Kolom
Relijiusitas Sepakbola Khalil Gibran
Rabu, 05 Jul 2006 09:14 WIB
Jakarta - Jerman tersingkir. Tim Panser tinggal jadi tuan rumah yang baik pada laga final. Itu setelah dikalahkan 0-2 oleh Italia. Tak cuma rakyat Jerman yang kecewa, tapi juga para pendukungnya. Untuk itu, tangis dan air mata wajar tumpah sebagai ekspresi duka. Tapi adakah hanya duka yang tersisa dari sebuah kekalahan? Bagaimana dengan hikmahnya?Kalah dan menang dalam sepakbola adalah biasa. Tak perlu dihujat, apalagi dirutuki. Namun selama Piala Dunia 2006 ini ada catatan kecil yang perlu direnungkan kembali. Terdapat begitu banyak kegembiraan dan kesedihan, yang keduanya sama-sama mengundang keharuan.Untuk itu, ketika tim Brasil diunggul-unggulkan sebelum laga dipungkasi, sang pelatih, Parreira, jauh-jauh hari telah memberi statement yang bernada bahasa hati. Katanya, sepakbola itu laku seni, bukan matematika. Segalanya bisa terjadi di lapangan, termasuk kalah atau menang.Kata-kata itu rasanya amat benar. Dalam persoalan dunia, segalanya kadang ditumpukan pada kejeniusan logika. Saking besarnya kekaguman terhadap daya pikir itu, hingga tiap kejadian yang tak diprediksi terjadi tetapi terjadi, telah membawa dampak psikologis yang kronis. Emosional, frustrasi, dan sakit hati yang berkepanjangan.Padahal seluruh agama mengajarkan, bahwa tiap musibah pasti ada hikmah. Dan musibah (cobaan) itu bukan ditimpakan pada saban orang. Hanya orang yang kuat menerimanya yang mendapat cobaan. Sebagai imbalannya, yang mampu mengatasi cobaan itu derajatnya bakal dinaikkan.Dalam soal usaha manusia meraih angan dan cita-citanya ini, Khalil Gibran menuangkannya dalam tamsil yang indah. Ia mengibaratkan tentang anak. Katanya, anak itu ibarat anak panah. Ketika busur belum dilepaskan, kita ingin anak panah itu tepat mengenai sasaran. Sasaran yang sesuai dengan harapan.Namun ketika anak panah telah lepas dari busurnya, maka tak ada lagi yang bisa memastikan anak panah (logika) itu benar-benar menancap di sasaran atau tidak. Itu adalah urusan Yang Kuasa. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, sedang Tuhan yang menentukan, begitu kata pepatah. Dalam istilah kita, itu adalah takdir.Ordo Christiyah yang berpusat di India dengan elok menggambarkan tentang keterbatasan fisik dan akal manusia itu. Katanya, kekuatan fisik manusia terletak pada ototnya. Tetapi dalam keperkasaan itu terletak kerapuhannya. Jika gelas terus diisi air, tatkala penuh akan terbuang dengan sendirinya. Namun tidak demikian dengan manusia. Jika makan dan makan tanpa henti, perut memang mampu menerima. Tapi sejalan dengan itu, macam-macam penyakit pun bakal menggerogoti tubuhnya.Bagaimana dengan akal manusia sebagai makhluk paling cerdas yang terlalu meyakini kecerdasannya? Ini justru yang amat menakutkan. Ungkapnya, kecerdasan manusia merupakan letak kelemahannya. Dengan bersandar pada akal akan membawa manusia lupa pada Sang Pencipta. Dan alpa itu akar bencana. Sebab dari sanalah sumber kerusakan, baik alam, lingkungan, juga penyelewengan bermula.Namun sebagai paguyuban keagamaan, maka Ordo Christiyah memberi pembenar, bahwa semua itu terjadi karena tiga setan yang ngendon dalam diri manusia. Setan itu merangsang ego untuk membangkitkan keyakinan superioritasnya sebagai manusia, dan untuk itu, lawanlah setan dengan dasar keimanan.Fritjof Kapra, saintis terkenal, juga terang-terangan menguati pendapat itu. Ia menyebut, musim yang kacau, bencana alam yang tak bisa diprediksi, berbagai penyakit yang timbul, dan mungkin bakal terjadinya kiamat dini, semuanya ditimpakan pada para manusia yang jenius itu. Siapa dia? Dia adalah Descartes dan Newton.Kedua bapak pemikir itulah yang dituding sebagai sumber petaka. Dengan kejeniusannya mengkotak-kotak manusia dan alam raya, membukai rahasia di dalamnya, dan dengan ditumpangi manusia jenius lain yang bergerak di sektor ekonomi, dunia yang indah ini berubah menjadi dunia antah-berantah. Dunia porakporanda yang tak lagi mampu diurai otak manusia. Dalam bahasa Gibran, dunia kini macam 'kemana larinya kegelapan malam dan sirnanya terang hari'.Dari sepakbola, ternyata kita diingatkan untuk terus ingat. Sadar diri sebagai makhluk lemah, dan harus mengambil hikmah di balik kedukaan saat kalah. (lom/)











































