Cossack Tak Menangkan Ukraina

Kolom

Cossack Tak Menangkan Ukraina

- Sepakbola
Senin, 26 Jun 2006 13:22 WIB
Cossack Tak Menangkan Ukraina
Jakarta - Ukraina menantang Swiss dalam partai hidup mati. Jika dilihat dari sejarahnya, inilah pertemuan dua negara yang terbilang unik. Swiss negara netral, sedang Ukraina negara baru, pecahan Uni Sovyet.Memang itu berkah keterbukaan (glasnost) yang dilancarkan Gorbachov. Puluhan daerah yang masuk dalam uni Beruang Merah memisahkan diri. Mereka menjadi negara merdeka, dan mengatur pemerintahan sendiri. Etnis mayoritas terkatrol menjadi penguasa. Dan itu juga terjadi pada Ukraina.Foto: Pemain Hakan Yakin menggendong rekannya Alexander Frei.Negara yang terletak di Eropa Tenggara ini layak memisahkan diri. Ukraina adalah kawasan subur, kaya tambang, pusat industri, dan kota penting dari abad ke abad. Selain itu, daerah ini juga dihuni mayoritas orang Ukraina yang merupakan kelompok berkebangsaan Slavia dengan adat dan bahasa sendiri.Negeri ini lama ingin mandiri. Sejak abad keduabelas terpaksa batal karena invasi bangsa Mongol yang disebut Tartar. Seabad kemudian, eksistensi Ukraina kian kabur, karena Lithuania dan Polandia juga ikut merasa "punya" negeri yang menjadi pusat persinggahan bangsa-bangsa ini.Akhirnya, untuk mewadahi keinginan yang belum terpenuhi itu, warga pun membentuk serdadu independen yang disebut Cossack. Perannya bisa kemana-mana, tetapi juga bisa tidak kemana-mana. Cossack ini yang melakukan perlawanan terhadap Polandia yang kian mencengkeram.Kian banyaknya penguasa yang menguasai Ukraina dan melahirkan banyak pertikaian, maka Bohdan Khmelnytsky, pemimpin Cosscak akhirnya datang ke raja Ortodoks Timur Rusia. Ia minta penguasa itu memberi perlindungan.Hasilnya? Sami mawon (sama saja). Berhasil mengusir penjajah, sekaligus mengundang penjajah. Sejak tahun 1654 itu Ukraina dikuasai Rusia.Adakah dengan begitu semangat untuk merdeka telah pudar? Tentu tidak. Revolusi Bolsyewik di tahun 1917 yang mengokohkan pemerintahan komunis justru mengilhami pikiran orang-orang Ukraina untuk kembali memikirkan niatan memerintah negeri sendiri. Sayang, dari tahun ke tahun yang diramaikan dengan aksi demonstrasi dan rongrongan politik itu belum membuahkan hasil untuk mendirikan sebuah negeri.Untung, glasnost (keterbukaan) yang didengungkan Gorbachov, presiden Uni Sovyet kala itu memberi rangsangan serentak di wilayah-wilayah negara besar itu. Puluhan daerah memberontak, mereka meminta merdeka dengan jalan damai atau kekerasan. Akhirnya Uni Sovyet terpecah, dan Ukraina pun menikmati angin kebebasan.Ukraina bagi Uni Sovyet sangatlah penting. Berbagai kebutuhan hidup negeri Beruang Merah itu bergantung pada daerah ini. Mulai dari gula bit, gandum, hingga bahan tambang untuk kebutuhan industri. Taklah heran ketika terbebas dari Uni Sovyet, Ukraina cepat maju dan makmur. Mereka bisa menikmati kekayaan daerahnya untuk warga masyarakatnya.Kondisi Ukraina ini amat beda dengan negara tetangga yang dulu menjadi saudara kita, yaitu Timor Leste. Negeri itu kian terpuruk setelah memisahkan diri dari Indonesia. Itu karena sumber alam dan SDM yang rendah,banyaknya suku yang ada, serta kultur 'saling curiga' sisa Portugis yang lama memerintah dengan manajemen konflik belum sirna.Baik buruk Indonesia di Timor Timur dulu adalah hikmah. Untuk mengajak suku-suku yang tinggal di atas bukit atau di dasar lembah diterapkan pola untuwalang. Sebuah pola transmigrasi untuk menyatukan suku Kemak, Bunak, Dawan, Tetun dan sebagainya yang masih belum bisa menyatu. Untuk itu didatangkan transmigran asal Jawa, Flores, serta Bali. Hasilnya, sepanjang jalan raya dari Batu Gade hingga mendekati kota Dili tumbuh pemukiman pinggir jalan dengan panorama hijau royo-royo tanaman padi.Terus bagaimana dengan Ukraina? Simbol keberdayaan dan kemakmuran negara itu tersembul dalam prestasinya di Piala Dunia 2006 ini. Ukraina masuk sebagai salahsatu dari 32 negara finalis. Kini telah masuk 16 besar dan menuju posisi delapan besar tim terbaik dunia. Adakah Ukraina mampu menundukkan Swiss yang perkasa? Di atas kertas memang terkesan tidak mungkin. Tapi adakah juga tidak mungkin jika Tuhan berkehendak lain?==*) Penulis adalah pemerhati masalah budaya. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com (lom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads