Bergelimangan pemain bintang dan ditangani pelatih sekelas Fabio Capello, Inggris datang ke Afrika Selatan dengan kepercayaan diri tinggi lewat penampilan impresif di kualifikasi serta status favorit yang disandangnya.
Namun semua itu hanya catatan di atas kertas belaka. Begitu mentransformasikan segalanya ke lapangan Inggris bagaikan tanpa semangat dan determinasi dalam bermain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melawan Amerika Serikat bermain imbang 1-1 dan ditahan imbang tanpa gol oleh Aljazair. Kini dengan tersisa Slovenia sebagai lawan, Inggris mau tak mau harus memenangi laganya itu jika ingin menang.
Kini Inggris pun dihadapkan pada rekor buruk terkait dua hasil imbang yang diraihnya di dua laga awal turnamen internasional resmi. Inggris pernah meraih hasil serupa di PD 1958 & 1990 serta Piala Eropa 1992.
Dari ketiga turnamen itu hanya di PD 1990 Inggris mampu lolos dari grup. Seri dengan Belanda serta Republik Irlandia di dua laga awal, Inggris akhirnya lolos sebagai juara grup setelah menang 1-0 dari Swiss.
Di PD 1958 Inggris meraih hasil seri pada ketiga laga melawan Brasil, Uni Soviet dan Austria. Dalam playoff penentuan peringkat dua dengan Soviet, Inggris yang diasuh Walter Winterbottom kala itu kalah 0-1.
Terakhir di PE 1992 Inggris pun tersingkir setelah bermain imbang 0-0 dengan Denmark serta Prancis. Di laga terakhir David Platt dkk menyerah 1-2 dari Swedia.
Kini pertanyaannya apakah Inggris mampu menghapus rekor buruk itu atau bahkan menambahnya?
(mrp/key)











































