Oranje, Siapa Tombakmu?

Oranje, Siapa Tombakmu?

- Sepakbola
Rabu, 13 Jan 2010 06:25 WIB
Oranje, Siapa Tombakmu?
Jakarta - Sudah sejak lama diketahui, Belanda adalah nama lain untuk sepakbola menyerang. Tapi bagaimana bisa permainan menyerang itu diperlihatkan kalau mencari penyerang saja sulit?

Mari kembali ke era 1970-an ketika Rinus Michel menemukan permainan nan ofensif yang kemudian ia namai Total Football (totaalvoetball) dengan banyak bertumpu kepada playmaker jenius, Johan Cruyff.

Belanda lolos ke dua final Piala Dunia secara beruntun, yakni tahun 1974 di Jerman (kalah dari tuan rumah Jerman Barat) serta tahun 1978 di Argentina di mana kali ini giliran Argentina yang memecundangi mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Citra ofensif itu terus saja melekat meski skema total football sudah tidak 100% dijalani oleh Oranje. Setidaknya, Belanda selalu dianggap sebagai tim dengan kekuatan ofensif tinggi dan biasanya jadi unggulan di sebelum sebuah turnamen dimulai walau akhirnya melempem sebelum berhasil jadi juara.

Permainan ofensif yang diusung Belanda, yang kali ini dipandung oleh pelatih Bert van Marwijk, sedikit terancam menjelang Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Musababnya, tak ada tombak 'Singa Oranye' yang relatif bisa diandalkan sebagai penyerang utama.

Padahal, fungsi penyerang tengah sangat vital buat Belanda yang biasanya mengandalkan skema 4-3-3 dengan sang ujung tombak didampingi dua penyerang sayap.

Penyerang tengah yang sangat diandalkan Belanda sejak beberapa tahun terakhir, Ruud van Nistelrooy, saat ini kondisinya tidak terlalu baik--kalau tidak mau dibilang berada dalam situasi yang buruk.

Mudah cedera dan tidak selalu jadi pilihan utama buat klubnya saat ini, Real Madrid, adalah masalah pengoleksi 33 gol buat Oranje itu. Walhasil, kapasitas penyerang 34 tahun itu pun sedikit menurun.

Permasalahan buat Van Marwijk jadi kian pelik ketika ia mendapati penyerang andalannya yang lain, Robin van Persie, terkapar akibat cedera parah saat membela Belanda menghadapi Italia di laga ujicoba, November tahun lalu.

Engkel Van Persie mengalami cedera parah dan kemungkinan ia harus absen lima bulan. Artinya, seberuntung-beruntungnya Van Persie, ia baru akan sembuh saat kompetisi liga reguler tinggal menyisakan sedikit pertandingan saja. Yang terburuk, Van Persie kemungkinan harus absen sampai musim ini bubar.

Saat Van Nistelrooy dan Van Persie sulit diharapkan, Van Marwijk pun sulit untuk menengok kepada Klaas Jan Huntelaar. Pindah dari Real Madrid yang disesaki banyak penyerang bagus ke AC Milan ternyata tidak menolong The Hunter karena di sana, porsinya pun lebih banyak sebagai pemain cadangan.

Di luar ketiga nama itu, Belanda tidak punya banyak pilihan penyerang. Nama-nama seperti Dirk Kuyt, Ryan Babel dan Eljero Elia bukanlah bomber murni, tetapi lebih sebagai penyerang sayap atau penyerang lubang. Bahkan Babel pun menghadapi masalah kurangnya jam bermain di Liverpool.

Van Marwijk harus bekerja keras untuk bisa menemukan penyerang tengah idealnya. Saran kepada Van Nistelrooy dan Huntelaar untuk mencari klub baru yang lebih menjamin menit bermain rasanya tidak berlebihan.

Waktu untuk Van Nistelrooy dan Huntelaar semakin tipis karena bursa transfer bakal ditutup akhir Januari ini. Bila solusi tidak didapat sampai penutupan, maka siap-siap saja keduanya gagal bermain di Afsel atau kalaupun dipaksakan, maka hasil maksimal akan sulit didapat.

Bila itu yang terjadi, apa solusi Van Marwijk? Melirik penyerang di Liga Belanda? Agak sulit mengingat striker lokal tertajam di Eredivisie saat ini 'hanyalah' seorang pemain muda berusia 20 tahun bernama Bas Dost. Penyerang jangkung milik Heracles itu baru mengumpulkan delapan gol--tertinggal jauh dari top skorer sementara Luis Suarez yang mengoleksi 18 gol.

Belanda memang boleh bersyukur punya gelandang-gelandang hebat semacam Wesley Sneijder, Arjen Robben atau Rafael van der Vaart. Tapi Van Maarwijk tetap saja tidak bisa tidur tenang apabila penyerang idamannya masih belum terlihat di ufuk.

(arp/fjp)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads