Kolom
Australia Ose Tra Lia
Kamis, 22 Jun 2006 10:25 WIB
Jakarta - Australia terlibat 'perang bubat' dengan Kroasia. Negeri Kanguru itu lolos jika menang, dan tersingkir kalau sampai kalah. Bagaimana kans calon 'saudara muda' kita itu, yang empat tahun ke depan masuk menjadi bagian dari gemuruh kompetisi di Asia sebelum tampil dalam Piala Dunia? Inilah komentar lurus dan miring tentang calon saudara kita itu.Australia amat lekat dengan Indonesia. Dalam 'perang dan damai', negara yang menjadi koloni Inggris itu selalu cawe-cawe. Jika dalam puluhan tahun silam negara yang ditemukan James Cook, pelaut Inggris itu curiga dengan konsep Nusantara yang diadopsi dari Sumpah Palapa Gajah Mada yang Australia masuk sebagai bagian Nusantara, maka era reformasi, negeri itu dengan gampang dan suka hati menerima pencari suaka politik dari negeri ini. Australia adalah negeri yang menerapkan standar ganda, begitu predikat yang diberikan banyak orang Indonesia.Australia mirip Benua Amerika. Ini merupakan 'pulau' besar yang hanya dihuni oleh penduduk kecil, yaitu suku Aborigin. Dalam sejarahnya, Inggris yang wilayahnya tak luas dengan banyak penduduk, kemudian melakukan kolonialisasi deportasi. Penduduknya, (maaf) yang nakal-nakal dideportasi ke Australia, dan jadilah benua Kanguru yang berkembang seperti sekarang.Di sekeliling benua Australia ini juga terdapat pulau-pulau kecil yang kemudian menjadi negara Commonwealth. Pulau-pulau itu tak ditemukan oleh pelaut Inggris, tetapi justru oleh pelaut Belanda, yaitu Abel Jansz Tasman. Tahun 1643 Abel menemukan Tasmania yang diberi nama Van Diemen's Land, dan kemudian menemukan Selandia Baru yang disebutnya Statesland. Namun Inggris yang menjadi 'raja lautan' kala itu kemudian mencaplok dan menjadikannya sebagai negara jajahan.Namun benarkah Australia dan pulau-pulau yang ada di dekatnya ditemukan bangsa Eropa? Sejarah boleh menuliskan begitu, tapi mitos dan keyakinan juga berhak untuk mengklaim dengan cara dan gayanya yang lain. Nah untuk yang terakhir ini kita acap bertanya-tanya tentang kebenarannya, dan masih membutuhkan jawaban dari para pakar kita.Dalam mitos dan kepercayaan orang Maluku, yang menemukan benua Australia bukanlah bangsa Eropa. Yang menemukan benua itu adalah orang yang ada dan hidup di dekat-dekat benua itu. Siapa dia? Dia adalah penduduk Maluku. Para nelayan kuno kita sudah akrab dengan Australia. Bahkan dalam keyakinan mereka, yang memberi nama benua itu juga mereka. Australia adalah kependekan dari Ose Tra Lia, bahasa Maluku yang artinya : "Saya sudah melihat."Apakah dengan begitu sudah cukup menyatukan Australia sebagai bagian dari Asia dalam Piala Dunia berikutnya? Tampaknya, soal kedekatan sejarah memang mudah untuk dipersatukan. Tapi soal tradisi dan budaya, maka Asia yang 'bukan Asia' itu harus banyak belajar tentang Asia. Belajar budaya Timur yang terbiasa dengan konotasi hiperbola, dan belajar idiom etika yang menjadi roh pergaulan di bangsa-bangsa Asia. Etika disini lebih pada cara. Sebab bagi kita, kadang tak begitu penting salah atau benar, tetapi yang terpenting semuanya tergantung cara penyampaiannya.Persoalan 'kecil' itu yang acap membuat kita minor dengan Australia. Dan mungkin juga sebaliknya. Hanya, jika Australia yang akan bergabung dengan Asia, dan bukan sebaliknya, maka bijak rasanya jika Australia yang harus mengalah, belajar bijak versi Asia.Tapi bagaimana kans Australia melawan Kroasia? Sebagai calon saudara, kita doakan Australia menang. Tapi melihat posisi Kroasia yang juga kritis, maka peluang keduanya fifty-fifty, sama. Selamat bergabung saudara muda! ==*) Penulis adalah pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. Alamat korespondensi via e-mail jok5000@yahoo.com (a2s/)











































