20 tahun lalu dunia tersentak dengan "kemunculan" Kamerun. Mengawali dengan kemenangan atas Argentina, 'Singa Perkasa' maju sampai perempatfinal sebelum susah payah dijinakkan Inggris lewat perpanjangan waktu. Inilah kesuksesan terbesar sepakbola Afrika.
Penampilan Roger Milla cs di Piala Dunia 1990 itu bak menunjukkan kepada dunia kalau tim asal Afrika tak bisa disepelekan. Sejak saat itu wakil-wakil Afrika memang tak bisa dipandang sebelah mata.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akan tetapi kenyataan di lapangan kemudian berbeda sama sekali. Satu persatu wakil benua Afrika rontok di fase grup, ironisnya dimulai dari Kamerun. Setelah itu berturut-turut menyusul Afsel, Nigeria dan terakhir Aljazair.
Artinya, sudah empat wakil Afrika yang "minggir" dari Piala Dunia 2010. Hanya Ghana yang sudah memastikan lolos ke babak 16 besar sementara satu tim lainnya, Pantai Gading, masih menanti nasib dan berpegangan pada kans tipis untuk lolos.
"Saya pikir para pemain kami gagal memahami bahwa mereka harus berusaha ekstra keras untuk bisa mendapat hasil bagus. Mereka tidak mencari solusi bagaimana cara memenangi pertandingan," analisa mantan pemain Nigeria Jay-jay Okocha di ESPN Soccernet.
Perencanaan. Menurut Okocha, persis itulah hal terbesar yang belum diresapi benar oleh tim-tim asal benua Afrika. "Kami (harus) kembali ke papan perencanaan, berinvestasi ke pemain muda dan memulai perencanaan lagi. Kami selama ini selalu menunggu ada event, baru bersiap-siap," sesal pemain yang mengantar Nigeria meraih medali emas Olimpiade 1996 tersebut.
Selain itu, para pemain dan pelatih tim-tim asal benua Afrika Okocha nilai juga harus lebih banyak menimba pengalaman. Mereka tak boleh berkutat di dalam negeri saja agar bisa mengembangkan diri dan kemampuan.
Meski begitu, pria yang kini berusia 36 itu juga menyesalkan ketidakmampuan sejumlah pemain bintang benua Afrika bersinar di Piala Dunia 2010, kendati mereka sudah kenyang pengalaman di kompetisi-kompetisi Eropa yang lebih kompetitif.
"Ini sebenarnya adalah perkara karakter. Saya pikir para pemain kami kurang cukup menunjukkan antusiasmenya dalam pertandingan. Itulah yang membedakan cara mereka bermain di sini dan di klub-klubnya," lugas Okocha.
Salah satu contoh mengenai hal itu adalah penampilan Samuel Eto'o. Mantan pemain Barcelona itu baru saja membantu klubnya saat ini, Inter Milan, meraih treble kendati di level timnas Eto'o tak bisa berbuat banyak dengan menyelamatkan Kamerun.
(krs/a2s)











































