UEFA Ingin Hapus Aturan Gol Tandang di Liga Champions Musim Depan

Adhi Prasetya - Sepakbola
Sabtu, 29 Mei 2021 09:30 WIB
PARIS, FRANCE - APRIL 13: Neymar of Paris Saint-Germain battles for possession with Joshua Kimmich of FC Bayern Muenchen during the UEFA Champions League Quarter Final Second Leg match between Paris Saint-Germain and FC Bayern Munich at Parc des Princes on April 13, 2021 in Paris, France. Sporting stadiums around France remain under strict restrictions due to the Coronavirus Pandemic as Government social distancing laws prohibit fans inside venues resulting in games being played behind closed doors. (Photo by Matthias Hangst/Getty Images)
Bayern Munich disingkirkan PSG di delapan besar Liga Champions musim ini lewat aturan gol tandang. Foto: Matthias Hangst/Getty Images
Porto -

UEFA berniat menghapus aturan gol tandang di Liga Champions yang sudah bertahan lebih dari setengah abad. Sistem ini dianggap sudah usang.

Dilaporkan harian The Times, Sabtu (29/5/2021) WIB, keputusan ini diambil dalam rapat di Porto yang digelar sebelum final Liga Champions. Sekarang UEFA tinggal menanti rekomendasi dari komite eksekutif untuk memberi lampu hijau terkait penerapannya mulai musim depan.

Perubahan di dunia sepakbola, khususnya baru-baru ini, membuat keinginan menghilangkan aturan gol tandang semakin besar. Di tengah pandemi COVID-19, tak sedikit pertandingan yang dipindah ke tempat netral.

Contohnya laga 16 besar Borrusia Moenchengladbach vs Manchester City. Kedua tim bermain dua leg di stadion yang sama, yakni Puskas Arena, Budapest. Hal sama berlaku untuk laga RB Leipzig vs Liverpool.

Kasus lainnya yakni Atletico Madrid vs Chelsea, di mana Chelsea boleh bermain di Stamford Bridge, namun Atletico memainkan laga kandangnya di Arena Națională, Bukares.

Meskipun tempat netral itu dianggap sebagai kandang tim tertentu, namun tak adanya dukungan penonton membuat tekanan bermain sebagai tim tamu tak lagi terasa. Selain itu, mencetak gol tandang dianggap tak lagi sesulit di zaman dulu.

"Pemikirannya, sekarang ini tim-tim lebih mudah mencetak gol tandang dibandingkan tahun 1970-an atau 80-an, di mana ketika itu skor-skor pertandingan seringkali rendah dan atmosfer stadion lebih mencekam," jelas seorang sumber UEFA.

"Dulu visibilitas pertandingan yang terkait dengan wasit, kualitas lapangan, dan organisasi masih kurang. Zaman sekarang, keuntungan bermain di kandang tak lagi signifikan," sambungnya.

Aturan gol tandang pertama kali dipakai oleh UEFA pada 1965, dan berlangsung hingga sekarang. Musim ini, korban gol tandang adalah Juventus di 16 besar dan Bayern Munich di perempatfinal.

Ide penghapusan aturan gol tandang sudah pernah diutarakan bertahun-tahun lalu, namun selalu tak mendapat dukungan cukup. Jika jadi diterapkan musim depan, maka tak akan ada lagi laga dua leg di fase gugur yang memiliki agregat imbang.

Tak cuma di Liga Champions, aturan ini juga akan diterapkan di Liga Europa.

(adp/bay)