Chelsea Vs Barcelona dan Teori Konspirasi Semifinal Liga Champions 2009

Yanu Arifin - Sepakbola
Kamis, 28 Apr 2022 13:17 WIB
LONDON, ENGLAND - MAY 06:  Frank Lampard of Chelsea argues with referee Tom Henning Ovrebo during the UEFA Champions League Semi Final Second Leg match between Chelsea and Barcelona at Stamford Bridge on May 6, 2009 in London, England.  (Photo by Clive Rose/Getty Images)
Foto: Clive Rose/Getty Images
Amsterdam -

Semifinal Liga Champions 2008/2009 antara Chelsea vs Barcelona cukup kontroversial. Guus Hiddink, manajer The Blues kala itu, punya teori konspirasi.

Semifinal Liga Champions 2008/2009 mempertemukan Chelsea vs Barcelona. Dari dua leg, Si Biru banyak diklaim dicurangi pada leg kedua.

Setelah berimbang 0-0 di Camp Nou, Chelsea ditahan Barcelona 1-1 pada leg kedua. Didier Drogba dkk akhirnya kalah gol tandang dan tersingkir.

Pada leg kedua, ada beberapa keputusan wasit Tom Henning Ovrebo yang dianggap merugikan Chelsea. Salah satunya adalah handball Samuel Eto'o di kotak penalti, yang diabaikan sang wasit.

Insiden itu memicu kemarahan besar semua pihak Chelsea, dari pemain sampai suporter. Drogba sampai marah-marah di kamera menyebut sikap wasit begitu memalukan.

Hiddink, yang ketika itu menjadi manajer Chelsea, punya semacam teori konspirasi soal mengapa Chelsea disingkirkan. Pria asal Belanda itu menilai UEFA tak mau ada dua tim yang sama kembali sama-sama ke final Liga Champions.

Pada musim sebelumnya, dua wakil Liga Inggris bisa ke final, yakni Chelsea vs Manchester United. Kemudian semusim berselang, MU bisa kembali ke final usai menyingkirkan Arsenal, sementara Chelsea akhirnya angkat koper dengan cara yang kontroversial.

"Itu kekecewaan besar. Kami menahan tim Barca yang sangat bagus dengan hasil imbang 0-0, kemudian memimpin di kandang dan memiliki peluang untuk mencetak lebih banyak, tetapi tidak bisa," kata Hiddink, dilansir Daily Mail.

"Kami juga memiliki beberapa banding penalti untuk handball yang jelas, tetapi wasit mengabaikannya. Beberapa orang berpendapat itu sudah diatur. Sementara jauh di lubuk hati saya tidak percaya itu, mungkin itu satu-satunya saat saya mulai meragukannya."

"Chelsea dan Manchester United telah bermain di final tahun sebelumnya, dan dengan dominasi Liga Premier, saya memiliki beberapa teori konspirasi. Sepertinya UEFA yang ingin menghindari dua tim yang sama mencapai final lagi," katanya.

(yna/nds)