Kolom
Italia Dilawan Rambo
Sabtu, 17 Jun 2006 10:00 WIB
Jakarta - Di atas langit masih ada langit, begitu kata orang bijak. Pepatah itu terbukti baru-baru ini. Amerika Serikat yang mengklaim selalu perkasa di berbagai bidang, dipaksa mati langkah dalam sepak bola. Mereka mati kutu di tangan Republik Ceko hari Senin kemarin, dan mungkin akan demikian pula saat menghadapi Italia di Kaiserslautern tengah malam nanti, atau Minggu (18/6/2006) dinihari WIB. Pekan depan? Bisa jadi giliran Ghana yang menundukkan mereka.Namun kalah beruntun dan kemungkinan menempati posisi juru kunci tidaklah nista bagi Paman Sam. Alasannya bukan karena negeri yang sering dicap pongah itu sedang putus urat malunya, tetapi lebih pada nilai kesejarahan nenek moyang yang melahirkan bangsa besar dan digdaya ini. Runtutlah ke belakang siapa gerangan mereka. Kenali satu per satu sebelum berpendapat. Dan simak perjalanan waktu yang kemudian membentuk komunitas Amerika sekarang yang mengklaim sebagai biang demokrasi. Kalau kita mau bicara jujur, negeri yang menjadi identitas Blok Barat itu bukanlah siapa-siapa. Artinya, yang tinggal di negeri Adidaya itu bukanlah orang jauh. Mereka masih sangat dekat dengan kita, juga bangsa mana saja. Sebab dia adalah bagian dari kita. Kita yang bernama Italia, Ceko, Ghana, China, India, Inggris, dan bangsa-bangsa lain di dunia, termasuk Indonesia. Hanya komposisi jumlahnya saja yang berbeda, seperti yang terurai dalam mozaik Amerika.Jika AS adalah bagian dari Ceko, Italia, dan juga Ghana (di Grup E), maka kekalahan itu tidak bisa disebut sebagai ketidakmampuan pemain Amerika untuk memenangi pertandingan. Secara euphemistis kekalahan itu bisa dimaknai sebagai rasa hormat 'ras muda' terhadap ras asli nenek moyangnya.Kenapa Amerika Serikat begitu besar rasa hormatnya terhadap saudara tua? Apakah negeri itu memang telah mampu melahirkan generasi baru yang jenius sehingga beradab? Ternyata bukan itu jawabnya. Mereka hanya jengah, serta kuatir ditegur sombong karena menjadi kacang yang lupa kulitnya. Selain juga takut berubah jadi jambu monyet akibat tuah. Itu yang menjadi alasan, kenapa kesebelasan AS tidak dianggap berbahaya di kancah dunia. Namun adakah 'rasa hormat' tim Amerika Serikat terhadap saudara tua itu akan terus begitu? Tak ada yang mau melontarkan jawaban. Hanya, berdasar catatan yang ada, 'bangsa baru' itu memang santun tapi sekaligus juga manyun. Ia hormat kalau sangat dihormati. Tapi gampang marah dan mendendam jika sedikit saja disakiti.Berdasar watak itu, maka dalam laga Piala Dunia berikutnya Amerika diramal bakal tak lagi menerjunkan pemain yang biasa-biasa saja seperti sekarang ini. Duapuluh tiga Rambo akan disiapkan untuk itu. Mereka kini digodok di satu tempat untuk bersikap acuh tak acuh, salto, tendang, dan jika emosi, boleh tonjok dan serang.Adakah hanya itu? Tidak. Ada lagi persiapan yang dilakukan. Jika Rambo ternyata masih kedodoran di lapangan hijau, maka tiga personil Terminator diterjunkan. Mereka akan berubah bentuk sesuai kebutuhan. Menjadi kiper lawan untuk memasukkan bola ke gawang sendiri. Dan menjadi gelandang serang untuk menyerang daerah sendiri. Wah kayaknya makin ramai saja laga di Piala Dunia nantinya. Dan jika itu terjadi, maka pemain Indonesia yang selalu berkelahi tak perlu malu lagi. Soalnya, jika Amerika punya hasrat, bisa saja peraturan diubah, agar para pemain kita juga bisa bebas sanksi jika meninju pemain atau sang tukang semprit! Pritttt... dor!! ==*) Penulis adalah pemerhati masalah budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com (a2s/)











































