Ikat Kante Seumur Hidup, Chelsea!

Rifqi Ardita Widianto - Sepakbola
Senin, 31 Mei 2021 18:25 WIB
PORTO, PORTUGAL - MAY 29: Kevin De Bruyne of Manchester City and NGolo Kante of Chelsea battle for possession during the UEFA Champions League Final between Manchester City and Chelsea FC at Estadio do Dragao on May 29, 2021 in Porto, Portugal. (Photo by Carl Recine - Pool/Getty Images)
N'Golo Kante tampil dominan di lini tengah kala Chelsea menundukan Manchester City di final Liga Champions. (Foto: Getty Images/Carl Recine - Pool)
Jakarta -

Pujian terhadap N'Golo Kante terus mengalir menyusul keberhasilan Chelsea memenangi Liga Champions. The Blues diminta mempertahankan Kante seumur hidup.

Kante tampil gemilang dalam final Liga Champions di Estadio Do Dragao, Porto, Minggu (30/5/2021) dini hari WIB. Chelsea menang 1-0 atas Manchester City berkat gol Kai Havertz, tapi Kante memainkan perannya sendiri sebagai pemecah serangan lawan.

Gelandang 30 tahun itu nyaris berada di segala penjuru selama 90 menit. Squawka mencatat, N'Golo Kante memenangi 11 duel perebutan bola, 10 kali melakukan pemulihan bola, dua kali memotong umpan, dan tiga kali tekel sukses.

Ia krusial dalam menjahit lini tengah Chelsea sehingga solid dan tak tertembus Manchester City. Mantan bek Chelsea dan tim nasional Prancis Frank Leboeuf menyebut Kante sebagai pemain yang sangat berharga buat tim.

"Orang ini bernilai 1 miliar. Mustahil menjualnya. Orang ini harus bertahan di Chelsea seumur hidupnya. Dia sungguh monster," ungkapnya kepada ESPN FC dikutip Metro.

Tapi lebih dari N'Golo Kante, Leboeuf juga memuji kinerja para juniornya di Chelsea. Para pemain disebutnya bekerja sangat keras, berlari lebih jauh dari skuad Manchester City, untuk meraih kemenangan.

UEFA mencatat Chelsea menempuh jarak total 111,6 km, lebih banyak 1 km dari daya jelajah Manchester City (110,5).

"Semua orang melakukan apa yang harus mereka lakukan, semuanya. Bahkan Werner, yang melewatkan peluang, berlari seperti tak pernah terlihat sebelumnya," sambung pemenang Piala Dunia 1998 ini.

"Semuanya bekerja keras. Sementara mungkin buat Manchester City, mereka punya intensitas tapi tidak bisa menemukan kuncinya," kata Frank Leboeuf.

(raw/krs)