Kalah Tak Perlu Kalap

Catatan dari Jerman

Kalah Tak Perlu Kalap

- Sepakbola
Kamis, 06 Jul 2006 08:51 WIB
Kalah Tak Perlu Kalap
Dortmund - Ini cerita lain soal reaksi suporter ketika timnya mengalami kekalahan. Seperti kemenangan bukan segalanya, kekalahan pun bukanlah akhir dari kehidupan. Jadi, ya tak perlu kalap.Sewaktu Jerman tumbang di tangan Italia oleh gol Fabio Grosso dan Alessandro del Piero di menit 119 dan 120 di semifinal, saya menyaksikan pertandingan tersebut via layar raksasa di Fan Fest Dortmund, di tengah-tengah ratusan ribu orang yang mayoritas fans tuan rumah.Terus terang saya agak was-was karena suporter Jerman dikenal sebagai salah satu yang doyan bikin keributan. Ternyata, syukurlah, kecemasan saya tidak terbukti meskipun tak terhitung berapa gelas bir sudah mereka minum sejak empat jam sebelum bigmatch itu dimulai.Saya tidak bilang bahwa tidak ada riak-riak keributan sedikitpun usai pertandingan itu. Namun dari potensi yang amat besar itu, insiden-insiden kecil yang terjadi boleh dianggap tidak ada apa-apanya. Dari pantauan saya, hanya ada satu insiden yang sempat membuat saya mengambil jarak dari keramaian, ketika dua suporter Italia berkelahi dengan dua fans Jerman di depan Hauptbanhof atau stasiun keretaapi utama Dortmund.Yang menakjubkan adalah, lautan manusia yang ada di sekitar lokasi kejadian tidak terpancing. Fans tuan rumah yang jumlahnya amat banyak itu ternyata tidak tertarik untuk membantu teman-temannya yang sedang berbaku hantam dengan tifosi Italia, yang notabene baru saja menyingkirkan tim kesayangan mereka.Perkelahian itu cepat berakhir karena ada saja orang yang melerai, sementara yang lain tetap ngeloyor ke dalam stasiun untuk mencari tiket pulang.Di lokasi Fan Fest, warga Jerman lebih menyalurkan ekspresinya dengan diri masing-masing. Mereka kebanyakan menjadi "pendiam" atau menangisi kekalahan Lukas Podolski dkk yang menyesakkan dada itu.Mereka relatif tidak terganggu oleh kegembiraan kelompok-kelompok suporter Italia yang lalu-lalang di depan mereka. Paling-paling mereka hanya menggoyang-goyangkan jari telunjuknya ke arah fans rivalnya itu, atau sekadar melontarkan kata-kata, yang bisa jadi artinya tetaplah ejekan atau makian. Kalaupun direspons, itupun dengan omongan juga. Nah, karena tak mengerti bahasa masing-masing, jadi ya, santai-santai saja.Lebih dari itu, tidak. Jari tengah pun umumnya hanya diacungkan apabila mereka disorot kamera televisi. Situasi serupa saya saksikan pula di Waldstadion di Frankfurt, sewaktu Prancis bertarung melawan Brasil di babak perempatfinal. Dengan gaya dan cara masing-masing mereka asyik dengan diri dan kelompoknya sendiri-sendiri. Yang lebih hebat lagi, yang menang malah masih mau mengajak yang kalah untuk bersama-sama menari dan bernyanyi-minimal foto bersama."Orang-orang Eropa sering dianggap individualis, sombong. Tapi sebenarnya tidak mesti begitu. Mereka hanya tidak ingin mengganggu orang lain, karena salah satunya agar terhindar berurusan dengan polisi," demikian penjelasan rekan saya yang bernama Hendra Pasuhuk, warga Indonesia yang saat ini bekerja sebagai wartawan di radio Jerman Deutche Welle (DW).Hal seperti ini mau tidak mau membuat saya membandingkannya dengan dunia suporter sepakbola Indonesia. Di dalam stadion, jika tim tuan rumah kebobolan gol lebih dulu, suasana biasanya bisa mulai mencekam. Kendati tidak selalu, tapi bau kerusuhan gampang tercium. Tak heran, banyak penonton buru-buru pulang walaupun pertandingan belum selesai, takut-takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan setelah itu.Yang paling aneh buat saya adalah, sebagian suporter kita suka bikin onar tak peduli timnya baru kalah atau menang. Kalau kalah lalu rusuh mungkin bisa "dimaklumi", tapi menang kok rusuh juga?Seharusnya kita semua belajar dari Piala Dunia dan menerapkannya. Apalagi pelajaran tentang nilai-nilai ketertiban menikmati pertandingan sepakbola dan sporitivitas terus didapat dengan banyaknya siaran langsung pertandingan liga-liga Eropa di televisi. Tapi kenapa selama ini kita masih belum mau berubah, itu yang perlu ditanyakan pada diri masing-masing. (lom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads