11 April 2001, MU tengah mempersiapkan diri untuk melakoni laga "hidup atau mati" melawan Bayern Munich. Ketika itu kedua tim tengah bentrok di babak perempatfinal Liga Champions dengan Bayern menang 1-0 pada leg pertama di Old Trafford.
MU butuh kemenangan, setidaknya, dengan selisih dua gol untuk lolos ke perempatfinal. Atau, dalam pandangan tanpa kalkulasi dari Keane--yang memang punya sifat keras--, wajib menang apapun alasannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
The Red Devils kalah 1-2 dalam laga di Munich itu dan tersingkir. Jangan ditanya betapa kecewanya Keane.
Keane memang seperti itu. Sudah banyak contoh sebelum dan sesudah masa itu bahwa dirinya memprioritaskan kebanggaan di atas segala hal. Dan kemenangan, baginya, adalah kebanggaan itu.
Ia pernah menghardik Juan Veron, ketika si gelandang ajaib asal Argentina itu salah memberikan operan yang akhirnya menyebabkan kemenangan MU buyar. Ia juga tak segan mengritik rekan sendiri setelah MU kalah 1-4 dari Middlesbrough pada satu waktu di tahun 2005. Kritik terbukanya itu ia sampaikan melalui televisi pribadi klub, MUTV, sampai membuat telinga Sir Alex Ferguson ikut merah.
Pada lain cerita, ia pernah sengaja mencederai Alf-Inge Haaland di sebuah laga melawan Manchester City. Dalam autobiografinya, pria asal Republik Irlandia itu menyebut, tekel kasarnya adalah sebuah balasan untuk perlakuan Haaland di tahun 1998. Kala itu, Keane yang tengah tergeletak cedera di lapangan, diteriaki Haaland dengan tudingan hanya berpura-pura cedera setelah bermaksud menekelnya.
Begitulah Keane. Tanpa tedeng aling-aling. Persetan dengan basa-basi, mungkin demikian gambaran tepat dari sifat dan karakternya.
Dan karakter tersebut ditunjukkannya lagi pada tengah pekan ini. Bisa jadi Keane gemas melihat permainan MU ketika menghadapi Basel di laga penentuan untuk mereka. MU kalah 1-2 pada laga tersebut dan gagal lolos dari putaran grup. Maka, keluarlah komentar pedas itu.
"Sejujurnya saya pikir (tersingkir) sudah mencerminkan laju MU, mereka tidak mencetak gol yang cukup dan mereka tidak bisa mengalahkan Basel atau Benfica," kritik Keane dalam ulasannya di ITV.
"Orang-orang bicara mengenai pemain muda--ada (Phil) Jones, (Chris) Smalling, (Ashley) Young yang masuk, semua orang memuji-muji mereka, tapi mereka punya banyak tugas, itu kenyataannya. Saya akan menyerukan kepada mereka dan bilang, 'Kalian jangan terbuai dan fokuslah'. Malam ini MU mendapatkan hasil yang pantas," lanjutnya kemudian.
Komentar itu setidaknya cukup untuk membuat telinga Sir Alex kembali merah. Sampai-sampai manajer asal Skotlandia itu membalas kritikan sang mantan anak buah. "Kami punya cukup pemain-pemain muda bagus yang bisa meloloskan kami. Saya sangat memercayai mereka," ucapnya.
Keane, orang yang memenangi trofi lebih banyak dari kapten MU lainnya, menunjukkan betapa dirinya masih punya ikatan kuat dengan klub yang sudah membesarkan namanya itu. Jika dirinya masih menjadi bagian dari skuad 'Setan Merah' saat ini, entah hardikan macam apa yang akan dilontarkan terhadap rekan-rekannya di lapangan. Andai Sir Alex juga ikut melupakan kemarahan di dalam ruang, malam di St Jakob Park itu bisa jadi adalah salah satu malam terberat dalam karier para pemain MU.
Kini, MU harus menerima akibat dari kegagalan tersebut: turun kasta turnamen dengan bermain di Liga Europa. Bagaimana reaksi Keane? Entahlah. Belum ada komentarnya soal hal ini. Namun, yang jelas, Keane pernah mengangkat trofi Community Shield dengan tampang datar-datar saja ketika MU memenanginya pada 2003.
------
Penulis adalah wartawan detiksport. Beredar di dunia maya lewat akun twitter @rossifinza
(roz/din)











































