Catatan dari Jerman
Nasionalisme Dadakan yang Luar Biasa
Senin, 10 Jul 2006 00:00 WIB
Dortmund - Tidak setiap pada perayaan Hari Kemerdekaan sebagian besar warga sebuah negara melakukan koor menyanyikan lagu kebangsaan mereka. Hanya Piala Dunia yang bisa menumbuhkan nasionalisme semacam itu.Saya menyaksikan sendiri bagaimana antusiasnya warga Jerman mengikuti lagi "Das Deutschlandlied" yang diperdengarkan sebelum Michael Ballack dan kawan-kawan memulai pertandingannya di Piala Dunia.Di dalam maupun di luar stadion, di setiap Fan Fest sampai di bar-bar dan kafe yang memasang pesawat televisi untuk umum, hampir semua orang berdiri, berangkulan pundak, dan bersama-sama menyanyikan lagu yang telah berusia hampir 200 tahun itu. Yang membawa bendera sambil mengibar-ngibarkannya, yang ingin lebih "heroik" segera menyempurnakan sikap berdirinya dan menyilangkan satu tangan ke dada. Di Fan Fest Dortmund, menjelang duel Jerman melawan Italia di semifinal, bahkan ibu-ibu pedagang minuman pun tak lupa mendendangkan lagu itu seraya melayani pembeli. Wajah mereka seperti dibalut rasa bangga, bahwa lagu nasional adalah milik bersama, yang menunjukkan identitas kebangsaan.Sesungguhnya semangat nasionalisme yang tampak vulgar di Piala Dunia tidak hanya dicuatkan penduduk setempat. Hampir semua suporter asli sebuah negara kontestan melakukan hal yang sama setiap kali lagu kebangsaan mereka diperdengarkan di dalam stadion.Tapi nasionalisme dadakan yang ditunjukkan warga tuan rumah merupakan fenomena tersendiri. Sejarah kelam Nazi dan Adolf Hitler-nya membuat orang Jerman malu mengusung masalah ini karena di tahun 30 sampai 40-an isu tersebut dimanipulasi kaum elit menjadi propaganda.Selama ini mereka lebih bangga membicarakan Jerman sebagai negara industri (otomotif), penghasil bir terbesar di dunia, sepakbola Bundesliga, penerbangan Lufthansa, atau paling hebat adalah reunifikasi Jerman Barat dan Jerman Timur.Tapi kedatangan Piala Dunia membuat Jerman hampir setiap hari bergelimang hitam-merah-kuning. Di mana-mana bendera Deutschland dibawa-bawa orang: di mobil-mobil sampai sepeda. Di rumah, apartemen sampai hotel, bendera yang sama dibentangkan. Di mana-mana juga terjadi gejala penyeragaman berpakaian. Orang lalu-lalang di mana-mana dengan baju hitam-putih, ciri khas kostum timnas, seakan-akan ingin mendeklarasikan kepada setiap orang bahwa "saya orang Jerman"."Buat saya ini sesuatu yang indah... sebuah pertanda bahwa negara ini kembali normal dengan pesat, bahwa orang tak lagi malu-malu menunjukkan kebanggaan bendera negaranya dan membalut tubuhnya dengan itu," demikian Presiden Jerman Horst Kohler mengungkapkan kebahagiaannya dengan fenomena ini.Semangat nasionalisme juga menjangkiti para pemain. Banyak di antara mereka buru-buru menghafal lagu "Das Deutschlandlied" agar bisa menyanyikannya sebelum kickoff bersama-sama puluhan ribu penonton, apalagi mereka akan disorot close up oleh kamera televisi. Pasti terlihat patriotik jika mereka dengan gegap gempita menyanyikan lagu kebangsaan itu, sama seperti sang pelatih, Juergen Klinsmann, meskipun selama ini tinggal di Amerika Serikat.Yang tak kalah fantastis, semangat kebersamaan langsung melekat kuat pada diri setiap warga Jerman. Ketika tim mereka dikalahkan Italia di semifinal, mereka tidak mencela para pemain atau pelatih. Di sela-sela airmata yang menitik, mereka tetap mengumandangkan koor "Deutschland... Deutschland...." Terus terang, bergetar hati saya mendengarnya kecintaan dan kebanggaan mereka pada timnasnya.Usai der Panzer mengalahkan Portugal di partai perebutan tempat ketiga, orang-orang turun ke jalan-jalan untuk menyambut para pahlawannya. Di Brandenburg Gate di Berlin, ratusan ribu fans tak henti-hentinya meneriakkan semangat kebangsaan dan memberi respek tertinggi atas perjuangan Klinsmann dan anak-anak buahnya."Dalam hati kami, kalianlah juara dunia!" begitu kata mereka. "Kami bangga pada kalian!" seru yang lain. Tabloid berpengaruh Bild am Sonntag pun besar-besaran menampilkan headline-nya bertuliskan "Anda adalah juara dunia kami."Menyaksikan semangat patriotik dan nasionalisme orang Jerman, tiba-tiba saya ingin sekali menyanyikan "Indonesia Raya" bersama-sama teman-teman dan saudara-saudara saya di seluruh tanah air, dan merasa bangga karenanya. (a2s/)











































