Sistem navigasi Global Positioning System alias GPS amat jadi andalan saya dalam menjalankan tugas peliputan Piala Dunia 2014 di Sao Paulo kali ini. Tetapi ada kalanya GPS itu tak lagi bisa diandalkan sehingga mesti menggunakan "GPS" lainnya.
Berada di lokasi asing, peta konvensional saja terkadang tidak cukup. Bersyukurlah saat ini setidaknya sudah ada sistem navigasi GPS, minimal yang sudah dibenamkan ke telepon seluler--macam aplikasi Google Maps. Sistem navigasi GPS ini sudah pernah amat berjasa dalam membantu tugas peliputan saya dua tahun lalu di Kiev dan Donetsk, Ukraina, pada Piala Eropa dua tahun lalu dan kini kembali jadi andalan di Sao Paulo, Brasil.
Signifikansi sistem navigasi itulah yang menjadikan saya mengusung misi mencari SIM Card lokal sebagai salah satu hal pertama yang saya lakukan setibanya di Sao Paulo. Belajar dari pengalaman, sistem navigasi di ponsel yang tersinergi dengan koneksi data akan meringankan tugas saya mencari tempat yang dituju.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akan tetapi, hal itu bukan tanpa kendala. Ada kalanya pencarian sebuah tempat dengan GPS juga menjadi pekerjaan keras. Dalam hal ini, kendala bahasa kian menambah tingkat kesulitan. Tak banyak orang Brasil yang saya temui yang bisa berbahasa Inggris. Sudah begitu, ada sebuah tips di internet yang menyatakan bahwa jangan sembarangan bertanya pada orang di Brasil dan sebisa mungkin bertanya saja pada polisi atau aparat berseragam--terkait aspek kriminalitas.
Pada suatu ketika, saat GPS di ponsel sedang ngadat, saya pun mesti celingukan mencari polisi untuk minta bantuan. Tak dapat, saya pun beralih ke security sebuah gedung sambil menenteng-nenteng alamat tempat yang sedang saya cari. Meski si petugas cas-cis-cus dengan bahasa Portugis dan saya menimpali pakai bahasa Inggris, tapi bahasa Tarzan di antara kami berdua pada akhirnya mampu menjadi solusi.
Kali lain, saya dan rekan saya hendak menuju Museum Sepakbola. Dari GPS, saya sudah menemukan lokasinya. Yang jadi masalah, sistem navigasi saya mengarahkan ke area yang bukan merupakan pintu masuk utama museum tersebut. Saat kami sedang kebingungan, beruntung ada warga setempat yang dengan ramah menghampiri dan bertanya, "Speak English? Mau masuk? Bukan di sini pintu masuknya, tapi di sebelah sana. Yuk, saya antarkan."
Meski awalnya ragu, skeptis, dan sedikit waspada, kami tetap manut membuntuti pria tersebut--yang lantas mengaku bernama Peter. Pada akhirnya Peter ini terbukti memberi kami arahan yang tepat. Setelah itu saya jadi berpikir: kalau Global Positioning System (GPS) di ponsel sudah mentok maka ujung-ujungnya memang harus minta bantuan ke "GPS", alias Guide (dari) Penduduk Sao Paulo.
Sekadar informasi, dari pengamatan saya sopir-sopir taksi di Sao Paulo umumnya juga sangat familiar dengan GPS untuk menavigasi arah, bahkan ada yang menggunakan dua sistem navigasi sekaligus--GPS khusus untuk mobil dan GPS dari ponselnya sendiri. Memang ada pula yang melaju tanpa bantuan semacam itu, tapi beberapa kali akhirnya malah minta menavigasikan arah tujuan melalui GPS di ponsel kami. Bukan tak mungkin juga mereka akan beralih ke "GPS" lain, alias tanya-tanya minta bantuan ke warga sekitar, jika sudah tak lagi ada pilihan.
(krs/roz)











































