Rabun Dekat dalam Budaya Menonton Sepakbola

- Sepakbola
Kamis, 18 Sep 2014 13:42 WIB
Jakarta - Sepakbola adalah permainan global, tapi cara menikmatinya bisa sangat lokal. Pendek kata: ada universalisme dalam sepakbola, tapi ada relativisme dalam cara menikmati sepakbola.

Jika selain kiper tidak boleh menyentuh bola dengan tangan itu prinsip yang berlaku di Sao Paolo dan Tulungagung, bisakah kita menganggap seorang suporter dari Tulangan di Surabaya yang mengenakan Sergio Tachini atau Stone Island, tapi malah pergi ke stadion beralaskan sandal jepit sebagai pelanggaran terhadap prinsip-prinsip suporter casual?

Universalisme bisa dirumuskan sebagai pandangan yang menganggap ada prinsip-prinsip yang berlaku universal, di mana pun dan kapan pun, tanpa memandang konteks waktu atau ruang, juga tanpa memperhatikan aktor-subjeknya.

Dalam hal sepakbola, universalisme itu ada dalam bentuk aturan main. Di mana pun sepakbola dimainkan, entah itu di laga Persih Tembilahan versus Persenga Nganjuk atau di laga El Clasico Barcelona vs Real Madrid, aturan mainnya selalu sama: masing-masing kesebelasan berjumlah 11 pemain, ada seorang wasit yang dibantu asisten wasit, semua pemain kecuali kiper tak boleh menyentuh bola dengan tangan, dll., dkk., dlsb.

Ada perbedaan-perbedaan kecil dalam peraturan yang sifatnya tambahan. Misalnya: di laga persahabatan boleh mengganti pemain sebanyak lima kali, di liga-liga atau kompetisi tertentu dibolehkan water break. Aturan-aturan tambahan itu sifatnya kondisional (dengan kata lain relatif dengan mempertimbangkan banyak faktor), tapi prinsip-prinsip dasarnya tidak berubah, tetap dan berlaku universal.

Aturan main yang prinsipil ini berlaku tanpa pandang bulu dan karenanya bisalah dikatakan sebagai semacam "hukum besi permainan". Dan, sebagaimana hukum, yang berlaku bukan baik atau buruk, melainkan benar atau salah. Jika seorang striker mengontrol bola dengan tangan, maka itu tindakan yang salah menurut "hukum besi permainan". Tidak ada kata lain.

Aturan main inilah yang memungkinkan permainan bisa dilangsungkan. Tanpa aturan main, permainan tak mungkin berlangsung. Aturan main ini, tulis Johan Huizinga dalam telaahnya terhadap kebudayaan permainan yang termaktub dalam buku klasik Homo Ludens, menjadi bahasa permainan itu sendiri.

Jika permainan adalah sebentuk interaksi, maka interaksi dimungkinkan melalui komunikasi, dan di situlah bahasa muncul, bahkan walau itu bahasa non-verbal sekali pun -- misalnya bahasa tubuh.

Ini berlaku tak hanya untuk sepakbola, tapi juga semua jenis permainan. Bahkan pemain gobak sodor pun paham bahwa jika mereka berhasil disentuh oleh pemain lawan yang berjaga, maka dia dan timnya kalah.

Begitulah universalisme bekerja dalam bentuk aturan main, rule of the game, hukum besi permainan.

Akan berbeda dengan bagaimana sepakbola ditonton dan dinikmati. Begitu memasuki bahasan bagaimana sepakbola ditonton dan dinikmati, mau tidak mau mesti memperhitungkan kebiasaan, dan kebiasaan selalu merupakan hasil interaksi yang mana-suka dan tak terbatas dengan berbagai faktor di luar sepakbola: dari mulai sistem transportasi, ticketing, penegakan hukum, sampai aspek-aspek yang lebih njelimet seperti budaya visual suatu masyarakat, tingkat kedisiplinan sebuah bangsa, atau soal-soal filosofis seperti alam bawah sadar masyarakat dalam memperlakukan (seni) pertunjukan.

Dalam studi kebudayaan, ada istilah "relativisme". Ini merujuk pandangan yang menolak segala upaya menyederhanakan kompleksitas dan keragaman ekspresi kebudayaan. Pandangan ini menampik klaim-klaim yang mencoba menyeragamkan selera, cita rasa, norma-norma, hingga prinsip-prinsip. Relativisme tidak percaya bahwa ada jenis kebudayaan tertentu yang bisa menjadi tolak ukur guna menilai, menimbang, menakar bahkan mengevaluasi kebudayaan-kebudayaan lainnya.

Karena menampik klaim-klaim tunggal dan (pen)seragam(an) itulah maka relativisme dengan riang hati merayakan lokalitas, dengan senang hati menghidupkan konteks, dan (dalam bentuk yang ekstrim) dengan tinggi hati mengerek setinggi bintang dan sejauh kaki langit dari apa yang kadang disebut sebagai "tribalisme".

Sebagai ekstrim dari universalisme, cara berpikir relativistik ini memang bisa membangkitkan kepekaan dalam memahami dinamika yang berkembang di masyarakat. Karena sudah dari sononya peduli dengan lokalitas dan konteks, maka relativisme memaksa siapa pun untuk terus menempelkan kaki, mata dan telinganya di bumi yang sedang dipijak.

Ia membimbing siapa pun untuk tidak lekas menyimpulkan, tidak tergesa-gesa melemparkan penilaian, dan tidak sembrono memberikan evaluasi. Relativisme mendesak siapa pun untuk mau lebih dulu mendengar, melihat, mencium dan mengendus riak-riak kenyataan yang muncul di permukaan dan mengkajinya kembali dengan cara menelusuri asal-muasal, perubahannya, dan dinamikanya.

Dalam soal budaya menonton sepakbola, relativisme ini memungkinkan siapa pun untuk tidak gegabah memberi penilaian cara menonton sepakbola di Brasil lebih buruk dari cara menonton sepakbola di Jerman atau Inggris. Juga agar tak teledor dan sembarangan menganggap cara suporter Latin menggunakan pakaian ngejreng dengan wajah penuh cat warna-warni layaknya para troubadour sebagai contoh cara menonton sepakbola yang buruk.

Menganggap cara menonton ala hooligans lebih keren ketimbang ala karnaval khas Latino itu hal yang bisa diterima, tapi menganggap hooliganisme sebagai bentuk ideal yang layak diterapkan di mana pun dan kapan pun adalah sebentuk imperialisme-budaya-tanpa-senjata.



Kita perlu memahami lebih dulu bagaimana dan seperti apa posisi karnaval sebagai peristiwa budaya di Brasil untuk bisa dengan enak hati memberi penilaian baik-buruk terhadap cara menonton bola orang-orang Brasil. Setidaknya itu akan membuat kita belajar tentang orang lain, dan mau mempelajari dan memahami orang lain dan kebudayaannya adalah langkah kecil untuk merealisasikan (betapapun utopisnya) apa yang dibayangkan John Lennon saat menulis lagu Imagine.

Banjir bandang informasi dan tontonan sepakbola Eropa memang rentan melahirkan "rabun dekat". Sepakbola Eropa yang melaju ke halaman rumah visual kita penaka --dengan meminjam istilahnya Anthony Giddens-- juggernaut (truk besar) dengan kecepatan dan volume yang tak alang kepalang ini amat bisa menumpulkan kepekaan dalam memahami dinamika yang berkembang di berbagai tempat yang demikian kaya dan kompleks.

Untuk sebagian hal ini sebenarnya agak bisa dipahami. Jika "spon" ingatan kita sepenuhnya hanya menyerap sepakbola Eropa, maka "spon" itu juga yang akhirnya menjadi cara menakar dinamika sepakbola yang terjadi di tempat lain.

Soalnya bukan mana yang lebih mulia, nonton sepakbola Eropa atau sepakbola lokal. Itu debat yang sama sekali tidak menarik, apalagi jika hanya berujung pada soal superioritas. Dalam hal budaya menonton sepakbola di Indonesia kontemporer, dua hal itu (sepakbola Eropa dan sepakbola lokal) sudah saling topang-menopang, saling menelikung dan menyusup serta sampai batas tertentu akhirnya menghidupkan dinamika di tribun menjadi menarik dan menyenangkan dilihat dan dinikmati.

Tapi itu menjadi tidak menarik ketika melahirkan beberapa situasi seperti yang akan saya berikan beberapa contohnya.

Saya pernah menonton dua ibu-ibu, usianya sekitar 45 tahunan, menonton sepakbola di Stadion Siliwangi bersama anaknya sembari membawa rantangan. Ukurannya kecil, memang. Tapi rantangan tetaplah rantangan. Isinya bukan cemilan, tapi nasi dan lauk pauk. Mereka menyantap isinya dengan lahap saat jeda pertandingan. Seakan sedang piknik.

