Ikut European Super League, MU dan Liverpool Malu-maluin

Yanu Arifin - Sepakbola
Senin, 19 Apr 2021 13:00 WIB
LONDON - OCTOBER 21:  A detailed view UEFA Respect logo prior to the UEFA Champions League Group D match between Chelsea and Atletico Madrid at Stamford Bridge on October 21, 2009 in London, England.  (Photo by Richard Heathcote/Getty Images)
Kompetisi European Super League dikecam karena melanggar prinsip fair play. (Foto: Getty Images/Richard Heathcote)
Jakarta -

Rencana digelarnya European Super League dikecam banyak pihak. Manchester United dan Liverpool, yang turut ikut serta, dinilai bikin malu.

Pada Senin (19/4/2021), 12 tim resmi menggagas European Super League. Mereka adalah enam raksasa Premier League yakni Manchester City, Manchester United, Chelsea, Liverpool, Tottenham Hotspur, dan Arsenal, kemudian tiga wakil Liga Italia yakni Juventus, Inter Milan, dan AC milan, serta wakil Liga Spanyol yakni Real madrid, Barcelona, dan Atletico Madrid.

Rencananya, 15 tim akan berlaga dengan status tim pendiri. Dan sisanya akan digelar lewat kualifikasi. Sekadar informasi, turnamen itu akan digelar tanpa mengenal sistem promosi atau degradasi.

European Super League berformat liga, yang terbagi dua grup. Masing-masing berisi 10 tim akan saling bentrok dalam pertandingan kandang-tandang. Nantinya, tiga tim masing-masing grup akan lolos ke perempatfinal, dan terus melaju sampai final.

Wacana kompetisi itu dikecam banyak pihak. Premier League, LaLiga, UEFA, dan bahkan FIFA menentangnya. Tak cuma itu, beberapa legenda sepakbola juga mengutuk habis turnamen garapan 12 tim elite Eropa tersebut.

Salah satunya Gary Neville. Eks bek Manchester United itu kesal betul mantan timnya ikut serta.

Ia menilai, tim yang sepakat gabung di European Super League telah mengkhianati sejarahnya sendiri. Peserta European Super League dinilai mencederai kecintaan suporter akan timnya, yang menjunjung perjuangan dalam mencapai prestasi.

"Reaksi terhadapnya adalah itu telah dikutuk dan memang demikian. Saya adalah penggemar Manchester United dan itu sudah berlangsung selama 40 tahun dalam hidup saya, tetapi saya merasa jijik, benar-benar jijik," kata Neville di Sky Sports.

"Saya paling muak dengan Manchester United dan Liverpool. Liverpool, mereka yang berpura-pura 'Anda Tidak Akan Pernah Berjalan Sendiri [You'll Never Walk Alone], klub rakyat, klub penggemar'. Manchester United, yang sudah berusia 100 tahun, lahir dari para pekerja dari sekitar sini, dan mereka menerobos masuk liga tanpa persaingan yang tidak bisa membuat mereka degradasi? Ini benar-benar aib."

"Sejujurnya, kami harus merebut kembali kekuatan di negara ini dari klub-klub di puncak liga ini. Dan itu termasuk klub saya," kecamnya.

Neville juga mengingatkan, dirinya ingin ada regulator independen yang bisa menghentikan European Super League. Menurutnya, kepentingan suporter juga harus dibela untuk menyaksikan timnya bersaing secara sehat.

"Saya telah menyerukan selama 12 bulan bagi regulator independen untuk memberlakukan pemeriksaan dan keseimbangan untuk menghentikan hal ini terjadi,"ujar Neville.

"Itu murni keserakahan. Mereka penipu. "Ada 100 tahun sejarah yang aneh di negara ini dari para penggemar yang mencintai klub-klub ini dan mereka membutuhkan perlindungan," katanya.

(yna/krs)