Di atas kertas Portugal diunggulkan. Itu karena Cristiano Ronaldo. Pemain termahal di dunia ini berhasil menghipnotis banyak orang. Dan "sihir" itu yang diharap mampu menciptakan keajaiban dalam Piala Dunia 2010 ini.
Namun saya kok percaya sebaliknya. Bukan Portugal yang menang, tapi Spanyol. Itu karena faktor kesantunan kedekatan. Spanyol beretika dan tak mencolok saat sebagai penjajah. Sedang Portugal menunjukkan watak asli sebagai kolonialis tulen. Jorok lagi!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertemuan itu mengacak-acak 'kekerabatan' kerajaan Bacan, Ternate, Moro, Tidore, dan Jailolo. Negeri terikat dalam kekerabatan Kie Raha itu terserak. Bahkan Moro memasuki 'dunia misteri' hilang lenyap begitu saja, yang bagi saya, mungkin itu adalah Suku Moro yang kini berada di Philipina Selatan.
Di Ternate jejak Portugis menyisakan banyak benteng. Benteng ini khas negeri semenanjung Iberia. Kokoh dindingnya, meriam menghadap ke laut, dan "nakal" bentuknya. Benteng Moloko yang berada di pintu masuk Kota Ternate itu sepintas memang seperti biasa-biasa saja.
Tapi cobalah tengok dari laut. Benteng itu akan membangkitkan orang untuk berasosiasi jorok. Sebab bentuknya tidak lumrah. Itu gambaran phallus yang tegak, atau bentuk lingga raksasa dalam ukiran realisnya.
Abad 18 Portugal menjejakkan kakinya di Ambeno (sekarang Timor Leste). Dia tiba-tiba menjadi penguasa baru. Lupa terhadap eksistensi Suku Bugis yang lebih dulu datang dan memberi nama kota dengan Pante Makasar. Itu pangkal Pulau Timor koloni Portugis selain tukar guling dengan Belanda. Untuk kota ini, Portugis membangun taman kota dengan hiasan empat anak telanjang yang dari kemaluannya mengucurkan air mancur.
Perang Malaka tahun 1911 menyisakan catatan lain. Meriam yang dibuat Portugal ikut "terdampar" ke Batavia. Meriam ini terlibat dalam beberapa perang dan menjadi pampasan Belanda untuk "dikaryakan" di Tanah Jawa. Meriam itu unik. Terkesan kurang ajar. Ibu jari menyusup di sela jari tengah dan jari telunjuk. Fuck β¦.. !
Celakanya, ketika penjajah kabur meriam itu dibiarkan teronggok di pantai utara Jakarta. Apa yang terjadi? Meriam itu bukan digunakan sebagai alat jebles jedur atau terorisme, tetapi jadi "tunggangan" para ibu. Mereka yakin jika tak kunjung punya momongan, naik meriam "kurang ajar" itu segera terkabulkan.
Syirik musyrik terlontar akibat ulah ibu-ibu yang ho ho hi he di atas meriam. Mesin perang yang disebut Ki Jagur itu dipindah-pindah. Tapi ke mana saja "diungsikan", kelakuan aneh ibu-ibu muda itu tetap tak jeda. Kini meriam itu berada di depan Museum Jayakarta, persis di mulut "pasar krempyeng" yang ramainya luar biasa. Adakah dengan begitu meriam itu tidak lagi diperkosa? Masih sering, kendati tidak sesering dulu kala.
Namun apa kaitan "kejorokan" masalalu itu dengan kemungkinan kalahnya Portugal lawan Spanyol? Memang tidak ada. Hanya mumpung lagi piala dunia, tidak ada jeleknya kalau masa lalu itu diikutkan sekadar untuk bumbu penambah menu.
Benarkah Portugal kalah? Kita saksikan sama-sama laga sesama negara Eropa Selatan ini.
===
*) Penulis adalah budayawan, tinggal di Surabaya. Tulisan ini bersifat opini penulis, tidak mencerminkan sikap redaksi.
(a2s/a2s)











