Bayangkanlah ejekan para fans di Inggris, pada satu waktu, ketika melihat para fans Chelsea sibuk memakan hamburger saat pertandingan sedang berlangsung. Saya pernah membaca bagaimana fragmen itu digunakan untuk mengejek fans Chelsea sebagai fans karbitan, glory hunter, yang tidak paham cara menikmati sepakbola karena baru memenuhi stadion setelah kedatangan Roman Abramovich.

Bisakah kita menggunakan ejekan serupa pada ibu-ibu yang membawa rantangan itu?

Untuk diketahui, setelah pertandingan, saya sempatkan diri menyapa ibu-ibu itu. Apa jawabannya? Kira-kira begini: "Kami nonton bola dari dulu ya begini, dari tahun 1980-an, berangkat sama-sama dari Pasar Kosambi, bawa bekal nasi dan lauk, dan makan di stadion saat istirahat."

Sungguh keterlaluan dan (dengan berat hati saya bilang) tidak tahu diri jika suporter yang baru datang ke stadion 10 tahun terakhir menilai kelakuan ibu-ibu itu sebagai contoh dari cara yang buruk menonton bola. Setidaknya mereka, para ibu-ibu itu, sudah ada di tribun saat yang bersangkutan baru belajar berjalan dituntun bapak dan ibunya.

Suatu ketika saya juga pernah membaca bagaimana seseorang mengejek dengan telengas seorang suporter yang datang ke stadion dengan mengenakan apa yang disebutnya sebagai "gaya ke hooligans2an dan ke ultras2an" tapi pakai sandal jepit sebagai "shame on you!". Suporter tersebut mengenakan topi bundar, kaus hitam, celana pendek, dan memang bersandal jepit. Di sekelilingnya ada beberapa orang yang mengenakan parka, celana jeans dan sepatu casual.

Otoritas moral, intelektual, dan etik macam apa yang membuat seseorang punya hak untuk mengevaluasi suporter lain sebagai "memalukan" atau "tidak memalukan", "ultras/hooligans sejati" atau "palsu" hanya karena duduk perkara yang sepele itu? Saya percaya, orang tersebut (baik yang mengenakan maupun yang mengomentari) lebih dulu hapal lagu "Topi Saya Bundar" ketimbang istilah "buckethead".

Soalnya saya pernah menyaksikan langsung bagaimana seseorang menilai suporter lain yang mengenakan jaket tebal tapi beralaskan sandal gunung berkaos kaki sebagai "ultras nanggung". Dan itu terjadi di sebuah stadion yang sejam sebelumnya diguyur hujan, terjadi di malam hari, di kota yang dingin, dan saya perkirakan suhu ada di kisaran 18 derajat celsius. Bisakah untuk berpikir lebih sederhana: bukankah sangat wajar orang mengenakan jaket yang tebal di udara malam yang dinginnya mencucuk tulang belakang?

Saya sendiri berkali-kali menyaksikan di tempat lain, di kota yang lain, juga di stadion yang lain, betapa banyak suporter yang mengenakan jaket tebal, parka yang panjang hingga selutut, lengkap dengan topi bundar di kepala, saat suhu sebenarnya sedang panas-panasnya dan sudah cukup membuat gerah bahkan ketika hanya mengenakan singlet. Pemandangan yang buat saya pribadi ganjil, tapi saya mudah untuk menahan diri agar tidak nyeletuk: "Ini bukan di Manchester, bung!"

Kegagapan untuk memahami konteks, sesuatu yang bisa saja disebut sebagai "penyakit rabun dekat", inilah yang memungkinkan ada suporter yang memuja kelakuan suporter di negara-negara balkan yang mengerikan betul kelakuannya tapi malah meledek tingkah para bonek yang nekat menempuh ratusan kilometer dengan hanya memegang uang 10 ribu rupiah, tanpa alas kaki dan hanya bermodalkan ukulele. Bagaimana bisa, sih, mengkultuskan barbarisme nun jauh di sana tapi menginjak-injak ekspresi di sekitarannya?



Hanya dengan menempelkan telinga di tanah yang dipijak sajalah, barangkali, anda bisa mengerti kenapa banyak bobotoh yang mengenakan helm saat di stadion. Mereka banyak tinggal di luar kota Bandung (Rancaekek dan Nagreg, Ciwidey dan Situ Patenggang, Padalarang atau Tanjakan Emen di perbatasan Bandung-Subang) sehingga akan menjadi persoalan serius pulang melewati puluhan perempatan, lampu merah dan pos polisi tanpa helm.

Ini isu yang tak akan ada jika kriminalitas dan menghormati hak milik orang lain (termasuk tak mencuri helm di parkiran) sudah tegak dengan baik.
Ini sama seperti mengabaikan busuknya sistem transportasi massal hanya untuk memuaskan syahwat ejek mengejek ketika memvonis para suporter yang ke stadion dengan angkot atau metromini yang overload, dan sebagian terpaksa duduk di atapnya, sebagai prilaku bar-bar yang tak beradab. Ini penilaian yang sampai batas tertentu juga lahir dari mata yang mengidap "rabun dekat".

Dan penyakit "rabun dekat" ini tak hanya dalam urusan menonton sepakbola, tapi juga mengelola sepakbola.

Ketika wacana industrialisasi sepakbola menguat di Indonesia, bayangan terhadap industrialisasi itu pun nyaris sepenuhnya merujuk industri sepakbola di Eropa. Dan itu pun tidak lengkap.

Makanya jangan heran jika persyaratan untuk disebut klub profesional salah satunya adalah harus berbentuk Perseroan Terbatas (PT). Kenapa tidak pernah ada diskusi sedikit pun yang menyinggung model pengelolaan lain seperti, misalnya, koperasi? Barcelona dan Real Madrid, misalnya, adalah klub sepakbola yang semangatnya adalah koperasi. Jangan langsung melompat pada prilaku jor-joran FlorentinO Perez agar tidak lekas silau, tapi simalkan model pemilihan presidennya, keanggotaannya, dll.

Jangan heran jika hampir semua kesebelasan eks-perserikatan yang beralih menjadi PT nyaris semuanya bermasalah dengan skema dan struktur kepemilikannya. Perserikatan dulunya adalah sebentuk federalisme kota (macam PSSI di level negara), di mana Persija/Persija/Persebaya (misalnya) sebenarnya adalah gabungan dari klub-klub internal yang jumlahnya puluhan dan masing-masing punya hak suara.

Ini konsep yang unik, khas dan nyaris sedikit sekali padanannya di tempat dan negara lain. Mengabaikan latar sejarah ini membuat kekhasan itu memuai, keunikan itu menguap dan potensi kemungkinan membangun pengelolaan sepakbola yang jenial dan boleh jadi (siapa tahu) lebih pas untuk konteks Indonesia pun menjadi menjauh.

Relativisme budaya memang bukannya tanpa resiko. Dalam bentuknya yang ekstrim dan fundamentalis, relativisme budaya ini bisa menjelma menjadi sebentuk chauvinisme, atau dalam lingkup yang lebih kecil bisa menjadi suatu tribalisme. Relativisme yang dipraktikkan tanpa pandang bulu bisa saja berujung pada sulitnya membangun komunikasi dan interaksi lintas-budaya, sehingga dialog kebudayaan (jangan bayangkan “dialog kebudayaan” ini sebagai semintar, loh, ya) bisa menjadi debat kusir yang tidak menarik.

Jika universalisme bisa melahirkan "rabun dekat", relativisme memungkinkan datangnya "rabun jauh". Ini dua situasi ekstrim yang bisa sama-sama menyulitkan.

Soalnya, sekali lagi, bukan mana yang lebih mulia dan mana yang lebih luhur. Bagaimana mungkin merayakan "rabun jauh" saat sepakbola modern (dengan aturan main yang formil seperti yang kita kenal dan nikmati sekarang), toh, memang datangnya dari negeri yang jauh? Tapi masak iya, sih, harus juga mengidap "rabun dekat"?

Sepakbola adalah permainan anak semua bangsa. Cara bermain di mana-mana juga sama: menggunakan kaki dan tidak menggunakan tangan (kecuali kiper). Tapi cara menonton dan menikmati sepakbola tidaklah sama. Karena menonton itu dengan mata dan kita semua tahu: tidak ada mata yang sama, ada banyak bentuk dan warna mata, bahkan identitas (selaput) mata sama uniknya dengan sidik jari.

====

*penulis adalah Chief Editor @panditfootball. Beredar di dunia maya dengan akun @zenrs





(din/a2s)