sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Selasa, 12 Jul 2011 14:38 WIB

Catatan Sepakbola

Berdamai dengan Masa Lalu

- detikSport
Jakarta - Ibarat sebuah bangunan, masa lalu adalah sebuah fondasi bagi masa kini, dan masa kini merupakan landasan untuk waktu mendatang. Lalu bagaimana bila masa masa lalu berlangsung kelam? Berdamai dengan waktu lalu adalah jawabannya.

Di hari pertamanya berkantor (10/7/2011), ketua umum PSSI yang baru terpilih, Djohar Arifin, langsung menanyakan mengapa tidak ada foto ketua sebelumnya, Nurdin Halid, di kantor PSSI. Mantan staf ahli Kemenpora ini langsung memerintahkan foto "Sang Puang" untuk dipasang.

Nurdin boleh jadi adalah ketua umum PSSI yang memiliki citra paling rendah di masyarakat. Kegagalan demi kegagalan, tudingan menggunakan tim nasional Indonesia untuk kepentingan politik golongan tertentu, hingga tidak jelasnya pertanggungjawaban penggunaan dana PSSI merupakan masalah yang ditinggalkan oleh kepengurusan NH.

Apa yang dilakukan oleh Djohar merupakan salah satu bentuk bagaimana kepengurusan PSSI yang baru ini berusaha untuk berdamai dengan masa lalu. Memang perintah pemasangan foto Nurdin bukanlah sesuatu keputusan signifikan bagi persepakbolaan Indonesia.

Bahkan perintah tersebut mungkin sifatnya hanya sebuah hal simbolis saja. Namun di balik itu semua, ada sesuatu hal yang sangat penting, yakni usaha kepengurusan PSSI yang sekarang untuk berdamai dengan masa lalu.

Harus diakui, masa lalu, sekelam apa pun itu, adalah fondasi bagi masa depan. Tanpa masa lalu, tak mungkin ada masa sekarang dan masa depan.

Satu hal yang sudah pasti ditinggalkan oleh masa lalu adalah kenangan. "Banyak orang menggunakan ingatan sebagai cara menuntun dirinya dalam kehidupannya sekarang; mau seperti apapun, mau kapanpun dia hidup, dia menggunakan ingatan. Sehingga waktu itu ditenagai oleh emosi. Ingatlah satu waktu di masa lalu kalau Anda tidak mengingatnya dengan emosi," demikian dituliskan motivator Mario Teguh di situs www.salamsuper.com mengenai bagaimana Berdamai dengan Masa Lalu

"Selalu orang kalau menyebut waktu disebutnya dengan kekuatan emosi. Berarti kita kalau mau hidup lebih baik di masa depan, emosi yang kita pilih untuk mentenagai waktu, harus emosi yang baik. Jadi bukan ingatan yang kita gunakan untuk hidup, tetapi sebaiknya pengertian yang baik," lanjut Mario.

Semangat rekonsiliasi memang hal yang diusung oleh Djohar di masa kepemimpinannya. "Kita semua setuju rekonsiliasi. Kita lupakan yang lalu, mari kita sama-sama satukan langkah, satukan visi menuju Indonesia gemilang," ujar pemain PSMS Medan era 1970-an itu kepada wartawan usai penutupan KLB PSSI di Solo akhir pekan kemarin.

Memaafkan masa lalu adalah sesuatu yang positif. Namun hal lain yang tak kalah pentingnya adalah tidak melupakan masa lalu, karena dari sana kita bisa belajar agar tidak lagi melakukan kesalahan serupa.

Selamat bertugas, PSSI 2011-2015.




(nar/a2s)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com