Football for Hope resmi dibuka pada 4 Juli lalu. Festival yang mempertemukan 32 tim sepakbola kanak-kanak dan remaja dari banyak negara dunia itu akan berakhir pada 10 Juli mendatang.
Meski acara utamanya adalah kompetisi sepakbola, namun Football for Hope tak cuma sekadar mengolah si kulit bundar, memasukkannya ke dalam gawang dan meraih kemenangan. FIFA punya agenda lebih besar karena acara tersebut sekaligus menjadi festival pendidikan dan budaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Uniknya, setiap tim yang berpartisipasi dalam Football for Hope ini harus punya anggota wanita. Dan di setiap pertandingan, minimal dua pemain wanita harus diturunkan.
Seluruh skuad tim yang terjun dalam kegiatan ini juga akan berpartisipasi dalam beragam aktivitas yang akan melatih mereka saling bertukarΒ untuk membantu memecahkan masalah sosial yang dialami masing-masing tim.Β
Pada akhirnya, remaja berusi 15-19 tahun yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut diharapkan bisa berkontribusi untuk membangun masa depan yang lebih baik di komunitasnya masing-masing.
Football for Hope dihelat FIFA di salah satu kawasan rawan kejahatan di Kota Johannesburg, Alexandra. Keputusan tersebut dianggap tepat karena Alexandra dianggap.mewakili Afsel sebagai wilayah dengan masalah sosial yang cukup tinggi.
Setiap hari sejak festival tersebut dibuka, ratusan anak-anak dari sekitar Alexandra datang menyemarakkan event tersebut. Meski cuma sekadar mencoba mengeksekusi penalti ke gawang yang kosong, bocah-bocah berusia di bawah 10 tahun itu terlihat sangat antusias.
"Setiap hari ada sampai ratusan anak-anak datang ke sini. Mereka mengantri seperti itu dan merasakan kegembiraan saat mengeksekusi penalti," sahut Blue, salah seorang penjaga stand Adidas.
(din/arp)











































