Kembali ke Kandang Kita

Catatan Sepakbola

Kembali ke Kandang Kita

- Sepakbola
Rabu, 01 Des 2010 12:07 WIB
Kembali ke Kandang Kita
Jakarta - Baiklah. Hari pulang ke rumah sudah tiba. Hari untuk meraih kemenangan sudah datang. Hari untuk memeluk sebuah piala sudah di depan mata. Semestinya, tak ada yang lebih indah kecuali "pulang".

Sepakbola Indonesia sudah lama mencari-cari prestasi. Sembilan belas tahun adalah rentang waktu yang teramat lama dalam pencarian dan pengembaraan itu. Medali emas yang dibawa dari Manila pada SEA Games 1991Β  sudah seperti "prasasti bisu" -- dia sejarah penting, tapi sudah tidak berbicara apa-apa.

Negeri ini sudah harus bicara lagi di lapangan hijau. Tidak perlu jauh-jauh sampai di level Piala Dunia, tapi cukuplah dari yang terdekat dulu: Asia Tenggara. DanΒ AFF Suzuki Cup atau Piala AFF 2010 menjadi sebuah "rute pulang" untuk membawa kemenangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kita sudah tahu sejarah kehebatan Indonesia di kawasan Asia di masa lampau. Sayangnya, ini adalah sekarang. Dan sekarang kita bahkan bukan yang paling menakutkan di Asia Tenggara, tak cuma di cabang sepakbola tapi juga olahraga secara keseluruhan, karena selalu ada negara ASEAN lain yang berada di atas Indonesia di SEA Games dan Asian Games.

Di Piala AFF -- sebelumnya bernama Piala Tiger -- pencapaian terbaik pasukan "Garuda" hanya runner up tiga kali dari tujuh edisi. Terakhir, dua tahun lalu, Indonesia finish di bawah Singapura di fase grup yang digelar di Jakarta. Lolos ke semifinal, Bambang Pamungkas dkk kalah agregat 1-3 dari Thailand.

Kini kesempatan itu datang lagi, dan kesempatan itu lebih emas karena timnas akan memulainya di negeri sendiri, di Stadion Gelora Bung Karno yang sudah dikenal dunia sebagai salah satu stadion di Asia dengan atmosfer paling bergelora. Sekarang tinggal bagaimana langkah pertama diambil, dimulai malam ini (1/12/2010), saat Indonesia menjajal Malaysia, lalu Laos dan Thailand.

Tim "Merah Putih" dipimpin seorang Austria bernama Alfred Riedl. Semestinya dia sadar betul arti piala kemenangan untuk negara ini. Jika berhasil, ia akan masuk buku sejarah Indonesia sebagai orang asing yang bisa memberikan sesuatu untuk tim sepakbolanya, seperti kali terakhir dilakukan Anatoli Polosin (Uni Soviet) di tahun 1991. Ia bisa lebih berkibar namanya ketimbang Ivan Kolev dan Peter Withe, misalnya lagi.

Tapi ini bukan soal Riedl. Ini tentang sekelompok pemain terbaik yang dimiliki negeri ini. Lebih jauh lagi tentang sebuah sistem persepakbolaan dalam negeri. Apakah sudah membaik dan bisa menapak ke jenjang yang lebih baik.

Sejauh ini Riedl dinilai memberi impresi positif. Kekalahan 1-7 dari Uruguay memang tidak perlu dihitung, karena kasta kita terlalu jauh dengan semifinalis Piala Dunia 2010 itu. Tapi kemenangan atas Timor Leste dan Taiwan lebih realistis untuk dijadikan sebuah tolok ukur persiapan tim.

Dia juga sudah "memenangi" konflik dengan pengurus PSSI, ketika ia dinilai "tidak memberi efek apa-apa" oleh ketua umum PSSI Nurdin Halid, di empat bulan awal masa kerjanya. Ia bahkan disebut "tidak tahu adat" oleh Andi Darussalam Tabusala, ketika ia menyuruh dokter tim tidak ikut nimbrung dalam briefing pemain, padahal ia merasa punya wewenang.

