Wasit Michael Oliver Menyelamatkan Louis van Gaal

Wasit Michael Oliver Menyelamatkan Louis van Gaal

- Sepakbola
Rabu, 11 Mar 2015 11:22 WIB
Wasit Michael Oliver Menyelamatkan Louis van Gaal
Jakarta -

“Whoa, whoa, whoa!”, begitu ekspresi wasit Michael Oliver ketika ia membalikkan badan untuk melihat siapa pemain yang cukup bodoh untuk menarik bajunya.

Di lapangan sepakbola, wasit adalah wakil Tuhan yang tak boleh dijamah sembarangan, apalagi ditarik-tarik bajunya. Seperti halnya menyetir kendaraan pribadi masuk jalur Trans Jakarta di depan polisi, menarik baju wasit adalah mencari gara-gara dengan mencolok. Apalagi kalau beberapa detik sebelumnya pemain yang menarik baju tersebut baru mendapat kartu kuning. Apa yang dilakukan Angel Di Maria adalah menerobos lampu merah tepat 10 detik setelah sebelumnya mendapat tilang karena masuk busway. Mungkin kita tak perlu terlalu terkejut karena Di Maria sesungguhnya punya riwayat mendapat 2 kartu kuning berturut-turut dalam tempo singkat.



SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika beberapa menit kemudian Adnan Januzaj juga mendapatkan kartu kuning akibat aksi teatrikal menjatuhkan badan dalam kotak penalti tanpa ada kontak dari siapa-siapa, kita patut bertanya mengapa Ashley Young tidak membagi ilmu kepada rekan-rekan setimnya. Aksi Januzaj bahkan lebih memprihatinkan lagi karena ada interval sekian detik sejak ia “terlihat” dilanggar sampai benar-benar jatuh. Disinyalir, dalam interval sekian detik itu, Januzaj berupaya meyakinkan dirinya untuk mengambil langkah dramatis. Kartu kuning untuk Januzaj sama sekali tidak salah tempat dan seharusnya ia mendapatkan 2 kartu kuning pula. Yang pertama untuk diving, yang kedua kualitas diving yang buruk.

Fans Manchester United akan dengan cepat menunjuk standar ganda dari wasit Michael Oliver yang tidak memberi kartu merah kepada kiper Manchester City, Joe Hart, yang pada beberapa pertandingan yang lalu melakukan headbutt kepada dirinya. Tapi sayangnya performa wasit sering kali diukur bukan dari hukuman yang tidak ia jatuhkan, tetapi dari hukuman yang ia tetapkan. Dalam kasus ini, keputusan Michael Oliver untuk mengusir Di Maria bisa dipertanggungjawabkan.

Satu-satunya kesalahan yang dilakukan Oliver adalah dengan ketegasannya memberi kartu merah kepada pemain Manchester United tetap di depan tribun Stretford End yang dipadati puluhan ribu suporter “Setan Merah”, ia mengalihkan sorotan media dan suporter kepada dirinya, dan bukan kepada Louis van Gaal.



Pada akhirnya, bukan kartu merah Di Maria yang membuat United kalah, tapi backpass impoten Antonio Valencia kepada David De Gea yang membuat Danny Welbeck menyerobot dan mencetak gol. Sorotan kepada Oliver akan membuat banyak orang lupa bahwa bagaimana pun Valencia adalah seorang pemain sayap yang dipaksakan bermain di posisi bek kanan. Hal ini membingungkan karena di bangku cadangan, Van Gaal punya bek kanan alami dalam diri Rafael.

Karena sibuk membahas wasit pula maka kita akan luput dari fakta bahwa Manchester United adalah tim Premier League yang paling banyak melakukan backpass (451). Ini adalah bagian dari strategi Van Gaal yang menghendaki aliran bola yang konstan dari bek kepada penjaga gawang. David De Gea punya kemampuan passing dan distribusi bola yang baik untuk menjadi sosok sentral dari taktik gemar oper ke belakang seperti ini.

Tapi jika dilihat dari kacamata lain, maka lawan tahu bahwa bek-bek United bertendensi untuk melakukan backpass dan jika mereka melakukan pressing ketat, mereka punya peluang untuk menyerobot backpass tersebut, entah karena bek yang salah oper atau respons yang salah dari penjaga gawang.

Yang terjadi dalam gol Welbeck adalah persis demikian. Ini tidak sepenuhnya hanya bermodal keberuntungan, tapi juga sebuah hasil usaha. Para pemain Arsenal terus menekan backpass United berharap ada blunder yang terjadi. Mereka tidak menunggu keberuntungan, tapi mereka mengusahakan keberuntungan tersebut. Seperti kata Pharrell Williams dalam lagu kolaborasinya Daft Punk, para pemain Arsenal “stay up to get lucky”.

Kenapa Van Gaal doyan sekali dengan backpass? Jawabannya bisa ditemui dalam buklet kecil mengenai filosofi sepakbolanya. Van Gaal percaya bahwa di era sepakbola modern, para gelandang menyerang tidak punya ruang yang cukup untuk menjadi playmaker. Jika ingin menjadi playmaker dalam arti sesungguhnya, Van Gaal percaya bahwa hanya bek tengah yang punya ruang cukup untuk bervisi dan mengalirkan bola. Celakanya, Van Gaal tak punya satu pun ball-playing defender yang mumpuni.

Karena para fans akan sibuk memaki Michael Oliver yang menurut mereka mengambil keputusan kontroversial, maka mereka juga akan kelewatan untuk mengingat bahwa sekali lagi United bermain jauh dari bagus. Okelah di babak pertama permainan United lumayan dengan Wayne Rooney sebagai ujung tombak dan Di Maria sebagai inverted winger di kanan menusuk pertahanan Arsenal dan meneror kotak penalti dengan hujan umpan silangnya.

Tapi jika dilihat, permainan yang atraktif dan terbuka di babak pertama dari United juga dibantu oleh kinerja defensif Arsenal yang juga acak-acakan. Problem acak-acakan yang sama juga diderita oleh United yang membuat Nacho Monreal tak terkawal dalam kotak penalti setelah sebelumnya Alex Oxlade Chamberlain berlari melewati 4 pemain United seperti mobil slalom melewati cone.

Bahkan sebelum kartu merah Di Maria pun performa United menyedihkan di babak kedua. Entah mengapa Van Gaal sebal dengan Ander Herrera, tapi tanpa satu-satunya gelandang tengah mobile milik United tersebut, timnya kehilangan orientasi. Dalam kondisi tertinggal, Van Gaal kembali ke taktik favoritnya, Deus Ex Marouane, dengan misi utama mendaratkan bola di kepala dan dada Fellaini.

Dengan hilangnya kesempatan terakhir United untuk meraih trofi musim ini, ini adalah saat yang tepat untuk mempertanyakan filosofi sepakbola dari Van Gaal. Tidak serta merta menganjurkan Van Gaal untuk dipecat, tapi apa betul ia punya rencana yang jelas dalam menyusun strategi dan taktik United?



Penulis Inggris yang lama tinggal di Belanda, Simon Kuper, mengatakan bahwa Van Gaal yang sekarang adalah Van Gaal yang pragmatis, bukan lagi Van Gaal idealis yang dulu. Ia mengutip biografer Van Gaal, Hugo Borst, yang mengatakan, “Ada yang berubah dalam diri Van Gaal dan ia kehilangan orisinalitasnya. Mengerikan melihat bagaimana orang yang idealis sepertinya sekarang tak punya visi sama sekali.”

Apa betul bahwa Van Gaal masih mengusung sepakbola menyerang?

Apa betul bahwa Marouane Fellaini lebih layak bermain di belakang striker dibanding Juan Mata?

Apa betul bahwa sebenarnya United tak bermain bola-bola panjang dan yang kita lihat di lapangan hanya ilusi optik?

Apa betul bahwa sesungguhnya Van Gaal punya jurus rahasia yang belum ia keluarkan karena masih menunggu waktu yang tepat?

Ini adalah sedikit dari banyak pertanyaan yang harus dijawab Van Gaal karena, tidak seperti musim pertamanya di Ajax, Barcelona, dan Bayern Muenchen, ia tak akan memenangi trofi di musim pertamanya di Old Trafford.

Tapi Van Gaal tak perlu menjawab pertanyaan ini buru-buru karena kartu merah terhadap Angel Di Maria akan membuat publik lebih sibuk mengumpat wasit Michael Oliver, paling tidak sampai pertandingan berikutnya.


====

* Penulis adalah satiris dan penulis sepakbola, presenter BeIN Sports Indonesia. Bisa dihubungi melalui akun twitter @pangeransiahaan

(din/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads