Sehari setelah tersingkir secara menyakitkan oleh Uruguay di perempatfinal, Sabtu (3/7/2010) lalu, Ghana menerima undangan dari karpet merah ala Afrika Selatan, yaitu ke rumah Mandela dan mantan istrinya, Winnie Madikizela-Mandela.
Tentunya para pemain Ghana sangat tersanjung oleh kemurahan hati tokoh pergerakan anti-apartheid tersebut. Kesedihan para pemain pun seakan terobati oleh kelembutan Mandela dan istrinya, serta nasihat-nasihat yang mereka berikan kepada tim yang menjadi harapan terakhir Afrika ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebuah kehormatan besar untuk saya dan pemain," ujar sang kiper Richard Kingson. "Ia (Winnie) menasehati kami tentang kehidupan dan masa depan, menjadi pria yang baik dan mengendalikan segala sesuatu."
"Saya sebenarnya tidak merasa baik. Tapi Mandela dan istrinya memberikan kami kebahagiaan," ujar Sulley Muntari.
Kongres Sepakbola Afrika (ANC) menyatakan kekecewaannya atas kegagalan tim-tim Afrika di Piala Dunia. Namun melalui juru bicaranya, ANC berterima kasih pada Ghana sebagai kebanggaan Afrika yang mampu bertahan hingga perempatfinal dan 'kalah terhormat' lewat drama adu penalti. Pencapaian Ghana tahun ini mengulang kesuksesan Kamerun pada 1990 yang juga sama-sama terhenti di perempat final.
"Pencapaian yang baik oleh Ghana untuk benua ini, ibu dari Afrika dan semua rakyat Afrika bangga. Kami salut denganmu, Ghana," ujar juru bicara ANC Jackson Mthembu seperti dilansir oleh The Associated Press.
(roz/arp)











