Tapi Riedl tetap menunjukkan kekuasaannya dengan mencoret Boaz Solossa karena dinilai tidak punya komitmen dalam berdisiplin untuk kepentingan timnas. Dan kali itu PSSI tidak kuasa mencegah keputusan dia, meskipun penyerang Persipura itu adalah salah satu pemain terbaik di nusantara saat ini.

Riedl juga telah melakukan perubahan di dalam skuad, dengan menggabungkan pemain senior dan muda. Nama-nama yang sebelumnya terdengar asing untuk timnas, sudah menjadi bagian dalam tim Piala AFF. Mereka adalah Benny Wahyudi, Yesayas Desnam, M. Nasuha, Zulkifili Syukur, Ahmad Bustomi, Oktovianus Maniani, Toni Sucipto, Yongki Aribowo, dan Johan Juansyah.

Untuk pertama kalinya timnas dihuni oleh pemain "setengah" Indonesia. Orang Uruguay bernama Cristian Gonzales, yang lama malang melintang sebagai salah satu penyerang terbaik di Liga Indonesia, direstui untuk menjadi warga Indonesia. (Catatan: ia menikah dengan seorang wanita asal Indonesia bernama Eva Nurida Siregar di tahun 1995, menjadi mualaf, dan memilih Mustafa Habibi sebagai nama Islamnya).

Begitu pula dengan Irfan Bachdim. Pria 22 tahun blasteran Indonesia-Belanda itu akhirnya bergabung dengan timnas, setelah lama diwacanakan demikian. Bachdim diharapkan menularkan mentalitas bermain di Eropa karena pernah bersekolah di akademi Ajax dan FC Utrecht.

Kini Rield dan anak-anak buahnya akan memulai pekerjaannya, bekerja untuk menghasilkan sesuatu yang menyenangkan dan membanggakan fansnya. Sebagian kalangan berpendapat, saat ini masyarakat lebih membutuhkan hasil ketimbang proses, karena sepakbola nasional sudah terlalu lama terpenjara dalam musim kemarau prestasi. Sialnya, proses itu dinilai sebagai buah dari sistem pengelolaan sepakbola yang tak kunjung membaik. Jika timnas masih gagal pula berprestasi tinggi di Piala AFF tahun ini, barangkali bukanlah tim yang harus bertanggung jawab, melainkan PSSI. Timnas cuma produk dari sebuah sistem yang lebih besar, yang diurus induk organisasi sepakbola di tanah air itu.

Tapi itu masih bisa ditunggu sampai 29 Desember. Riedl dan pasukannya mesti dibiarkan fokus ke lapangan, mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya. Fans niscaya mendukung mereka habis-habisan. Soal ini, tidak diragukan lagi. Biarpun masih "norak" karena kerap bentrok di level klub, tapi urusan dukung-mendukung tim nasional, suporter Indonesia patut diacungi jempol. Ini karena kecintaan masyarakat pada sepakbola sudah begitu mendarahdaging.

Kecintaan itulah yang membuat harapan melihat sebuah piala dimenangi Indonesia selalu terpelihara oleh fansnya. Apalagi Piala AFF 2010 adalah sebuah kesempatan emas karena diadakan di depan mata kepala mereka sendiri.

Tiga tahun lalu kita memunculkan slogan yang sangat kuat dan penuh kepercayaan diri. "Ini Kandang Kita", sewaktu Indonesia menjadi salah satu tuan rumah gelaran Piala Asia 2007. Kali ini slogan itu bisa dipakai lagi, demi harapan yang tak pernah mati.


==


(Keterangan foto: Suasana latihan timnas Indonesia di bawah arahan pelatih Alfred Riedl menjelang turnamen Suzuki AFF Cup 2010. (detiksport/ Resha Pratama) (a2s/roz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads