Selama detiksport tiga hari berada di kota ini, kesimpulan itu begitu mudah didapatkan. Baik di pusat maupun pinggiran kota, semua warga kompak menerapkan disiplin berlalu lintas.
Contoh paling mudah adalah saat lampu merah. Β Tidak ada yang mencoba colongan untuk menerobos lampu merah. Bahkan jika suasana jalan pun sedang sepi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang paling beruntung jelas adalah penjalan kaki. Tanpa rasa khawatir, kita bisa menyeberang jalan dengan aman.
Tapi jangan coba-coba menyeberang di saat lampu masih hijau. Sang sopir malah semakin mempercepat laju kendaraan sehingga membuat ngibrit pejalan kaki.

Soal transportasi lokal juga kota ini layak diacungi jempol. Bus-bus berbagai tujuan, dengan kondisi yang masih bagus, terus berseliweran sepanjang waktu. Dan halte menjadi satu-satunya tempat naik atau turun penumpang.
Jika malam tiba, sekadar saran, lebih baik menggunakan taksi yang pool-nya ada di sejumlah perempatan. Seluruh taksi yang ada di Sao Paulo berwarna putih dan sudah pasti memakai argo.
Sekretaris Indonesian Trade Promotion Center di Sau Paulo, Sinta Surentu mengatakan jika sopir taksi di sini sangat bisa dipercaya. Tinggal memberitahu alamat, wussss... sang sopir langsung melesat membawa kita ke tempat tujuan.
Jangan heran juga jika jarang taksi yang memberi pelayanan Air Conditioner (AC). Memang tidak masalah karena udara Sau Paulo yang dingin serta bersihnya dengan sedikit polusi.
Soal kebaikan sopir-sopir taksi saya pun sudah merasakannya. Jika di Jakarta yang terjadi pembulatan harga ke atas, di kota ini malah sebaliknya. Mereka tidak segan menggenapkan angka justru ke batas bawah.
Obrigado, Sir!
(mok/a2s)










































