ADVERTISEMENT

Kepolisian Paris Tanggung Jawab soal Kerusuhan di Final Liga Champions

Yanu Arifin - Sepakbola
Jumat, 10 Jun 2022 02:08 WIB
Paris -

Kerusuhan sempat terjadi di luar arena final Liga Champions. Kepolisian Paris mengaku bertanggung jawab atas kejadian itu.

Final Liga Champions 2021/2022, yang mempertemukan Liverpool vs Real Madrid, disorot karena sempat terjadi kericuhan di luar Stade de France, Paris, 29 Mei WIB. Fans Liverpool dan kepolisian ribut, yang bermula dari masalah tiket.

Awalnya, pengecekan tiket dikabarkan terlalu lama, sampai membuat penumpukan antrean di pintu masuk. Alhasil, banyak yang telat masuk ke tribune, sampai akhirnya kick off dimundurkan sekitar setengah jam lebih.

Kemudian, fans yang tak bisa masuk sempat ribut dengan kepolisian di luar arena. Banyak yang memaksa masuk ke stadion, yang ditanggapi dengan represi aparat.

Kepolisian menyemprotkan merica ke suporter dan gas air mata. Kejadian itu dikritik keras Liverpool, dan UEFA sendiri langsung menggelar investigasi.

PARIS, FRANCE - MAY 28: Police spray tear gas at Liverpool fans outside the stadium as they queue prior to the UEFA Champions League final match between Liverpool FC and Real Madrid at Stade de France on May 28, 2022 in Paris, France. (Photo by Matthias Hangst/Getty Images)Keributan suporter Liverpool dengan polisi di luar venue final Liga Champions. Foto: Matthias Hangst/Getty Images

Pada Kamis (8/6/2022) waktu setempat, Didier Lallement, Kepala Kepolisian Paris, mengaku bertanggung jawab atas kejadian itu.

"Sebagai kepala polisi, saya satu-satunya yang bertanggung jawab atas ketertiban dan keamanan umum di wilayah Paris," kata Lallement, dilansir Inside the Games.

"Oleh karena itu, saya bertanggung jawab penuh atas manajemen kepolisian pada hari Sabtu 28 Mei.

"Saya cuma pihak yang memperhitungkan situasi. Mereka yang bertindak melakukannya di bawah tanggung jawab saya," katanya.

Sebelumnya, Kementerian Dalam Negeri Prancis sempat menuding banyak fans Liverpool yang memegang tiket palsu. Dalam klaimnya, sebanyak 40 ribu Liverpudlian memegangnya.

Hal itu kemudian diluruskan Lallement. Ia mengatakan jumlahnya tak sebanyak itu di lapangan.

"Angka tersebut tidak memiliki dasar ilmiah, tetapi berasal dari keterangan polisi dan pejabat transportasi umum. Mungkin saya salah, tapi itu dibangun dari semua informasi yang dikumpulkan, terangnya.

"Apakah ada 30.000 atau 40.000 orang, itu tidak mengubah apa pun. Yang penting adalah ada orang, dalam jumlah besar, yang mungkin mengganggu petugas penyaringan yang tepat."

"Tapi kami menghitungnya dengan tepat hingga 5.000, dan itu tidak banyak berubah," jelasnya.

(yna/pur)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT