Arsenal sempat protes meminta penalti untuk 'pelanggaran' terhadap Noni Madueke di babak tambahan sewaktu melawan Paris Saint-Germain di final Liga Champions, namun tak digubris wasit Daniel Siebert. The Gunners mengomentari hal tersebut usai laga.
Duel di Puskas Arena, Budapest, Sabtu (30/5/2026) itu berjalan ketat dan hati-hati. Kedua tim cenderung rapat dalam bertahan sambil mencari celah di pertahanan lawan untuk dieksploitasi.
Usai bermain 1-1 di waktu normal berkat gol Kai Havertz dan penalti Ousmane Dembele, Arsenal tampak mendapat kans untuk unggul saat Madueke terjatuh di kotak penalti pada menit ke-102 akibat kontak dengan Nuno Mendes.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Arteta: Sulit Rasanya Menerima Kekalahan Ini |
Madueke saat itu melakukan tusukan dari sayap kanan menuju kotak penalti sebelum terjatuh. Namun Siebert tak melihat itu sebagai pelanggaran, bahkan tidak mengecek monitor. Video Assistant Referee (VAR) juga tampak tak memberi imbauan untuk melakukan hal itu.
Arsenal protes keras. Gelandang Declan Rice dan manajer Mikel Arteta terbawa suasana hingga mendapat kartu kuning. Namun usai laga, keduanya sudah lebih tenang menyikapi insiden itu.
"Saya menonton ulang tayangannya dan itu bisa saja menjadi penalti. Wasit telah membuat keputusan itu; dia membuat keputusan berbeda untuk penalti terhadap Mosquera dan ya, itu keputusan yang penting," ujar Arteta, dikutip The Guardian.
Arteta merujuk penalti PSG yang dicetak Dembele, yang bermula dari pelanggaran Cristhian Mosquera terhadap Khvicha Kvaratskhelia. Pada momen itu memang jelas terjadi pelanggaran, bahkan sudah dikonfirmasi VAR.
Sementara Rice mengaku ia memprotes wasit murni karena apa yang terjadi di lapangan. "Saya belum melihat tayangan ulangnya. Sekilas, di lapangan, saya pikir itu mirip dengan penalti yang kami dapatkan saat melawan Bayer Leverkusen."
Look at this challenge from any angle. Mendes comes across Madueke's body and brings him down.
β Goaldata - Arsenal Zone (@ArsenalZNE) May 30, 2026
Clear penalty for Arsenal but Daniel Siebert decides against giving it. pic.twitter.com/l5aQzHEfXC
"Saya tidak akan membahasnya lebih lanjut. Saya sangat kecewa saat itu - saya pikir wasit akan melihatnya, tetapi ternyata itu tidak cukup jelas untuk menjadi penalti."
Rice merujuk pada duel 16 besar leg pertama melawan Leverkusen yang berakhir 1-1. Arsenal mendapat penalti usai Madueke dilanggar Malik Tillman. Momen saat itu pun mirip karena Madueke melakukan tusukan dari sisi kanan. Bedanya, saat itu kontak Tillman terhadap Madueke lebih jelas.
Menurut penilaian detikSport, insiden itu memang terlalu abu-abu untuk diganjar penalti. Madueke juga terlihat memegang tangan Mendes meski juga ada senggolan lutut Mendes. Posisi kontak yang memicu Madueke jatuh pun tak begitu jelas apakah sudah di dalam atau masih di luar kotak penalti.
(adp/krs)










































