Kolom
Togo In Memoriam Togog
Jumat, 23 Jun 2006 11:28 WIB
Jakarta - Togo sudah hancur. Tanda-tanda itu sebenarnya tak sekadar distimulasi oleh Swiss dan Korea di Grup G, tetapi juga datang dari diri sendiri. Dalam jagat pewayangan, situasi internal Togo itu mimesis Togog. Personifikasi dari dewa buruk rupa penganjur kejelekan, yang tujuannya untuk mempercepat proses keruntuhan. Adakah Togo bisa pulang dengan kebanggaan karena bisa menang dan memulangkan Perancis secara dini? Atau justru Togo mengikuti jejak Togog, in memoriam Togo?Melihat Togo berlaga, memang seperti menyaksikan sketsa derita. Ada banyak penonton yang tak sengaja menitikkan airmata, lebih-lebih setelah ditekuk Swiss 0-2. Mereka iba melihat wajah-wajah polos para pemainnya yang sarat beban. Dan mereka saling mengoper masalah, menggocek harapan, serta menendang jauh-jauh keinginan, meskipun sudah bersusah payah menjangkau Jerman.Beban yang ditanggung tim Togo itu memang sulit untuk dilepaskan. Dengan fasilitas minim dan upah yang rendah mereka harus berangkat ke Jerman. Bela negara sekuat tenaga, dan terpaksa harus berkumpul dalam lingkaran gemerlap para bintang sepakbola yang bertabur uang. Dalam lingkungan macam itu, para pemain Togo terjangkit megalomania sindrom. Mereka merasa sama sebagai pemain kelas dunia, tetapi di luar profesionalisme itu, apa yang mereka terima dari negara sangat jauh diluar kewajaran. Itu yang mendatangkan protes pemain.Namun Togo bukanlah Inggris, Jepang atau Jerman. Negeri ini amat kecil dan miskin. Luas wilayahnya saja hanya 56.000 kilometer, bertetangga dengan Ghana, agraris, tetapi daerahnya yang sempit itu terbilang ganas, dipenuhi rawa-rawa serta bukit tandus. Dari sisi ekonomi, pendapatan negara yang tak seberapa itu, 60%-nya hanya cukup digunakan untuk membayar gaji pejabat pemerintah. Wajar juga jika tuntutan bonus para pemain bola itu ditolak mentah-mentah pemerintah setempat.Problem tanpa solusi ibarat bara api. Membakar apa saja dan berkembang ke mana-mana. Dan jika itu terjadi dari hari ke hari, maka akhirnya menyulut konflik demi konflik. Antar pemain tak jenak, pemain dan pelatih tak akur, dan semuanya menuding pejabat negara sebagai biang masalah, karena dari sanalah semuanya bermula. Situasi di luar lapangan rumput itu memang punya konsekuensi logis. Psikologi pemain yang tak ikhlas bermain telah menjadikan skenario permainan Togo berantakan. Kemampuan teknis amburadul, kerjasama antar-lini tak padu, dan bisa ditebak, Togo kalah dan kalah saban tanding. Kini kesebelasan Togo sudah tersingkir dari percaturan. Tapi hanya sampai disinikah konflik itu? Tampaknya perselisihan di lapangan itu akan berbuah panjang, dan memasuki wilayah rawan, yaitu politik. Negara Togo yang mendudukkan presiden punya otoritas penuh sebagai kepala pemerintahan, panglima tertinggi angkatan perang serta pembuat undang-undang tentu bakal memperpanjang urusan dari lapangan bola itu. Bisa saja para pemain Togo yang akhirnya gagal masuk putaran berikutnya itu menjadi bulan-bulanan dalam negeri, atau justru kasus itu mengundang reaksi destruktif para oposan untuk mengeruhkan situasi politik lokal. Jika itu terjadi, maka hanya gara-gara bola, ketentraman negara Togo terancam tidak kondusif. Dalam jagat pewayangan, kondisi macam itu dikenali melalui sosok ponakawan. Diturunkan dewa kembar yang lahir dari dalam satu telur, sebagai cerminan baik dan buruk. Satu bernama Togog menjadi simbol destruktif, sedang satunya lagi, Semar, adalah simbol konstruktif. Mereka membawa misi yang bertolak belakang, tetapi dengan satu tujuan, untuk menjaga ketentraman dan kedamaian mayapada. Dalam menjalankan misinya, Semar menjadi ponakawan Pandawa, berlaku sebagai batur, embat-embate pitutur. Memberi pandangan tentang kebaikan, dan menyadarkan jika sang majikan sedang berang dan tak berkewayangan. Sedang Togog, kendati jabatannya sama sebagai batur di keluarga Kurawa, tetapi pituturnya selalu berbisa, membawa kehancuran. Dewa buruk rupa ini terus mencurigai kebaikan, menganjurkan perang, dan juga mengajak untuk tanpa istirah melanggar HAM.Adakah dengan begitu Togo memang Togog? Atau di tengah situasi yang kini tidak kondusif itu Semar bakal menyeberang ke Togo untuk tampil menjadi penenang? Semua tak berharap Togo bakal memasuki dunia Togog di alam maya? Togo in memoriam Togog.Dan harapan untuk itu masih terbuka. Setidaknya, Prancis yang bermain jelek bisa dijadikan tumbal untuk menghapus segalanya. Menghapus aib pemain, melunakkan pemerintah Togo, serta menaikkan pamor negeri miskin ini yang berhasil memulangkan Prancis yang penuh kebesaran. Adakah mungkin? Ah, kenapa tidak?==Ilustrasi: Togog. Dewa buruk rupa dalam jagat pewayangan. (ist) (a2s/)











































