Kolom
Awas Pisau Guilotin Perancis!
Selasa, 04 Jul 2006 08:30 WIB
Jakarta - Perancis masih perkasa. Secara spektakuler tim ini mampu menahan Brasil yang diunggulkan. Tendangan Thierry Henry yang indah menggoyang jala Dida, dan Brasil pun harus pulang sebelum waktunya. Adakah laga lawan Portugal nanti Perancis bakal segagah Napoleon atau justru bernasib tragis sedramatis Maria Antoinette?Kini, pasukan Maria Antoinette tetap bertahan di semifinal. Tim ini akan bertemu Portugal, negeri penjelajah lautan yang semula tak difavoritkan. Adakah Luis Figo bakal mampu mengubah permainannya setajam pisau guilotin (guillotine) untuk merajam Perancis?Atau justru Maria Antoinette yang punya mata lentik itu mampu memperdaya para pelaut Portugal? Perancis adalah kejayaan yang berkesinambungan. Dari jaman manusia purba yang hidup di gua-gua, hingga kini menjadi negara republik, tetap dipenuhi nuansa glamour dan indah. Mode dan film menjadi bagian dari negeri ini, juga parfum dan demokrasi moderat yang memberi jaminan 'lebih' bagi rakyatnya.Kota Marseille saja sudah dibangun 600 tahun sebelum Masehi oleh bangsa Yunani, dan terus berkembang dalam suka dan duka. Berbagai bangsa dan dinasti pernah hidup di negeri ini, memberi aroma Perancis sewangi bunga, dan juga se-anyir darah. Inilah negeri yang kebesarannya berkelanjutan, dan tetap masih netral di balik persekutuan negeri besar dalam memaksakan kehendak politik dalam dan luar negerinya.Namun di antara setumpuk kemegahan itu, Perancis juga menyimpan tragedi yang menyayat hati. Drama kemanusiaan pernah terjadi di negeri ini, dan itu tak terhapuskan hingga hari ini. Drama itu mungkin hukuman terkeji yang pernah dijatuhkan bagi petinggi negeri. Memenggal kepala orang dengan pisau guilotin, yang ditimpakan pada Marie Antoinette.Marie Antoinette adalah permaisuri Louis XVI. Sebelum Revolusi Perancis (1789), wanita yang suka foya-foya ini adalah sosok perempuan ambisius dan serakah. Ia sangat boros di tengah negeri yang ekonominya keropos. Serta terlalu campur tangan dalam urusan pengangkatan serta pemecatan pejabat tinggi negara. Dua sifat yang tak simpatik itu yang membuat Marie Antoinette menjadi musuh bersama.Pejabat hura-hura di tengah kemiskinan yang merajalela ibarat pemantik untuk lahirnya sebuah kerusuhan massal. Apalagi politisi kritis banyak ditangkapi, dan dipenjarakan tanpa jelas salah dan kapan bebasnya.Di tahun 1789, apa yang harus terjadi terjadilah. Revolusi Perancis meletus. Penjara Bastil diserbu rakyat. Tembok kokoh yang mengitari penjara ini dijebol, dan para politisi yang menghuni sel-sel dibebaskan. Situasi chaostis menyelimuti Perancis. Dan dalam revolusi itu, dogma fox populi fox dei benar-benar realitas yang tak terbantah.Dalam situasi pergolakan itu, tampillah Jean Paul Marat. Dokter kelahiran Swiss yang juga politisi revolusioner serta wartawan itu, mengobarkan nilai perubahan melalui koran yang dipimpinnya. Berkat agitasi medianya, dan kegigihan rakyat Perancis dalam berjuang merebut angin kebebasan, maka revolusi rakyat pun memperoleh bentuknya yang sempurna. Revolusi itu berhasil dengan gilang gemilang.Di kancah revolusi, apapun menjadi sah untuk terjadi. Rezim memerintah didakwa lawan. Dengan begitu, salah dan benar konotasinya adalah salah, karena yang tampil adalah semangat balas dendam. Pembunuhan jadi soal kecil, sebab jika mungkin, pembasmian sebuah dinasti pun taklah mustahil.Dan itu terjadi dalam keluarga raja Louis XVI serta sang permaisuri, Marie Antoinette. Mereka ditangkap di Puri Temple, ditahan, dan diajukan ke mahkamah revolusioner. Vonis yang dijatuhkan, keluarga raja ini harus ditumpas. Sang raja dibunuh, sedang Marie Antoinette dipenggal kepalanya secara keji.Kini, dalam laga melawan Portugal, adakah Perancis masih punya semangat revolusioner seperti revolusi Perancis yang heroic itu? Atau justru Portugal berhasil mengasah soliditas tim hingga setajam guilotin untuk mengeksekusi Perancis. Inilah laga yang sulit diprediksi, kendati ada sedikit yang yakin, Portugal akan memenangi laga ini. (lom/)











































