Burung Surga Piala Dunia

Kolom

Burung Surga Piala Dunia

- Sepakbola
Selasa, 11 Jul 2006 03:07 WIB
Burung Surga Piala Dunia
Jakarta - Piala Dunia 2006 tuntas sudah. Selama sebulan penuh hati dan rasa dipenuhi bunga. Menunggu laga tim yang disayangi, juga tim yang dibenci. Emosi ikut terkocok, kendati yang berlaga bukanlah negara, bangsa, teman, atau saudara kita. Piala Dunia telah berubah menjadi burung surga, yang selalu datang mengabarkan warta bahagia. Ya, Piala Dunia memang telah berubah menjadi burung surga. Dalam serat Jawa, burung surga yang dimaksud adalah Bayan Budiman. Ia raja burung yang bisa bicara laiknya manusia, pandangannya luas, selalu benar, dan tak ragu untuk mengingatkan siapa saja yang akan berbuat salah. Bayan Budiman dan pasukannya berjumlah 99 ekor. Dalam pengelanaan ia mendiami sebuah pohon besar yang rimbun. Pemikat burung yang jahat telah melumuri pohon itu dengan perekat. Semua pengikut Bayan berhasil lolos, tinggal dia seekor yang akhirnya tertangkap.Dari pemikat burung, Bayan dijual pada keluarga saudagar kaya raya. Yang laki sering berdagang antarnegara, dan Zaenab, istrinya yang cantik jelita, dibiarkan menunggu di rumah. Wanita ini yang terus-menerus mendapat batu ujian. Para pejabat daerah mengganggunya, dan menebar pesona agar wanita itu masuk perangkap cinta.Saat-saat cinta mulai terajut, Bayan yang ada di sangkar selalu memancing wanita itu dengan kisah-kisah yang memikat. Kisah itu tentang laku sejati seorang wanita, juga posisi makhluk dengan Tuhannya. Kisah itu dituangkan dalam bahasa yang indah, dengan diksi dan aksentuasi yang sempurna.Tujuannya memang sederhana, agar wanita itu membatalkan niatnya untuk kencan, dan mencegah tindakan-tindakan tak terpuji sebagai wanita, saat suaminya sedang tidak ada di rumah. Namun yang berkembang ternyata sangat luar biasa. Wanita itu jadi paham segalanya, yang membuatnya mampu mewujudkan keluarga yang sakinah. Berkat petuah yang diungkapkan Bayan melalui cerita liris yang kadang menyentuh hati, akhirnya Zaenab terselamatkan. Ia bisa bersabar menunggu suaminya pulang, ia tidak bersedih hati ketika niatnya berlaku maksiat tidak terpenuhi. Dan dalam mendampingi suami, Zaenab jadi wanita sejati yang menjadikan rumah sebagai surga bagi dia dan keluarga.Apakah ajaran Bayan Budiman yang mampu membawa wanita yang rapuh batinnya itu tampil sebagai sosok wanita idaman? Hanya tiga, inti dari petuah Bayan Budiman. Manusia yang ingin bahagia dunia akherat harus berlaku sabar, nrimo (menerima), dan tawakal. Untuk itu, dalam kembali pada kehidupan normal setelah Piala Dunia 2006 usai, petuah burung surga Bayan Budiman terasa menarik untuk memberi arah jalan. Rasa kehilangan memang pasti tetap bergelayut. Tapi jika gerak hati itu tak diikuti, maka segalanya akan kembali mengalir seperti sediakala. Sebab apa yang kita saksikan saat piala dunia kemarin, kini telah berubah menjadi fatamorgana. Sesuatu yang indah untuk dilupakan, tetapi terasa lebih indah lagi kalau memang bisa dilupakan. (a2s/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads