Riquelme dan Generasi Emas Argentina yang Tak Pernah Juara

Riquelme dan Generasi Emas Argentina yang Tak Pernah Juara

- Sepakbola
Kamis, 29 Jan 2015 10:27 WIB
Riquelme dan Generasi Emas Argentina yang Tak Pernah Juara
AFP
Jakarta -

Saya selalu ingin menjadi seperti Juan Roman Riquelme di lapangan sepakbola.

Bukan, bukan akurasi umpannya yang ingin saya tiru atau tendangan bebasnya yang dahsyat. Yang selalu berhasil saya imitasi dari Riquelme setiap saya bermain sepakbola adalah keengganannya untuk berlari. Riquelme adalah jari tengah pada etos sepakbola modern yang mengagungkan etos kerja dan jarak lari yang ditempuh. Ia tidak pernah berlari, bahkan saat semua rekannya yang lain melakukan sprint. Riquelme adalah anti-tesis dari Forrest Gump.

Sudah terlalu banyak tulisan tribut mengenai Riquelme dalam beberapa hari terakhir sejak ia mengumumkan pensiun dan saya tidak akan menghabiskan bandwith anda yang berharga itu, terlebih jika anda mengakses laman ini dari ponsel dengan paket data yang paling ekonomis, dengan menulis artikel apresiasi lainnya terhadap playmaker terbaik Argentina di abad 21 itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keistimewaan Riquelme adalah mutlak dan, kecuali anda adalah Louis van Gaal yang secara kriminal membangkucadangkannya di Barcelona, anda tak akan membantahnya. Tapi saya ingin mengajak anda untuk melihat Riquelme sebagai bagian dari bingkai yang lebih besar, yaitu bagian dari generasi emas sepakbola Argentina yang tak pernah menang apa-apa di level internasional sebagai tim senior.

Tahun 1997, Argentina memenangkan Piala Dunia U-20 di Malaysia dengan salah satu skuat junior paling legendaris yang pernah ada. Argentina datang ke semenanjung Malaya dengan status sebagai juara bertahan, tapi dibandingkan dengan skuat 2 tahun sebelumnya, jelas skuat Argentina tahun 1997 lebih superior bila dinilai dari perjalanan karir para penggawa kuncinya.

Dari skuat junior tahun 1995, hanya Juan Pablo Sorin yang menjadi nama beken dan pemain kelas satu di level senior. Yang paling mendekati mungkin hanya Ariel Ibagaza yang namanya kelak menghiasi game Championship Manager 3 sebagai pemain ciamik berharga murah.

Bandingkan dengan skuat tahun 1997 yang bertaburkan bintang di mana 10 dari 18 anak muda Argentina yang mengalahkan Uruguay di final memperoleh caps di level senior. Persentase ini adalah yang tertinggi dari semua negara kontestan Piala Dunia U-20 tahun itu. Lebih baik dari Prancis yang kelak menyumbang 9 pemain ke level senior. Tim Prancis sendiri terhenti di perempatfinal usai kalah adu penalti dari Uruguay, tapi di saat para para pemain mereka seperti Thierry Henry, William Gallas, David Trezeguet kelak menjadi juara dunia dan Eropa di level senior, para pemain Argentina di generasi mereka justru memiliki jumlah trofi internasional yang sama dengan Emile Heskey.

Kegagalan Riquelme di Eropa bisa diatribusikan pada ketidakcocokannya dengan gaya permainan sepak bola modern di mana β€œdistance covered” adalah sebuah hal menjadi perhatian para pelatih. Namun di tim nasional sendiri, ia hanya pernah bermain di satu Piala Dunia yaitu pada tahun 2006. Pada tahun 2002, Riquelme tidak dilirik oleh timnas karena pelatih Marcelo Bielsa lebih mempercayai sesama jebolan angkatan 1997, yaitu Pablo Aimar.

Karier Aimar di Eropa lebih baik dari Riquelme karena di benua biru ia tercatat tiga kali menjuarai kompetisi domestik dan memegang peran instrumental di dalamnya. Dua kali ia membawa Valencia menjuarai liga dan sekali bersama Benfica di Portugal. Tak hanya itu, ia juga menjuarai UEFA Cup tahun 2004 setelah mengalahkan Marseille di final.

Riquelme adalah topskorer bersama Argentina di Piala Dunia U-20 tahun 1997 itu dan pemain Argentina lain yang menyamai torehan golnya adalah Bernardo Romeo. Anda mungkin tak mengingat siapa Romeo ini karena hanya 4 caps yang sempat ia peroleh bersama tim senior Argentina. Meski begitu selama tiga musim Romeo menjalani karier yang impresif bersama Hamburg SV di Bundesliga.

Sosok kunci di angkatan 1997 yang paling sial mungkin adalah pemain sayap, Sebastian Romero yang hanya sekali bermain untuk timnas senior dan relatif gagal di Eropa karena penampilan terbaiknya ia berikan saat bermain di Racing Club di Argentina.

Berhubung sektor penjaga gawang selalu menjadi lini terlemah dari Argentina, fakta berbicara banyak ketika kiper Leo Franco hanya pernah 4 kali bermain untuk timnas senior. Sialnya, satu dari 4 caps itu adalah ketika masuk sebagai kiper pengganti di perempatfinal Piala Dunia 2006 melawan Jerman di mana ia gagal menahan satu tendangan pun dalam drama adu penalti dan membuat Argentina tersingkir. Karier Franco di Eropa sendiri lumayan dengan lebih dari 150 penampilan untuk masing-masing Real Mallorca dan Atletico Madrid.

Dua pemain bertahan seangkatan Riquelme mungkin tak sementereng rekan-rekannya yang lain, namun kelak menjadi cult hero: Lionel Scaloni, yang menjadi bagian dari β€œSuper Depor” Deportivo La Coruna yang menjuarai La Liga tahun 2000 dan Diego Placente, yang adalah anggota dari Bayer Leverkusen bersama dengan Michael Ballack dan Yildiray Basturk.



Scaloni dan Placente sedikit lebih impresif dibandingkan dengan partner mereka di palang pintu Argentina yaitu Leandro Cufre. Dengan tinggi badan hanya 177 cm, Cufre sama sekali tak terlihat sebagai bek tangguh, namun selama 3 musim ia menjadi andalan AS Roma di Serie A. Sialnya bagi Cufre, ia terlambat semusim datang ke Roma ketika Il Lupi menjadi kampiun Italia pada tahun 2001.

Dari prestasi di level klub, dua anggota angkatan 1997 yang paling bergelimang gelar adalah Esteban Cambiasso dan Walter Samuel, yang masing-masing 6 kali menjuarai liga. Lima kali gelar juara mereka raih bersama di Inter Milan, ketika Samuel datang ke Italia semusim setelah Cambiasso mendarat di sana dari Madrid. Sebelumnya Cambiasso sudah menjuarai liga bersama Real Madrid dan Samuel bersama AS Roma.

Sepuluh pemain tersebut sukses menjejakkan kaki di level senior di mana rekan-rekan seangkatan mereka yang lain tak seberuntung itu, termasuk Diego Quintana yang mencetak gol kemenangan di Malaysia namun tak pernah dipanggil timnas senior dan gagal di Eropa karena posturnya yang terlalu kecil -- 162 cm.

Generasi Riquelme dan kawan-kawan adalah generasi Argentina terbaik dalam waktu yang lama sampai ketika Yang Maha Kuasa menitiskan Lionel Messi ke negara tersebut. Namun ketika sampai sekarang pun Argentina masih belum pernah menang apa-apa di level senior sejak terakhir menang Copa America tahun 1993 (salahkan Rodrigo Palacio pada bulan Juli silam…), generasi Riquelme dan kawan-kawan memang tidak seintegral itu kepada tim nasional sepanjang karir mereka jika dinilai dari jumlah caps.

Jumlah caps terbanyak dari angkatan 1997 adalah Walter Samuel dengan 56 caps disusul oleh Cambiasso dan Aimar (52 caps). Caps dari Riquelme sendiri 51. Bandingkan dengan 115 caps milik Roberto Ayala (terbanyak kedua setelah Javier Zanetti) atau 110 caps milik Javier Mascherano yang berada di angkatan di bawah mereka.

Jangan salah, torehan caps dari Riquelme dan kawan-kawan tetap adalah pencapaian hebat, tapi ini juga menunjukkan bahwa mereka bukanlah bagian terpisahkan dari timnas Argentina. Entah karena masalah taktik, kecocokan dengan pelatih, atau juga faktor cedera. Namun hal ini juga bisa dijadikan alasan oleh para pendukung angkatan 1997 bahwa melempemnya timnas Argentina selama ini adalah karena para pelatih gagal memaksimalkan potensi skuat angkatan 1997.

Bila dilihat dari perspektif lain, sebenarnya hanya Prancis angkatan 1997 yang kelak pemain-pemainnya sukses merajai Eropa dan dunia. Memang gelar dan trofi tak selalu bisa dijadikan ukuran seberapa melegenda dan dalamnya kesan yang ditinggalkan sebuah generasi sepakbola.

Sebagai perbandingan, dalam kompetisi di Malaysia tersebut, di 16 besar Argentina mengalahkan Inggris. Kedua negara kelak tak pernah menang apa-apa dalam skala senior.

Namun ketika nama Riquelme, Aimar, Cambiasso, Samuel disandingkan dengan anggota skuat Inggris di kompetisi itu: Matthew Upson, Jamie Carragher, Kieron Dyer, Danny Murphy, dan Michael Owen, anda tahu mana yang lebih meninggalkan kesan mendalam bagi dunia sepakbola.




====

* Penulis adalah satiris dan penulis sepakbola, presenter BeIN Sports Indonesia. Bisa dihubungi melalui akun twitter @pangeransiahaan

(krs/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads