerah perindustrian, termasuk pusat bisnis dan kebudayaan di bagian barat laut Italia, ibu kota region Piemonte dan terletak pada tepi barat Sungai Po. Populasi kotanya adalah 908.000 (sensus 2004), kemudian bertambah menjadi 1,7 juta penduduk namun wilayah metropolitannya mempunyai sekitar 2,2 juta penduduk.

Turin terkenal dengan pusat tempat penghasil Kain Kafan dari Turin yang disimpan di Katedral Santo Yohanes Pembaptis. Kota Turin mempunyai dua kesebelasan sepakbola yang terkenal, Juventus dan Torino Calcio. Selain itu, Turin juga adalah tempat markas perusahaan otomotif FIAT.

Meskipun berlatar belakang dari kelas pekerja, para pendukung Torino tak akan segan-segan menghamburkan uang mereka untuk membeli satu tiket pertandingan. Hal itu akan mereka lakukan meskipun kesebelasan Torino bermain di Roma yang cenderung jauh atau di Palermo yang berada di kawasan Sisilia.

Sementara Juventus, dengan citra elegan dan industrialis mereka, justru lebih banyak memiliki pendukung di luar kota Turin. Sebagian besar pendukung Juventus di Italia lebih banyak berasal dari bagian selatan Italia dan kawasan Sicilia.

Perbandingan antara Torino dan Juventus adalah ekuivalen versi Italia dari perbandingan Manchester United dan Manchester City: di mana United lebih banyak mengumpulkan dukungan dari luar Manchester, sementara City didukung para Mancunian asli dari dalam kota Manchester --meski aslinya Mancunian pendukung United juga sama banyak.

Olok-olokan Superga dan Heysel

Peristiwa yang terjadi pada pukul 17.04 waktu Italia, 4 Mei 1949 tersebut, merupakan lembar buram sejarah sepakbola Italia. Tak sekadar merenggut 31 jiwa. Lebih dari itu, kecelakaan itu juga memutus rantai sebuah generasi emas.

Bayangkan, 18 dari 31 penumpang yang tewas tersebut merupakan skuad inti Torino, kesebelasan tertangguh di Italia dan salah satu kesebelasan terkuat di Eropa. Pada saat itu, Torino adalah raja. Juventus atau Milan tak berkutik. Torino berhasil menobatkan diri sebagai juara sejati Italia dengan mengangkangi takhta Serie A dari 1943 sampai 1949 tanpa putus.

Hasilnya bisa ditebak. Pascakecelakaan tersebut, pamor Torino langsung padam. Takhta Serie A musim 1949-1950 pun dicuri kembali oleh Juventus. Yang lebih parah, Torino tak bisa lagi mempertahankan kebesarannya --saat itu Torino merupakan salah satu kesebelasan paling bergengsi di Italia. Akibat kehilangan kekuatan satu generasinya, Torino terduduk dan tak mampu bangkit lagi sampai saat ini.

Sedangkan Juventus juga memiliki kisah yang kelam dengan sebuah kecelakan di tahun 1985. Hanya saja kecelakaan yang menimpa Juventus tidak terjadi kepada para pemain mereka. Melainkan terjadi kepada para pendukung mereka.

Bencana itu terjadi di Brussels, yang biasa dikenal dengan Tragedi Heysel. Itu merupakan salah satu sejarah kelam dalam sepakbola Eropa. 39 nyawa pendukung Juventus melayang akibat kebrutalan para pendukung Liverpool. Kala itu aksi brutal Liverpudlian menyebabkan dinding Heysel Stadium roboh sebelum pertandingan berlangsung. Akibat insiden memilukan itu, 14 pendukung The Reds ditangkap dan dikenai tuduhan pembunuhan. Tak hanya itu, UEFA menghukum kesebelasan-kesebelasan Inggris dari kompetisi Eropa selama lima tahun.

Dan kedua tragedi kelam yang dialami kedua kesebelasan asal kota Turin ini selalu digunakan untuk bahan olok-olokan satu sama lain saat saling berhadapan. Di dalam stadion selama bertahun-tahun pendukung Juventus selalu selalu merentangkan tangan sembari meniru gestur mirip pesawat terbang (Seperti selebrasi Montella) ketika announcer menyebutkan line up pemain Torino. Setelah seorang announcer selesai menyebutkan seluruh nama pemain Torino, seluruh pendukung Juventus beramai-ramai bersorak; “Boom! Superga!” Tentu saja hal itu dilakukan untuk mengusik luka lama yang diderita Torino dan untuk merendahkan Torino.

Akan tetapi pendukung Torino tidaklah tinggal diam. Tingkah laku pendukung Juventus membuat geram seluruh ultras Torino. Mereka pun membalas tak kalah sadisnya dengan memparodikan Tragedi Heysel. Selama jalannya pertandingan, para pendukung Torino selalu bersorak dengan meneriakan "Grazie Liverpool" atau "Darci un'altra Heysel (Beri kami Heysel yang lain)". Kata-kata tersebut selalu diteriakan setiap kali ketika pemain Juventus menggiring bola mendekati tribun.

Dan bukan hanya itu kebencian antar dua kubu tersebut. Pada 1967 usai pertandingan yang dimenangi Torino dengan skor 4-0, para pendukung Juventus yang marah lalu merusak makam mantan pemain Il Toro, Gigi Meroni.

Perayaan Enzo Maresca

Mari coba kita mengingat ke belakang tepatnya pertemuan kedua Juventus vs Torino di Serie A pada 24 Februari musim 2001/02. Setelah bermain imbang 3-3 di putaran pertama dimana Juventus bertindak sebagai tuan rumah. Pada pertemuan putaran kedua ketika Torino berstatus tuan rumah tergelar drama yang unik.

Pada pertandingan tersebut Juventus unggul 1-0 terlebih dahulu pada menit 10' melalui David Trezeguet. Gol yang membuat tifosi Torino terdiam sejenak. Babak pertama Juventus unggul 1-0.

Usai turun minum, pertandingan semakin panas. Marco Ferrante berhasil menyamakan kedudukan 1-1 di menit 64'. Ferrante merayakan golnya dengan meletakkan dua jari telunjuk di kepala seolah-olah banteng yang mengamuk.

Gol Ferrante itu bikin publik tuan rumah kembali bergairah. Apalagi pada menit 80' Benoit Cauet balik membawa Il Toro unggul 2-1. Gol yang membuat Stadion seakan mau meledak dengan sorak-sorai pendukung Torino yang mengira laga akan berakhir dengan kemenangan mereka.

Tapi nanti dulu, di penghujung laga Lo Spirito Juve memaksa skor menjadi imbang 2-2. Adalah Enzo Maresca yang membobol gawang Torino pada menit 89' melalui sundulan dari tepi luar kotak penalti usai menerima umpan silang terukur Lilian Thuram dari sisi kiri pertahanan Torino.

Usai mencetak gol terjadi hal unik, Maresca merayakannya dengan selebrasi menirukan gaya perayaan Ferrante. Maresca seolah mengejek Torino dengan perayaan bantengnya, meletakkan dua jari telunjuk di kepala sambil menyeruduk sana-sini seolah banteng ngamuk.

Akibat aksi ekstrim yang dilakukannya itu, saat derby berakhir Maresca kesulitan untuk keluar dari stadion Delle Alpi. Ia pun sampai harus diselamatkan dengan menggunakan mobil dari pihak keamanan pertandingan. Bahkan kemarahan pendukung Torino dengan aksi Maresca masih berlanjut di keesokan harinya dengan memberikan sebuah pesan yang berupa ancaman pembunuhan.

====

*penulis biasa meracik kata untuk situs @panditfootball, beredar di dunia maya dengan akun @RandyPrasatya

(roz/a2s)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT