Jakarta mungkin bisa menerapkan sistem parkir seperti Kota Sao Paulo, Brasil, jika ingin membuat para pemilik mobil pribadi stres dan beralih ke transportasi publik. Di Sao Paulo, parkiran bisa membuat pusing karena tarif yang tinggi.
Jika Anda hendak memarkir kendaraan di kota ini, perhatikan betul rambu-rambu yang ada. Jangan sembarangan memberhentikan mobil karena tidak semua sisi jalan bisa jadi tempat parkir.
Rambu-rambu yang ada untuk memberitahu pada jam berapa saja mobil Anda bisa diparkir, termasuk juga tarif yang dikenakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan di daerah wisata seperti Museu do Futebol di Charles Miller Square, tarif yang dikenakan adalah R$ 3. Tapi yang harus diperhatikan adalah soal batasan waktu parkir. Tidak ada lokasi yang bisa dijadikan parkiran seharian penuh layaknya Jakarta.
"Ada yang bisa cuma dua jam, atau yang bisa tidak bayar jika malam," kata Deputi Direktur Indonesian Trade Promotion Center di Sao Paulo, Bayu Setiawan, saat ditemui detiksport.
Cara membayarnya adalah melalui tiket parkir yang bisa dibeli di banyak tempat. Sekitar 12 lembar tiket itu dihargai antara R$ 20-28.Jika mau parkir, cukup tuliskan data-data di kolom yang sudah tersedia di tiket tersebut. Mulai dari nopol, tanggal, serta waktu saat mobil berhenti. Tiket itu kemudian diletakan di dashboard mobil.
Petugas parkir biasa akan berkeliling untuk mengecek tiket tersebut. Jika waktu parkir sudah melewati limit, dan mobil Anda masih berhenti, surat tilang langsung dikirim.
Jangan juga parkir di tempat difabel atau orang tua yang disediakan khusus. Tilang akan kembali mampir di rumah Anda.
Lupa bawa tiket? Nah yang ini menjadi sasaran empuk preman-preman sekitar. Dengan sigap mereka langsung menawarkan selembar tiket. Tapi jangan kaget jika harganya malah bisa mencapai R$ 40.
Pusing dan terkesan ribet memang. Makanya banyak gedung atau lahan yang dijadikan semacam lahan parkir swasta. Parkiran model seperti ini biasanya berdekatan dengan halte bus atau MRT. Di kawasan Republica, sekali parkir di lahan swasta tarifnya adalah R$ 20. Tetap terasa mahal apalagi jika kita langsung mengonversi ke rupiah.
Namun itu juga yang membuat warga Sao Paulo memilih menggunakan bus atau MRT. Apalagi kondisi sarana tranportasi di sini tergolong bagus. Dibanding merogoh kocek untuk parkir, lebih baik bayar transportasi publik seharga R$ 3 saja.
Polisi Brasil yang Berbadan Tegap
Sebagai salah satu negara yang tingkat kriminalitasnya terbilang tinggi, tentu saja akan sangat mudah dijumpai polisi di berbagai sudut kota di Brasil termasuk Sao Paulo. Yang susah justru menemukan polisi Brasil dengan perut buncit seperti di Indonesia.
Perut buncit memang menjadi masalah yang sedang ditanggulangi Polri. Dengan kondisi buncit, polisi Indonesia dikhawatirkan jadi malas bergerak, tidak lincah dan terutama rawan penyakit.
Berbagai cara sudah dilakukan Polri agar personelnya bisa tampil ramping. Mulai dari menerapkan program diet ketat hingga rutin menggelar olahraga. Namun toh masih cukup mudah untuk bisa menemukan polisi berbadan tambun.
Kondisi 180 derajat justru ditemui di Sao Paulo. Dari yang saya amati, hampir setiap petugas keamanan ini berbadan tegap.
Seiring pelaksanaan Piala Dunia, keberadaan polisi memang makin ditingkatkan di berbagai lokasi. Sehingga kita dengan mudah mencari sampel.
Polisi dengan seragam warna abu-abu ini hampir seluruhnya ramping. Dalam menjalankan tugasnya, hampir pasti mereka sudah dibekali oleh rompi anti peluru bertulis 'Policia Militar' serta senjata api di sisi samping kanan.
Biasanya setiap berpatroli, ada sekitar 3-5 personel di tiap satu titik. Tapi di beberapa titik, jumlah personel polisi juga bisa sampe 8 orang.
Tidak hanya pria, ada juga 'polwan' di Brasil. Dan postur tubuhnya pun sama, tegap serta ramping.
Menurut Sinta yang juga Sekretaris Indonesian Trade Promotion Center di Sao Paulo, polisi di Brasil memang harus berpostur seperti itu. Selama 11 tahun tinggal di Sau Paulo, dia pun mengaku jarang menemui polisi buncit.
"Karena polisi harus gesit dan kadang-kadang juga patroli bersepeda," kata Sinta.

(mok/a2s)











































