PSG Paling Apes Gegara Gol Tandang

Randy Prasatya - Sepakbola
Jumat, 25 Jun 2021 07:30 WIB
PARIS, FRANCE - APRIL 28: Keylor Navas of Paris Saint-Germain looks dejected after conceding their sides first goal scored by Kevin De Bruyne of Manchester City (not pictured) during the UEFA Champions League Semi Final First Leg match between Paris Saint-Germain and Manchester City  at Parc des Princes on April 28, 2021 in Paris, France. Sporting stadiums around France remain under strict restrictions due to the Coronavirus Pandemic as Government social distancing laws prohibit fans inside venues resulting in games being played behind closed doors. (Photo by Alex Grimm/Getty Images)
Paris Saint-Germain tiga kali tersingkir gegara kalah gol tandang. (Foto: Getty Images/Alex Grimm)
Jakarta -

Sejak 10 musim terakhir di Liga Champions, Paris Saint-Germain menjadi tim yang banyak dirugikan dari adanya aturan gol tandang. Kemudian ada Juventus dan Arsenal.

UEFA menghapus aturan gol tandang untuk semua kompetisi antarklub di Eropa. Keputusan ini mulai berlaku di musim 2021/2022.

Tim-tim yang memiliki agregat seimbang dari dua pertemuan, bakal berlanjut ke tambahan waktu 2x15 menit, tanpa mempertimbangkan banyaknya gol tandang.

Penghapusan gol tandang ini tidak cuma berlaku saat ada kedua tim bertemu di fase gugur. Dalam keterangan UEFA, gol tandang juga tidak dipakai dalam menentukan peringkat sebuah tim di fase grup andai ada dua atau lebih tim memiliki poin sama. Kriteria yang diutamakan adalah produktivitas gol.

Jika menarik mundur di 10 musim terakhir Liga Champions, PSG menjadi tim yang paling sering merana akibat adanya gol tandang. Klub asal Prancis itu tiga kali terdepak di fase gugur setelah pada 2012/2013 memiliki agregat 3-3 melawan Barcelona, namun kandas akibat imbang 2-2 saat menjadi tuan rumah di perempatfinal.

Kemalangan PSG berlanjut pada 2013/2014 melawan Chelsea di perempatfinal. Setelah menang 3-1 saat menjadi tuan rumah, PSG tersisih akibat kalah 0-2 di Stamford Bridge dan menjadikan agregat 3-3.

PSG merasakan hal yang sama pada 2018/2019 saat melawan Manchester United. Les Parisiens gugur di 16 besar dengan agregat 3-3 dari kemenangan 2-0 di Old Trafford, namun kalah 1-3 saat di kandang.

Juventus mengalami kerugian akibat gol tandang selama dua musim beruntun. Di mulai dari agregat 2-2 dengan Lyon pada 2019/2020 di babak 16 besar, berlanjut di 16 besar laga melawan Porto dengan agregat 4-4.

Duel melawan Porto mungkin yang paling menyakitkan untuk Si Nyonya Tua. Setelah kalah 1-2 di kandang lawan, Juventus membalas dengan skor 2-1 di Turin dan laga lanjut ke extra time.

Bianconeri kemudian kebobolan di menit ke-115, tapi berhasil membalas dua menit berselang. Waktu tidak cukup untuk Juventus menambah gol lagi dan harus tersingkir meski agregat seimbang.

Bayern Munich juga dua kali mengalami nasib sial tersebut. Klub asal Jerman itu kalah gol tandang di Liga Champions pada 2020/2021 melawan PSG dengan agregat 3-3 dan melawan Atletico Madrid pada 2015/2016 dengan agregat 2-2.

Arsenal dua kali kerugian akibat gol tandang, yakni melawan Bayern pada 2012/2013 dengan agregat 3-3 dan melawan AS Monaco pada 2014/2015 dengan agregat 3-3. Manchester City dua kali juga merasakan hal itu saat melawan Monaco dengan agregat 6-6 pada 2016/2017 dan melawan Tottenham Hotspur pada 2018/2019 dengan agregat 4-4.

Berikut data 10 musim terakhir fase gugur Liga Champions:

2011/2012
Marseille vs Inter Milan 2-2

2012/2013
Arsenal vs Bayern Munich 3-3
PSG vs Barcelona 3-3

2013/2014
PSG vs Chelsea 3-3

2014/2015
Arsenal vs Monaco 3-3
PSG vs Chelsea 3-3

2015/2016
Atletico vs Bayern Munich 2-2

2016/2017
Man City vs Monaco 6-6

2017/2018
Shakhtar vs Roma 2-2
Barcelona vs Roma 4-4

2018/2019
Man United vs PSG 3-3
Tottenham vs Man City 4-4
Tottenham vs Ajax 3-3

2019/2020
Juventus vs Lyon 2-2

2020/2021
Juventus vs Porto 4-4
Bayern Munich vs PSG 3-3

*Klub yang tertulis bold mengalami kekalahan akibat gol tandang



Simak Video "Turnamen Baru! UEFA Tampilkan Trofi Liga Konferensi Eropa"
[Gambas:Video 20detik]
(ran/yna)