×
Ad

Menyiapkan Bibit Atlet Papua dari Mimika Sport Complex

Moch Prima Fauzi - detikSepakbola
Kamis, 17 Sep 2026 08:55 WIB
Foto: Moch Prima Fauzi/detikcom
Timika -

Mimika Sport Complex (MSC) menjadi salah satu pusat pembinaan olahraga bagi talenta muda Papua. Di kompleks olahraga yang dibangun PT Freeport Indonesia (PTFI) di Timika, pembinaan dilakukan melalui Papua Football Academy (PFA) untuk sepakbola dan Papua Athletics Center (PAC) untuk cabang atletik.

PTFI membangun MSC sebagai bagian dari dukungan terhadap pengembangan sumber daya manusia Papua melalui olahraga. Kompleks tersebut dilengkapi fasilitas atletik, lapangan sepak bola rumput alami dan sintetis, hall indoor untuk sejumlah cabang olahraga, gymnasium, serta wisma atlet.

Melalui PFA dan PAC, pembinaan tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan atlet berprestasi, tetapi juga membuka akses bagi anak-anak Papua untuk mendapatkan pelatihan yang terstruktur. PFA sendiri didirikan pada 2022 dan menjalankan program pembinaan sepakbola sekaligus pendidikan formal bagi siswa yang terpilih.

Manager Sport Management PT Freeport Indonesia, Janjai Adii mengatakan pengembangan kedua program tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan organisasi olahraga, termasuk PSSI untuk PFA dan Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) untuk pembinaan atletik.

Menurut Janjai, kolaborasi tersebut diperlukan karena pembinaan atlet muda membutuhkan program latihan yang disusun berdasarkan pengalaman dan standar olahraga yang lebih luas.

"Berbagai cara kami coba terus berusaha mengembangkan dengan program-program dan berkolaborasi bersama dengan PSSI untuk PFA kemudian PASI untuk atletik," kata pria yang akrab disapa Jay tersebut, di Mimika, Rabu (16/9/2026).

Dalam empat tahun terakhir, kata Jay, atlet yang dibina melalui PFA dan PAC mulai menunjukkan hasil. Saat ini, sejumlah pemain PFA telah terserap ke tim nasional, sementara dari PAC terdapat atlet yang masuk program pelatihan nasional.

Ke depan, pihaknya ingin menambah jumlah atlet Papua yang dapat masuk ke level tersebut melalui program pembinaan dan kolaborasi dengan PSSI maupun PASI.

"Kami ingin terus menambahkan jumlah anak-anak Papua, atlet-atlet Papua ini agar mereka semakin berprestasi di sana," ujarnya.

Jay mengatakan capaian tersebut menjadi bagian dari proses panjang dalam mencari dan mengembangkan talenta muda Papua. Salah satu tantangan terbesar adalah menemukan anak-anak yang memiliki potensi olahraga di berbagai wilayah Papua.

Proses pencarian bakat dilakukan dengan mendatangi sejumlah daerah. PTFI juga menggunakan turnamen atau kejuaraan skala kecil sebagai salah satu cara untuk melihat potensi atlet yang sebelumnya belum mendapatkan kesempatan untuk berkembang.

"Kami harus melakukan cari bakat atau talent scouting di berbagai kota. Tentunya tidak mudah juga dengan segala keterbatasan akses bahkan fasilitas yang ada," ujarnya.

Menurutnya, keterlibatan organisasi olahraga di daerah juga menjadi bagian dari proses tersebut. PFA dan PAC berkoordinasi dengan Asosiasi Provinsi maupun Asosiasi Kabupaten PSSI ketika melakukan pencarian bakat dan menggelar kegiatan olahraga di daerah.

Tujuannya agar pembinaan tidak hanya terpusat di Timika, tetapi dapat membuka peluang bagi lebih banyak anak Papua dari berbagai wilayah.

Bagi anak-anak Papua yang ingin menekuni olahraga sebagai jalan karier, Jay berpesan agar talenta yang dimiliki diikuti dengan konsistensi, kemauan belajar, dan kerja keras.

"Atlet-atlet Papua ini sebenarnya sangat berbakat, tinggal bagaimana kita mau konsisten dan kita mau terus belajar, berlatih, bekerja keras untuk bisa menghasilkan atau terus mengembangkan potensi-potensi yang atlet-atlet muda ini akan keluarkan menjadi satu prestasi yang baik," katanya.

Bukan Sekadar Prestasi

Menyiapkan Bibit Atlet Papua dari Mimika Sport Complex Foto: Moch Prima Fauzi/detikcom

Jay mengatakan pembinaan melalui PFA dan PAC tidak hanya mengejar pencapaian di arena pertandingan. Para atlet juga mendapatkan pembinaan karakter, termasuk kedisiplinan dan kepercayaan diri.

Perubahan tersebut, kata dia, turut terlihat ketika para siswa kembali berkumpul dengan keluarga. Hal itu menjadi salah satu alasan program pembinaan mendapatkan respons positif dari orang tua.

"Karena memang hasil yang kami tunjukkan juga itu menjadi satu kebanggaan bagi orang tua secara khusus karena kami tidak hanya saja mengejar prestasi tetapi tentunya kami juga berusaha untuk mengembangkan kepribadian, baik itu tingkat kedisiplinan, kepercayaan diri," katanya.

Sekretaris Umum KONI Mimika, George Deda melihat keberadaan PFA dan PAC sebagai bagian penting dalam perkembangan olahraga di Mimika.

Menurut dia, dukungan PTFI terhadap pembinaan olahraga telah dirasakan di berbagai cabang olahraga. Keberadaan MSC juga dinilai memberikan fasilitas yang dapat menunjang lahirnya atlet-atlet baru.

"Ini kebanggaan kami untuk Mimika dan juga untuk Papua. Ada pembinaan sebesar ini di Mimika, ini sesuatu yang luar biasa yang dilakukan teman-teman kita dari Freeport," kata George.

Dia berharap MSC dapat menjadi pusat lahirnya atlet-atlet Papua yang mampu berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.

"MSC merupakan ikon olahraganya Mimika dan kami berharap melalui MSC ini akan lahir atlet-atlet tangguh dan berprestasi yang membanggakan Papua dan Mimika," ujarnya.

Fasilitas dan Pembinaan Terukur

Menyiapkan Bibit Atlet Papua dari Mimika Sport Complex Foto: Moch Prima Fauzi/detikcom

Pelatih dasa lomba PAC, Engel Berth Wiai mengatakan kualitas atlet Papua pada dasarnya mampu bersaing dengan atlet dari daerah lain. Menurut dia, fasilitas dan kualitas pelatih menjadi faktor penting untuk mengembangkan potensi tersebut.

"Sebenarnya luar biasa, dia bisa sama dengan atlet-atlet di luar dengan fasilitas yang untuk sementara ini bagus. Jadi semua itu tergantung dari fasilitas dan pelatih yang mungkin bagus," kata Engel.

Dia menilai fasilitas yang tersedia di MSC membantu atlet menjalani latihan secara lebih optimal. Mulai dari lintasan atletik, peralatan latihan hingga ruang gym tersedia untuk mendukung kebutuhan pembinaan.

"Yang pertama peralatannya, lalu jalurnya, lintasan lari bagus, gym-nya bagus. Lapangan, alat dan ruang gym itu sangat-sangat membantu sekali," ujarnya.

Hal serupa disampaikan Pelatih Lempar Lembing PAC, Agustinus Mahuze. Menurut dia, fasilitas pembinaan tidak hanya berupa tempat latihan, tetapi juga mencakup kebutuhan atlet selama menjalani program.

Atlet mendapatkan akses ke gym, asrama, transportasi dari tempat tinggal menuju lokasi latihan, fasilitas pemulihan, hingga konsumsi yang disediakan melalui katering.

Dari sisi perkembangan prestasi, Agustinus melihat sejumlah nomor atletik mulai menunjukkan hasil. Nomor lempar lembing, lempar cakram, tolak peluru dan lompat jauh menjadi beberapa nomor yang menonjol.

Selain itu, mulai muncul atlet dari Papua Selatan yang menunjukkan perkembangan pada nomor lari jarak menengah, khususnya 800 meter dan 1.500 meter.



Simak Video "Freeport Gelar Parade Budaya: Miniatur Indonesia Hadir di ketinggian 2.400 mdpl"

(prf/ega)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork