Kolom
Mestinya Prancis Contoh Gus Dur
Jumat, 23 Jun 2006 10:32 WIB
Jakarta - Apa yang kurang dari skuad Prancis di Piala Dunia 2006 ini? Torehan gol. Tumpulnya barisan depan Les Bleus menjadi faktor utama mandulnya mereka hingga saat ini. Jadi sudah seharusnya Thierry Henry cs mulai mengikuti kiprah Gus Dur. Kok?Melihat kiprah Prancis, mereka seakan tidak mengharumkan nama besar mereka sendiri sebagai satu-satunya negara yang bisa mengawinkan gelar juara Piala Dunia dan Piala Eropa dalam selang dua tahun. Bahkan saya bisa menyebut sebuah catatan prestasi yang tragis.Menilik ke belakang, di Piala Dunia 2002, Prancis sudah kehilangan momentum kesuksesan mereka di akhir 90-an. Buktinya mereka tidak lolos ke babak perdelapan final dengan tanpa mencetak satu gol pun ke gawang lawan.Untungnya dua tahun kemudian di Piala Eropa 2004 di Portugal, Prancis sedikit menemukan ketajamannya lagi. Tujuh gol berhasil dilesakkan Henry cs di babak kualifikasi grup B dan berhasil memuncaki klasemen dengan tujuh angka.Namun kesuksesan mereka terhenti di babak perempatfinal. Gol tunggal striker Yunani Angelos Charisteas di menit 65 membuat Prancis harus angkat koper dan kembali ke negaranya.Rupanya bayang-bayang kekalahan tersebut masih membekas jelas. Di Piala Dunia 2006 ini Prancis kembali ke siklus ketidaksuksesan mereka. Dua kali hasil seri dibukukan dengan hanya satu gol berhasil masuk ke gawang lawan. Melihat siapa yang mengisi barisan skuad Raymond Domenech, catatan tersebut cukup menyesakkan dada.David Trezeguet, Sylvian Wiltord, Louis Saha, Frank Ribery, Zinedine Zidane dan Thierry Henry masih belum juga menunjukkan tajinya. Baru Henry yang berhasil mencetak gol ke gawang lawan, yaitu Korea Selatan, itupun hanya satu.Lalu apa hubungannya antara mandulnya striker Prancis dengan Gus Dur?Tidak ada yang tidak kenal Ketua Umum PBNU ini. Sepak terjangnya di panggung sosial politik sudah melanglang buana hingga kawasan Asia Pasifik, bahkan mungkin Eropa dan Amerika.Mulai dari gaya kepemimpinannya, organisasi Islam yang ditukanginya yang lebih bersifat moderat dan liberal. Dan yang paling menarik adalah gaya bicaranya. Mulai dari Megawati Soekarnoputri (mantan presiden RI), Susilo Bambang Yudhoyono hingga Front Pembela Islam (FPI) dan Forum Betawi Rempug (FBR) sudah pernah merasakan pedasnya kritik dan 'senggolan' susunan kalimatnya.Pria kharismatik asal Jawa Timur ini begitu loyal 'menendang' kata-kata layaknya bola yang membuat orang atau lembaga yang menjadi 'lawannya' harus 'kebobolan' dan mencak-mencak. Tak peduli apapun pandangan sekitar, sosok bernama lengkap Abdurrahman Wahid ini selalu melontarkan kalimat bernuansa kritik, entah itu yang pedas atau mungkin membangun.Itulah yang seharusnya ditiru skuad Prancis. Tidak perlu malu-malu untuk melontarkan bola ke jala lawan hingga membuat lawan mencak-mencak. Tidak peduli bagaimana kondisi yang ada, dalam posisi tertekan atau tidak, bola harus terus ditendang ke arah gawang lawan. Siapa tahu bisa muncul gol.Jika tidak, nasib Prancis pun bisa sama seperti Gus Dur, lengser dari tampuk tertinggi pemerintahan dan digantikan oleh kekuatan lainnya, yaitu Megawati. Dalam hal ini Korea Selatan dan Swiss berperan menjadi Megawati -- kebetulan Korea, Swiss, dan Mega identik dengan warna merah -- sudah mulai mengambil langkah untuk melengserkan Prancis dari negara adidaya di cabang sepakbola.==*) Penulis adalah wartawan Detiksport. (ian/)











































